Hayuning Ratri Hapsari | Fairus Farizki
Ilustrasi pelajar keracunan MBG. (AI)
Fairus Farizki

Kasus dugaan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi. Kali ini, ratusan santri di Pondok Pesantren Manbaul Hikam Putat, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur, mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi makanan MBG pada Selasa (1/9/2026).

Badan Gizi Nasional (BGN) menyebut insiden tersebut terjadi di MTs dan MA Manbaul Hikam Putat. Dalam rilis resminya pada Rabu (2/9/2026), BGN menyatakan ratusan siswa telah mendapatkan penanganan medis dan sebagian masih menjalani perawatan.

BGN belum menetapkan penyebab insiden tersebut. Pemeriksaan dan investigasi masih dilakukan bersama Dinas Kesehatan untuk memastikan sumber masalah dalam penyediaan makanan MBG.

“Yang pertama adalah melakukan tindakan investigasi dengan Dinas Kesehatan terkait. Hasilnya nanti akan kita umumkan apa yang menyebabkan terjadinya keracunan,” kata Deputi Pemantauan dan Pengawasan BGN, Ketut Sumedana, dalam keterangan yang dirilis secara resmi oleh BGN, Rabu (2/9/2026).

BGN Suspend SPPG Selama 30 Hari

Sebagai langkah awal, BGN menjatuhkan suspend berat selama 30 hari terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Talangangin, Kalitengah, Sidoarjo, yang menjadi penyedia makanan dalam insiden tersebut.

BGN juga mengusulkan pencopotan dan pergantian kepala SPPG sebagai bagian dari evaluasi pengelolaan layanan MBG.

“Kami juga mengusulkan kepada Kepala SPPG tersebut untuk dilakukan pencopotan sekaligus pergantian,” ujar Ketut. 

Meski sanksi telah diberikan, BGN menegaskan proses investigasi masih berlangsung. Artinya, penyebab pasti munculnya keluhan kesehatan pada para santri belum dapat disimpulkan sebelum pemeriksaan selesai.

BGN menyatakan keselamatan penerima manfaat menjadi prioritas dalam penanganan kasus tersebut. Para siswa yang masih membutuhkan perawatan juga menjadi perhatian lembaga selama proses penanganan berlangsung.

Pakar Minta Pengawasan SPPG Diperketat

Di tengah proses investigasi tersebut, Dede Nasrullah, pakar kesehatan masyarakat sekaligus Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan UMSurabaya, meminta pengawasan terhadap SPPG diperketat. Dalam pernyataan resmi yang diterbitkan UMSurabaya pada Kamis (3/9/2026), ia mengatakan pemeriksaan perlu mencakup seluruh rantai penyediaan makanan. 

“Semua proses harus diperiksa. Kalau ditanya penyebabnya apa, banyak, bisa dari sanitasinya, mulai dari bahan makanan, proses memasak, penyimpanan, sampai makanan diterima dan dikonsumsi,” ujar Dede dalam keterangannya yang diterbitkan secara resmi oleh Universitas Muhammadiyah Surabaya, Kamis (3/9/2026).

Dede juga mendorong pemerintah melibatkan pihak independen dalam pengawasan pengelolaan SPPG. Menurutnya, pemeriksaan independen dapat membantu memastikan standar keamanan pangan diterapkan secara objektif.

Ia menilai program MBG tetap perlu didukung, tetapi aspek keamanan pangan harus menjadi perhatian serius agar kejadian serupa tidak berulang dan kepercayaan masyarakat terhadap program tersebut tetap terjaga.

Sementara itu, proses investigasi atas insiden di Manbaul Hikam masih berjalan. Dengan demikian, jumlah penerima yang terdampak serta penyebab pasti kejadian masih menunggu pendataan dan pemeriksaan lebih lanjut dari pihak berwenang.