Penumpukan sampah plastik yang dari tahun ke tahun kian meningkat sepertinya memang menjadi permasalahan yang tidak akan pernah selesai hingga saat ini.
Melansir dari data yang dirilis oleh United Nations Environment Programme (UNEP), jumlah sampah plastik di dunia yang masuk ke ekosistem alam, khususnya ekosistem akuatik pada tahun 2016 silam mencapai angkat 14 juta ton, berpotensi meningkat sekitar 2 kali lipatnya pada tahun 2040 mendatang atau mencapai angka 24-30 ton. Hal ini tentunya bukanlah perkara yang dianggap sepele karena dapat mempengaruhi keberlangsungan ekosistem di bumi.
Tidak dapat dipungkiri, kebiasaan masyarakat yang masih bergantung kepada benda dan peralatan plastik dalam kehidupan sehari-harinya memang menjadi salah satu faktor terbesar penyumbang limbah plastik harian di dunia.
Bayangkan saja, mulai dari penggunaan plastik paling sederhana untuk kantong makanan dan barang, hingga penggunaan industry skala besar memang masih banyak menggunakan plastik sebagai bahan utamanya.
Tidak heran berton-ton sampah plastik selalu diproduksi setiap harinya dan seakan-akan tidak pernah berhenti berproduksi. Ironisnya, jumlah sampah plastik yang kian tak terkontrol tersebut tidak diimbangi dengan kemampuan pengelolaan limbah plastik secara masif. Kita bisa ambil contoh di Indonesia.
Melansir dari data yang dirilis oleh Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), menyebut sekitar 21 juta ton sampah plastik nasional, hanya 13, 9 juta ton yang dapat terkelola dengan baik di tahun 2022.
Sisanya sekitar 7,1 ton justru tidak terkelola dengan baik dan tidak sengaja masuk ke alam. Hal inilah yang dikhawatirkan di masa depan dapat memicu efek domino dari perubahan ekologis alam yang dapat membawa dampak negatif bagi kehidupan manusia.
Limbah Plastik Dapat Menganggu Ekosistem Hayati Secara Berkelanjutan
Keberadaan limbah sampah plastik yang masuk ke alam tentunya dapat menjadi permasalahan serius apabila masuk secara tidak sengaja ke dalam tubuh manusia melalui hal-hal yang seringkali dikonsumsi.
Bayangkan saja, air sehari-hari yang kita minum tanpa sadar tercemar dari limbah sampah plastik yang tidak bisa larut dengan mudah dan justru berubah menjadi partikel seukuran atom ke dalam tubuh.
Belum lagi makanan dari alam seperti jenis ikan-ikanan yang bisa terpapar sampah plastik secara tak langsung pula mampu menginfeksi jaringan manusia melalui pengonsumsian ikan-ikan atau hasil laut tersebut.
Pencemaran limbah plastik di dalam lautan memang menjadi permasalahan serius dalam kurun beberapa dekade terakhir. Hal ini tidak hanya menyebabkan terpaparnya beberapa jenis ikan konsumsi, namun juga menyebabkab beberapa jenis fauna dan biota laut mengalami kepunahan dan terancam.
Sudah Saatnya Meninggalkan Kebiasaan Menggunakan Plastik
Sejatinya meminimalisir penggunaan sampah plastik dalam kehidupan sehari-hari memang cukup mudah dilakukan. Melansir dari laman resmi World Health Organization (WHO), pengurangan limbah plastik rumahan bisa dilakukan dengan meminimalisir penggunaan kantong plastik dalam penggunaan sehari-hari.
Tidak dapat dipungkiri, sampah kantong plastik memang cukup mendominasi di dunia. Murah dalam segi pembuatan dan cukup serbaguna membuat banyak orang cukup susah untuk terlepas dari sampah plastik.
Sejatinya banyak cara untuk melepaskan diri dari ketergantungan kantong plastik tersebut. Mulai dari membawa kantong sendiri yang terbuat dari bahan yang mudah larut seperti kertas. Hingga membawa kantong sendiri yang terbuat dari bahan yang awet semacam kain.
Namun, yang menjadi permasalahan utama adalah menanamkan pola pemikiran dan kebiasaan baru tersebut yang memang cukup susah dilakukan dan perlu waktu lama.
Akan tetapi, apabila penerapan cara mengurangi sampah plastik paling sederhana tersebut dapat dilakukan secara masif dan berkelanjutan, bukan tak mungkin jumlah sampah plastik di dunia dalam beberapa tahun kedepan akan menurun. Tentunya hal ini perlu perhatian dari seluruh pihak, baik lembaga terkait, pemerintah dan juga masyarakat khususnya.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Menanti Debut Tim Geypens di Timnas: Terganjal Polemik Paspor atau Kalah Saing dari Calvin Verdonk?
-
Skandal Paspor Juga Muncul di Belgia, Ragnar Oratmangoen dan Joey Pelupessy Gimana Nasibnya?
-
Luke Vickery Resmi Diproses Naturalisasi, Siapa Bakal Tergeser di Timnas Indonesia?
-
Minim Menit Bermain di Persija, Shayne Pattyanama Berpeluang Hengkang?
-
Gacor di Liga Belanda, Dean Zandbergen Bisa Jadi Opsi Timnas Indonesia di Lini Depan?
Artikel Terkait
-
5 Langkah Sederhana Less Waste, Yuk Coba Terapkan!
-
Kurangi Karbon dan Limbah dengan Slow dan Circular Fashion, Emang Bisa?
-
Selamat Hari Bumi! Less Waste, Bahasa Cinta untuk Bumi Kita
-
Mulai Sustainable Living dari Mana? 5 Kebiasaan Ini Bisa Kamu Terapkan
-
Hati-Hati! Ini 4 Kesalahan Umum saat Memulai Sustainable Living
Rona
-
Harmoni dalam Perbedaan: Refleksi Nyepi dan Dinamika Idulfitri di Indonesia
-
Kisah Perjalanan YouthID: Saat Anak Muda Menembus Batas, Mendengar Suara Disabilitas di Aceh
-
Menikmati Strike Tak Terduga di Sagara Makmur
-
Ingin Coba Mendaki? Inilah Daftar 10 Gunung di Indonesia Paling Ramah Pemula
-
Dari Sampah hingga AI, Sahya Vidya Nusantara Jadi Ruang Belajar Alternatif di LPB Nasional 2025
Terkini
-
5 Rekomendasi Film Baru Pekan Ini, Ada Ghost in Cell hingga Thrash
-
Remaja Apatis Politik atau Sistem yang Tidak Memberi Ruang Partisipasi?
-
Warung Kopi: Ruang Nyaman untuk Mencari Ide dan Merayakan Hidup
-
Ulasan Film Dopamin: Ketika Keberuntungan Berubah Jadi Ancaman Mencekam!
-
Over Tourism Mengancam, Seberapa Efektif Pembatasan di Taman Nasional Komodo?