Panggung kebudayaan Betawi sangat mengenal sosok Haji Tile, khususnya dalam memperjuangkan eksistensi budaya Betawi pada generasi muda. Tepat pada tanggal 20 Februari 1933, beliau dilahirkan di Batavia. Memiliki nama asli Enun Tile Mahdami bin Bayan, beliau memulai karirnya sejak menjadi pemeran figuran pada film berjudul Cintaku di Rumah Susun pada tahun 1987, sebagai hansip.
Banyak diantara film-film tanah air telah dibintanginya, seperti Makelar Kodok (1989), Antri Dong (1990), Bisa Naik Bisa Turun (1991), hingga film bergenre horor seperti Si Manis Jembatan Ancol (1993). Keterlibatannya dalam berbagai film yang dibintangi oleh Warkop DKI, membuat namanya semakin dikenal masyarakat kala itu.
Masyarakat Betawi tentu bangga memiliki tokoh budaya seperti H. Tile. Khususnya ketika terlibat dalam film besar Si Doel Anak Sekolahan, yang jelas mengangkat budaya dan kearifan lokal kota Jakarta. Berangkat dari kesuksesannya dalam industri film, sosok H. Tile dikenal memiliki sifat sederhana dalam keseharian.
Kontribusinya terhadap eksistensi kebudayaan Betawi juga selalu digelorakannya. Baik dalam berkeseharian ataupun ketika hadir bersama artis-artis papan atas Indonesia. Maka, ditetapkanlah beliau sebagai salah satu punggawa budaya Betawi, selain Benyamin Sueb ataupun Mandra. Tidak hanya dalam perfilman, menjadi bintang iklan dari berbagai produk juga pernah dilakoninya.
Masyarakat mengenal sosoknya sebagai kakeknya dari Doel. Karakter kuat yang membuat publik terhenyak adalah fakta bahwa H. Tile adalah seorang yang tidak bisa membaca. Pendalaman peran dari naskah, dipahaminya melalui insting berperan yang kuat. Sebuah hal yang langka kala itu, karena kewajiban bagi seorang aktor adalah memahami naskah yang telah ditulis.
Sikap sederhana H. Tile memang bukan isapan jempol. Hal ini dibuktikan dengan tempat tinggalnya yang sederhana di pinggiran kali Jakarta. Kecintaannya kepada budaya Betawi telah melebihi zamannya kala itu. H. Tile meninggal akibat penyakit kronis yang dideritanya pada 2 November 1998 dan dimakamkan di kawasan Srengseng Sawah, Jakarta Selatan.
Semoga, apa yang telah diperjuangkan oleh H. Tile, dapat dikenang dan diteruskan oleh generasi saat ini. Budaya bangsa adalah harga mati bagi sebuah bangsa yang besar, khususnya Indonesia. Tidak mengenal usia dan kalangan, karena H. Tile telah membuktikannya.
Baca Juga
Artikel Terkait
Ulasan
-
Tertipu Gaya Film Perang Serius, Tropic Thunder Ternyata Satir Komedi Paling Pecah
-
Review Rembulan Tenggelam di Wajahmu Extended: Saat Jeda Waktu Memberi Ruang bagi Makna
-
Ulasan Nice to Not Meet You: Krisis Identitas di Balik Pekerjaan Impian
-
Ulasan Buku Atomic Habits: Kebiasaan Kecil yang Diam-Diam Mengubah Hidupmu
-
Ulasan Novel False Beat, Kisah Manajer Amatir dan Vokalis Band Berwajah Dua
Terkini
-
Pesona Alam di Bawah Bayang-Bayang Ekskavator: 4 Wisata Indonesia yang Terdampak Tambang
-
4 Body Serum Efek Tone Up Bikin Kulit Lebih Cerah, Harga Murah Rp30 Ribuan
-
Tragedi 5 Laga Tanpa Kemenangan: Saat Kehadiran Lionel Messi Tak Lagi Menakutkan di MLS
-
6 Film Resident Evil Tayang di Netflix September 2026, Ini Daftarnya
-
Andrew Kalaweit Soroti Karhutla Kalimantan: Hutan Tak Terbakar Sendiri