Tentu menjadi hal yang menarik, bila pembelajaran berbasis visual media dapat dikembangkan melalui animasi kartun edukasi. Baik dalam konsepsi materi ajar atau muatan moral yang dipadukan melalui realitas keseharian.
Hal ini tentu dapat dijadikan alternatif edukasi, untuk mengejar ketertinggalan selama masa learning loss. Walau wacana ini belum dapat direalisasikan hingga kini.
Khususnya dalam ketersediaan sumber daya dan minat dari para pegiat kartunis yang secara domain lebih suka dengan genre anime. Tentu hal ini hanyalah pilihan, yang sekiranya tidak dapat direalisasikan oleh masyarakat tanpa adanya edukasi berorientasi visual konten.
Khususnya bagi anak-anak usia dini, yang lebih apresiatif dalam memahami edukasi visual abstraktif. Suatu hal yang tentu saja menjadi tantangan bagi para pendidik beserta masyarakat, demi mengoptimalisasian pembelajaran yang lebih humanistik.
Kita terbiasa menikmati kartun edukasi dari keluaran asing, tanpa memberi ruang untuk mengembangkan karya kartun anak bangsa. Pendekatan budaya adalah wujud utama dalam tujuan edukasi visual berupa kartun.
Bukan suatu hal yang mustahil, bila semua eksponen dan komponen dapat diwujudkan dalam bentuk agenda kerja bersama. Khususnya untuk pengadaan fasilitas penunjang, bagi terselenggaranya pembuatan kartun-kartun edukatif karya anak bangsa.
Sentuhan budaya dan kearifan lokal keseharian secara psikologis dapat mempengaruhi anak untuk dapat berbuat positif sesuai pesan yang disampaikan. Tidak sekedar lepas kontrol dalam pendampingan dan evaluasi ketercapaian materi ajar. Semua memiliki keterkaitan yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya.
Kontribusi bagi pengembangan ini tentu saja memiliki anggaran yang tidak sedikit dalam proses pembuatannya. Semua mata pelajaran tentu akan lebih asyik dan mudah dipahami ketika hadir dalam wujud visualisasi kartun, bukan sekedar materi-materi abstraktif dari lembaga-lembaga pendidikan yang baku.
Kita akan lebih akrab dengan kartun edukatif yang mampu memberikan kesan seru dan penuh tantangan. Dalam konteks ini, pengembangan bahan ajar berbasis literasi dapat dioptimalkan dengan baik.
Semoga bangsa ini dapat lekas kembali baik dan mampu mengejar ketertinggalan generasi-generasi penerus bangsa ini dikemudian hari kelak.
Khususnya untuk para sineas, kartunis, serta para pendidik. Kerjasama intens dan saling dukung adalah jembatan terbaik bagi salah satu upaya optimalisasi merdeka belajar yang tengah dicanangkan pemerintah.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Pamit dari RCTI, Doraemon Segera Tayang di Stasiun TV Lain
-
Akhir dari Sebuah Era: Setelah 35 Tahun, Doraemon Pamit dari Layar Kaca RCTI
-
Unik! Rumah Warga Sepanjang 350 Meter Jadi Galeri Kartun Terpanjang di Indonesia
-
Kekuatan Magis Pameran Lukisan Desa Kartun Sidareja Punya 'Efek Terapi' Sembuhkan Jiwa
-
Alasan Raffi Ahmad Tetap Dukung Film Kartun Merah Putih One For All: Saya Belum Nonton!
Ulasan
-
Film 28 Years Later: The Bone Temple, Horor Visceral Terbaik Sepanjang Masa
-
Menikmati Keindahan Gunung Buthak, si Cantik yang Dijuluki Miniatur Argopuro
-
Buku Broken Strings: Menyelami Trauma Relasi dalam Hubungan Toksik
-
Gelandangan di Kampung Sendiri: Kritik yang Tak Pernah Usang
-
Ada Shareefa Daanish, Film 'Lift': Ruang Sempit Membawa Malapetaka
Terkini
-
Wajib Punya! 5 Sunscreen Mosturizer untuk Kulit Lembap dan Terlindungi UV
-
Togashi, Mangaka Hunter x Hunter Resmi Rampungkan Chapter 413 dan 414!
-
Mendadak Jadi Wali Kota: Fenomena TheoTown di Tengah Pemain Indonesia
-
4 Padu Padan OOTD Hitam ala Byeon Woo Seok, Buat Momen Kasual sampai Formal
-
4 Outfit Effortless ala Yujin IVE, Sontek Buat Gaya Nongkrong Makin Kece!