M. Reza Sulaiman | Sherly Azizah
Ilusi Kemakmuran Paylater (Nano Banana/Gemini AI)
Sherly Azizah

Kita sedang hidup pada era saat kepuasan instan hanya sejauh satu ketukan di layar ponsel. Kemudahan fitur Buy Now Pay Later (BNPL) telah mengubah wajah konsumsi anak muda Indonesia secara radikal, dari pemenuhan kebutuhan menjadi impulsivitas murni.

Namun, di balik kemudahan "beli sekarang, bayar nanti" yang tampak seperti penyelamat di akhir bulan, tersimpan ancaman sunyi yang siap meledak pada masa depan. Fenomena ini dibedah secara komprehensif dalam jurnal berjudul "Buy now, pay later consumer credit behavior: impacts on financing decisions" yang diterbitkan dalam Qualitative Research in Financial Markets.

Penelitian tersebut menyoroti bagaimana perilaku kredit konsumen BNPL secara signifikan memengaruhi keputusan pendanaan jangka panjang dan potensi risiko kredit yang sering kali diabaikan oleh pengguna muda.

Kita harus melihat bahwa paylater bukan sekadar inovasi teknologi finansial, melainkan mesin pengeruk keuntungan yang dengan cerdik memanfaatkan bias psikologis manusia. Dengan memecah harga barang menjadi cicilan-cicilan kecil yang tampak "tidak terasa", rasa sakit saat mengeluarkan uang (pain of paying) seolah-olah hilang. Kita merasa mampu membeli barang mewah atau tiket liburan hanya karena cicilannya terlihat setara dengan harga segelas kopi kekinian.

Namun, akumulasi dari puluhan cicilan "seperempat harga kopi" ini tanpa disadari telah menggerogoti lebih dari separuh pendapatan bulanan dan menciptakan lubang hitam dalam arus kas pribadi.

Masalah paling fatal dalam ekosistem BNPL bukan hanya terletak pada bunganya yang akumulatif, melainkan pada ketidaktahuan masif pengguna bahwa setiap keterlambatan pembayaran akan tercatat secara permanen dalam sistem pelaporan kredit.

Pada tahun 2026, integrasi data keuangan antara tekfin (fintech) dan perbankan konvensional telah mencapai titik yang sangat ketat. Skor kredit yang buruk akibat gagal bayar cicilan barang recehan di paylater akan menjadi "dosa asal" yang sulit dihapus dalam riwayat Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK).

Bayangkan sebuah skenario tragis: keinginan Anda untuk memiliki rumah melalui KPR atau kendaraan melalui kredit bank pada masa depan harus kandas hanya karena Anda pernah lalai membayar cicilan pesanan makanan atau skincare pada masa lalu.

Tajamnya ironi ini semakin terasa ketika kita melihat bagaimana industri BNPL memasarkan produknya dengan narasi "pemberdayaan" dan kebebasan finansial. Padahal, yang terjadi sering kali adalah sebaliknya: perbudakan finansial terselubung.

Anak muda dipaksa bekerja keras bukan untuk membangun aset atau investasi, melainkan untuk melunasi bunga dari gaya hidup yang sebenarnya berada di luar jangkauan ekonomi mereka. Kita sedang meminjam kebahagiaan dari hari esok untuk menutupi rasa minder hari ini, tanpa sadar bahwa bunga yang kita bayar adalah kemerdekaan finansial kita sendiri pada masa depan.

Selain itu, terdapat persoalan tanggung jawab perusahaan penyedia jasa dan minimnya regulasi perlindungan konsumen yang progresif. Kemudahan verifikasi yang hanya memakan waktu hitungan menit tanpa pengecekan kemampuan bayar (creditworthiness) yang ketat adalah resep bencana sosial.

Perusahaan seolah membiarkan generasi muda terjun ke jurang utang asalkan angka pertumbuhan pengguna (user growth) mereka terus naik untuk memuaskan investor. Tanpa edukasi finansial yang jujur dan radikal, paylater hanya akan menciptakan generasi yang tampak kaya di media sosial, namun secara fundamental "cacat" dalam catatan perbankan.

Kita perlu sadar bahwa skor kredit adalah reputasi moral-ekonomi di dunia modern. Merusaknya demi pemuasan ego sesaat adalah tindakan impulsif yang sangat mahal harganya. Sudah saatnya kita berhenti melihat paylater sebagai uang tambahan atau dana darurat, dan mulai melihatnya sebagai beban kewajiban yang harus dipertanggungjawabkan secara hukum.

Jangan sampai hanya karena satu aplikasi di ponsel, akses Anda terhadap pembiayaan strategis untuk masa depan—seperti modal usaha atau pendidikan—terkunci rapat hanya karena keteledoran pada masa muda. Kedaulatan finansial dimulai dari keberanian untuk berkata "tidak" pada keinginan yang melampaui kemampuan dompet. Paylater mungkin menawarkan jembatan kemudahan, tetapi kemandirian finansial sejati hanya bisa diraih melalui disiplin diri dan kesadaran penuh akan konsekuensi jangka panjang.

Jangan biarkan masa depan Anda tergadaikan oleh fitur cicilan yang tampak manis, namun di baliknya tersimpan potensi kehancuran reputasi kredit yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dipulihkan.