Kini nampak kusut dan buram
Aroma menyengat, merindu dan meronta-meronta dengan sendirinya
Lembaran-lembarannya pun kini mulai pudar dan berdebu
Suara-suara tuntutan dalam dirinya berteriak keras, namun ibarat ilusi yang tak mampu dipahami manusia
Padahal, engkau begitu abadi untuk setiap macam perubahan
Engkau mampu merubah dunia beserta isi-isinya
Celakanya engkau juga dapat mengeras dan mengganas
Engkau dapat menghancurkan moral pada manusia-manusia penghuni bumi
Ya, itu apabila engkau hanya digunakan sebagai senjata pemungkas oleh orang-orang bejat yang tidak bertanggungjawab
Bukankah engkau lahir dari kesucian?
Lahir untuk kedamaian dan kesejahteraan terhadap sesama
Itulah dirimu bagaikan air yang terus mengalir, mengarungi tempat bisa berpijak
Hanya orang yang bejatlah menyalahgunakanmu
Bahkan, engkau pun bisa menggelitik agar dapat terus membawa kedamaian pada sesama
Sekali lagi, hanya orang bejatlah yang tidak dapat mengerti dirimu
Menganggap hanya buku semata dan benda mati
Baca Juga
-
Laki-Laki Tidak Boleh Nangis? Siapa Sih yang Buat Aturan Aneh Itu?
-
Sampah dan Dosa Kecil yang Dianggap Biasa
-
Dompet Tak Berbunyi, Saldo Diam-Diam Mati: Dilema Hidup Serba Digital
-
Niat Jahat yang Tidak Sampai: Ketika Hukum Tidak Selalu Perlu Ikut Panik
-
Uang Tidak Bisa Membeli Kebahagiaan Adalah Kebohongan Terbesar yang Kita Percaya
Artikel Terkait
-
Korupsi Tak Cukup Dibalas Tangkap: Kejar Uang, Jaringan, dan Penikmatnya
-
Membaca Patiwangi: Merenungi Suara Perempuan Bali Lewat Goresan Puisi Oka Rusmini
-
Di Balik Sepiring Dimsum: Membaca Ulang Makna Keluarga di Novel Clara Ng
-
Ketika Cinta Tak Bisa Dimiliki: Menelusuri Makna Kehilangan dalam The Zahir
-
Mengenang Keigo Higashino, 5 Film Adapatasi Ini Suguhkan Premis Unik
Sastra
Terkini
-
Ironi di Negeri Tropis: Buah Melimpah, Harga Tak Ramah
-
Review Novel Jejak Langkah: Ketika Pena Menjadi Senjata Perlawanan
-
Witch Hat Atelier Raih Penghargaan Anime Terbaik di Astra TV Awards 2026
-
5 Body Wash dengan Scrub Halus untuk Perawatan Kulit Bersih Menyeluruh
-
Ibu Rumah Tangga: Karyawan Tanpa Gaji, Tanpa Cuti, Tanpa Bonus