‘Setiap manusia adalah pelajaran bagi manusia lainnya’. Itulah salah satu kalimat bijak penulis dalam kata pengantar buku berjudul ‘Kado Cinta Sang Kiai’. Menurut Muhammad Naf’an Shalahuddin, penulis buku ini, setiap manusia adalah mozaik dan miniatur dari Tuhan Yang Maha Agung. Setiap manusia memiliki ketentuan hidup masing-masing yang tidak dapat disamakan maupun diperbandingkan.
Dengan modal iman dan cinta kepada Allah, maka segala anugerah, nikmat, ujian, maupun musibah yang menimpa diri kita, niscaya akan semakin memperkokoh ketangguhan jiwa kita, dan semakin memupuk kemesraan persaudaraan di antara sesama umat manusia.
Setiap manusia mestinya selalu berusaha untuk terus berproses menjadi manusia yang lebih baik. Menurut pandangan penulis buku ini, tidak ada kata ‘final’ dalam perjalanan hidup di dunia ini. Tidak ada orang ‘baik permanen’ dalam hidup ini, yang ada adalah orang yang ‘sedang baik’ dan ‘sedang tidak baik’ atau belum baik. Adakalanya iman itu naik-turun dan menebal-menipis. Seperti siklus perputaran matahari. Ada siang ada malam. Itu sunatullah.
Dalam kehidupan sehari-hari seyogianya kita selalu memohon agar selalu diberi perlindungan, petunjuk, dan keselamatan oleh Allah Swt. Shalat, termasuk ibadah yang seharusnya selalu kita jaga. Jangan sampai lalai atau sengaja meninggalkannya. Sebab, di dalamnya terdapat permohonan agar kita diberi petunjuk dan ampunan-Nya.
Ketika shalat, salah satu bacaan yang wajib kita baca adalah surat Al-Fatihah. Di dalamnya terdapat kalimat ‘ihdinasshiraathal mustaqiim’. Kalimat tersebut memiliki arti permohonan kita kepada Allah agar diberi petunjuk jalan lurus. Kalimat tersebut juga memiliki penafsiran bahwa sebaik apa pun pencapaian kita sebagai manusia, seumur hidup kita tetap diposisikan Allah pada maqam sebagai orang yang belum beres. Orang yang belum benar. Ataupun juga orang yang belum menemukan dan sedang terus berada dalam pencarian jalan yang benar.
Oleh karena itu, sebenarnya tidak ada orang suci di dunia ini. ‘Falatuzakku anfusakum.’ Juga tidak ada orang yang buruk secara mutlak. Yang ada adalah orang-orang yang sedang berusaha menempuh kebaikan-kebaikan. Maka, selalu memohon kepada Allah agar diberi petunjuk jalan yang lurus adalah sebuah keniscayaan bagi kita.
Ada yang menarik dalam buku kumpulan esai ringan yang diterbitkan oleh penerbit Quanta (2017) ini. Yakni, penulis berusaha merangkai esai-esainya seperti sebuah kisah atau cerita pendek. Sebagian esai tersebut memiliki tokoh atau lakon utama bernama ‘Cak Kiai’ yang berasal dari Jawa Timur. Melalui buku ini, pembaca dapat menyelami pesan-pesan bijak dan inspiratif yang disampaikan oleh penulis.
***
*Penulis lepas mukim di Kebumen.
Baca Juga
-
Bedah Buku 'Sebilah Lidah': Ketika Puisi Menelanjangi Sisi Gelap Manusia Modern
-
Lika-liku Menjadi Tukang Ojek Online: Catatan Harian Bang Ojol
-
Unpopular Opinion: Kita Butuh Cancel Culture yang Lebih Kejam untuk Figur Publik Bermasalah
-
Self Reward sebagai Bentuk Perayaan atau Pemborosan?
-
Fenomena 'Beli Teman' dan Jasa Teman Jalan: Solusi Kesepian atau Modus Terselubung?
Artikel Terkait
Ulasan
-
Pursuit of Jade: Drama dengan Role Reversal Baru Zhang Linghe & Tian Xiwei
-
Review Laut Bercerita: Kisah Pilu Perjuangan Aktivis Melawan Orde Baru
-
The Lament of Autumn: Drama Republik dalam Vibes Love Hate yang Bikin Baper
-
Review Burning: Tentang Misteri yang Mungkin Hanya Ada di Kepala Kita
-
Review Buku Hidden Figures: Saat Kecerdasan Tidak Mengenal Ras dan Gender
Terkini
-
Siap Debut Jepang, Baby DONT Cry Akan Rilis Single "Replay" di 2 Negara!
-
5 HP Android dengan Kamera Bagus untuk Kamu yang Mau Mulai Ngonten
-
Anime IruMafia Edition Tayang Januari 2027, Kisah Iruma di Kehidupan Mafia
-
Bias Dunia Kerja Modern: Menyoroti Gengsi CV Bahasa Inggris di Mata Gen Z
-
Ruang Publik Bebas Rokok Adalah Hak Kita Semua