Sebanyak 219.513 hektare area di Indonesia terindikasi terbakar sepanjang Januari hingga Juli 2026. Luasan tersebut setara dengan lebih dari tiga kali luas daratan Jakarta, dengan lonjakan paling tajam pada Juli di tengah kuatnya El Nino.
Temuan tersebut diungkap MADANI Berkelanjutan dalam Dialog Media "Menuju Indonesia Tenggelam dalam Asap: Ancaman Karhutla di Tengah El Nino Kuat 2026". Berdasarkan analisis spasial Area Indikatif Terbakar (AIT), luas area terindikasi terbakar melonjak sebanyak 15.474 hektare pada bulan Juni menjadi 124.040 hektare.
"Lonjakan AIT pada bulan Juli menunjukkan dengan jelas bahwa kita tidak bisa menunggu kebakaran menjadi besar untuk merespons," ujar Deputy Director MADANI Berkelanjutan, Giorgio B. Indrarto.
Menurutnya, sekarang ini informasi mengenai iklim sudah tersedia. Namun, tantangannya adalah menjadikan informasi tersebut sebagai landasan untuk mempertajam tindakan pencegahan di wilayah berisiko tinggi.
Dari total area terindikasi terbakar, sekitar 129,9 ribu hektare (59,21%) berada di kawasan hutan. Pada Juli saja, AIT di kawasan hutan 55,6 ribu hektare di hutan produksi, sebesar 14,3 ribu hektare di hutan konservasi, 7,7 ribu hektare di hutan lindung, dan seluas 22,2 ribu hektare di kawasan Key Biodiversity Area (KBA).
Api Menerobos Ekosistem Gambut dan Wilayah Moratorium
Api turut menjalar ke ekosistem gambut. Tercatat 81,8 ribu hektare area gambut terindikasi terbakar, hampir seluruhnya ada di hamparan gambut dengan mayoritas kerusakan ringan hingga berat. Sementara itu, sekitar 76,8 ribu hektare AIT menerobos area moratorium hutan (PIPPIB), dan 71,5 ribu hektare di wilayah Rencana Operasional FOLU Net Sink 2030.
"Ketika area yang terbakar menembus ekosistem gambut, PIPPIB, dan Rencana Operasional FOLU Net Sink, penanganan karhutla bukan lagi soal teknis pemadaman api. Pencegahan ini sangat menentukan tercapainya komitmen iklim Indonesia di tingkat global," kata Lead Program Iklim dan Ekosistem MADANI Berkelanjutan, Yosi Amelia.
Tumpang Tindih dengan Area Perizinan dan Konsesi
Selain menyerang kawasan hutan dan lahan gambut, analisis MADANI juga menemukan sekitar 90 ribu hektare (41%) AIT tumpang tindih dengan wilayah perizinan dan konsesi. Irisan terbesar ada di izin sawit, yakni 35 ribu hektare. Kemudian disusul oleh izin migas sebesar 19 ribu hektare. Lalu pada PBPH sebanyak 16,5 ribu hektare.
Meskipun demikian, MADANI Berkelanjutan menegaskan bahwa hasil tersebut tidak berarti membuktikan korporasi sebagai pembakar. Sebaliknya, yayasan tersebut menuntut pengawasan ketat dan transparansi dari pemegang izin.
MADANI Berkelanjutan mendesak pemerintah untuk menjadikan perkembangan AIT sebagai peringatan untuk mempererat pencegahan karhutla selama kemarau. Mereka menilai bahwa pengendalian karhutla perlu bergerak lebih kuat dari pendekatan reaktif menuju pencegahan berbasis data, karakter bentang alam, dan perkembangan musim di masing-masing wilayah.
Baca Juga
-
Tanah Bekas Tambang Ternyata Masih Punya Kehidupan, Ini Temuan IPB
-
Generasi Muda Harus Melek Tradisi: Bagaimana Topeng Blantek Tetap Eksis?
-
Tinggalkan Gawai Sejenak, Nikmati Akhir Pekan yang Tenang Bersama The Write and Wonder Club
-
Membaca, Memahami, dan Merefleksi: Seni Menjaga Fokus di Tengah Serbuan Gawai
-
Ketika Layar Dimatikan, Persahabatan Baru Dimulai: Inspirasi dari Komunitas Lets AFK
Artikel Terkait
-
Karhutla Picu 151 Ribu Kasus ISPA, Kemenkes Kerahkan 1.898 Tenaga Kesehatan
-
Media Singapura Sorot Tukang Becak hingga UMKM Sengsara karena Kebakaran Hutan Sumatra
-
Media Asing: Karhutla Bikin Kas Indonesia Jebol Rp123,1 Triliun, Rp93,56 T Habis untuk Ini
-
Prabowo Mau Perberat Sanksi Pelaku Karhutla
-
Kekeringan Parah Melanda Sri Lanka, Angkatan Udara Terbangkan Biksu untuk Berdoa Minta Hujan
News
-
Humor yang Membunuh Sains: Menyoal Sentilan Prabowo dan Narasi Anti-Intelektual
-
World Cleanup Day 2026, Trash Ranger Menggerakkan Anak Muda Peduli Sampah
-
Ubah Keresahan Jadi Karya, Ayu Rianna Berbagi Tips di Yoursay Writing Class
-
Proses Kreatif Wregas Bhanuteja: Lawan Klise Mistik Horor di KHFF 2026
-
Hidupkan Cagar Budaya, Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Gelar KHFF 2026
Terkini
-
Bye Jerawat Meradang! 4 Hybrid Sunscreen Heartleaf Kontrol Produksi Sebum
-
Heboh Pernikahan Andre Taulany dan Amanda Rigby: Ketika Selisih Usia Jadi Cermin Standar Ganda Kita
-
Stigma Tubuh Perempuan dan Warisan Tabu dalam Bahasa Sehari-hari
-
FIFA ASEAN Cup: Pertaruhan Hidup-Mati Bagi John Herdman di Timnas Indonesia
-
Review Film Soulmate: Pahami Bahwa Belahan Jiwa Tak Selalu Kekasih Romantis