Jiwa yang tercerabut perlahan dari raga. Dikuasai dengan segala kehampaan yang melengkapi jiwa. Yang dibuat hancur oleh godaan nikmat duniawi. Nikmat duniawi yang dianggap sebuah keabadian yang tak pernah berakhir dalam sebuah kenyataan yang ada. Jiwa manusia yang kalap dengan buaian kemegahan segala limpahan khazanah yang dikejar tak pernah merasa puas. Manusia yang tamak tak puas dengan apa yang telah dia gapai.
Dia menggapai khazanah yang sangat banyak. Namun tak ada syukur yang terpetik dari jiwa manusia yang kemaruk dunia. Dibuatnya semakin gelap mata akan suasana nafsu yang berkecamuk menghiasi diri. Seolah menjauh dari Sang Pencipta yang menyerukan jiwa manusia tuk mendekatkan diri kepada-Nya.
Jiwa yang hampa rupanya tak peduli dan menganggap enteng seruan yang sangat indah nan agung dari Sang Pencipta. Yang menyelimuti jiwa hanyalah harta dan harta. Dibuatnya kegirangan dengan gapaian harta yang dirangkulnya. Selalu merasa kurang saat mendapatkan limpahan harta. Padahal hartanya sangat melimpah ruah yang tak bisa dihitung dengan jari manusia.
Perlahan Sang Pencipta mulai menampar jiwa manusia yang hampa akibat ketamakan yang dia pancarkan. Dengan memberi peringatan penuh rahmat dan kasih sayang. Namun karena nafsu yang telah menjerat jiwa manusia tamak, seakan mereka masa bodoh dengan isyarat kasih sayang yang dihantarkan oleh Sang Pencipta.
Betapa hampanya jiwa manusia yang diliputi ketamakan yang tak pernah berhenti merasuk pada diri mereka. Sungguh sayang beribu sayang jiwanya telah menjauh dari Sang Pencipta
Baca Juga
Artikel Terkait
Sastra
Terkini
-
Pertemuan di Masjid Kota
-
Di Balik Nasi Sisa Sahur: Refleksi Emak-Emak tentang Ramadan dan Kesederhanaan
-
Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat: Mengapa Terlalu Berusaha Justru Menjauhkan Bahagia?
-
Kisah Perjalanan YouthID: Saat Anak Muda Menembus Batas, Mendengar Suara Disabilitas di Aceh
-
Tayang 28 Maret Nanti, Intip Sinopsis Anime Agents of the Four Seasons