Kejadian erupsi Gunung Marapi pada Minggu (3/12/2023) lalu meninggalkan duka mendalam bagi sebagian orang dengan tak sedikitnya korban yang meninggal dunia. Salah satu korban adalah Zhafirah Zahrim Febrina alias Ife, seorang mahasiswi di Politeknik Negeri Padang meninggal dunia pada Minggu (17/12/2023), tepat dua minggu setelah kejadian.
Kejadian yang menimpa Ife itu pun menuai perhatian dan rasa simpati untuk berduka cita kepada korban dan keluarganya, tak terkecuali dari kalangan pejabat publik. Ucapan turut berduka cita bisa diungkapkan dengan banyak cara, semisal memberikan karangan bunga.
Akan tetapi, ada yang menyita perhatian publik, yakni pemberian karangan bunga dari salah satu caleg DPRD Kota Padang kepada Zhafirah Zahrim Febrina salah satu korban Gunung Marapi. Pasalnya, foto caleg tersebut beserta logo parpol malah ikut terpampang di karangan bunga itu.
Foto karangan bunga yang ada foto caleg DPRD Kota Padang itu pun kini beredar luas hingga viral di media sosial. Seperti salah satu akun yang membagikan unggahan tersebut adalah @tanyarlfes di Twitter atau X.
Dalam unggahan itu terlihat karangan bunga dengan ucapan turut berduka cita atas wafatnya Zhafirah Zahrim Febrina yang menjadi salah satu korban dari peristiwa erupsi Gunung Marapi.
Diketahui, caleg yang memberikan karangan bunga bernama Rahmat Saputra yang merupakan calon legislatif (caleg) DPRD Kota Padang pada Daerah Pemilihan (Dapil) 2 Kuranji dari partai Nasdem. Sayangnya, di karangan bunga itu malah ada terpampang foto caleg yang bersangkutan dan bahkan ada pula logo partai yang mengusungnya.
“Parah banget gak sih, konteksnya ini kirim karangan bunga buat korban merapi (Ife) tapi karangan bunganya ada foto dia (caleg) udah gitu senyum lagi,” tulis sebagai keterangan unggahan, dikutip dari akun X @tanyarlfes pada Jumat (22/12/2023).
Kondisi demikian itu jelas saja bisa menuai perhatian publik, sebab dirinya sebagai seorang caleg malah menempelkan foto dirinya pribadi di karangan bunga korban meninggal dunia. Persepsi publik bisa banyak macam, apalagi musim ini tengah panas-panasnya kampanye untuk menuju pada Pemilu 2024 yang jatuh pada 14 Februari mendatang.
Foto caleg di karangan bunga tersebut seketika menjadi bahan gunjingan dan menuai kritikan pedas dari warganet. Terlebih lagi, ukuran nama si caleg terpampang lebih besar daripada nama korban.
"Nama almh. lebih kecil dari pengirimnya, apa nggak kebalik. Yang artinya..." tulis @lun***.
"Astaghfirullah, minimal tau situasi. Rasa simpati aja gada, gimana bisa jadi wakil rakyat?" tambah @Dua***.
"Bisa-bisanya masih ngambil kesempatan di karangan berduka cita, dikira dengan nama beliau lebih besar dan ada fotonya begitu, masyarakat udah pasti milih???" ungkap @die***.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Prabowo, Reformasi yang Capek, dan Mimpi Orde Transformasi
-
Tertimpa Kasus Bukan Kiamat: Cara Perusahaan Bangkit dari Krisis
-
PPN Naik, UMKM Diuji: Disuruh Kuat atau Dibiarkan Sekarat?
-
Stop Bilang "Bukan Saya": Mengapa Masbro Juga Bertanggung Jawab Atas Budaya Pelecehan
-
Bukan Generasi Stroberi yang Rapuh, Mungkin Kita yang Terlalu Cepat Menilai
Artikel Terkait
-
5 Potret Jadul Maureen Christy Mantan Istri Gideon Tengker, Aura Cantiknya Terpancar sejak Dulu
-
Ria Ricis Hempas Teuku Ryan dari Foto Keluarga Setelah Ramai Isu Keretakan Rumah Tangga
-
Suami Diperiksa Terkait Kasus Dugaan Korupsi, Jennifer Dunn Gandeng Tangan Anak
-
Raffi Ahmad Pasang Tarif Fantastis Buat Iklankan Caleg, Lebih Gede Ketimbang Harga Rumah di Kawasan Andara
-
Dibocorkan Hengky Kurniawan, Tarif Raffi Ahmad Promosikan Caleg Bikin Syok: Fantastis!
News
-
Tragedi Lansia di Pekanbaru: Ketika 'Mantan Keluarga' Rancang Skenario Maut Demi Harta
-
Di Tengah Ramainya Malioboro, Komunitas Andong Ini Terhubung Lewat Selapan
-
Hari Buruh Sedunia: Perjuangan Pekerja Melawan Jam Kerja yang Mencekik
-
Sisi Gelap Internet: Ketika Privasi Menjadi Ruang Nyaman bagi Para Predator
-
Rekor Baru! Sabastian Sawe Jadi Manusia Pertama Lari 42 Km di Bawah 2 Jam
Terkini
-
Generasi Sekarang Semakin Jarang Jalan Kaki, Kenapa?
-
Saatnya Mengaku: Kita Scrolling Bukan Mencari Hiburan, Tapi Lari dari Kenyataan
-
Paradoks Digital Nomad: Penyelamat Ekonomi atau Penjajahan Modern?
-
Suara Kerekan dari Sumur Tua di Belakang Rumah Ainun
-
Menyusuri Gelap Kota di Taksi Malam: Antara Realita dan Moral yang Rapuh