Setiap orang tentu memiliki keinginan atau cita-cita yang ingin dicapai. Namun tak semua orang berhasil mewujudkannya. Ada yang berhenti di tengah jalan karena tak kuat menanggung ujian dan sederet kegagalan. Namun banyak juga yang terus melanjutkan, berjuang pantang menyerah, meski telah dihantam kegagalan berulang kali.
Hanya orang-orang yang ulet, gigih, dan pantang menyerah yang kelak berhasil meraih impian atau cita-citanya. Bagi mereka, kegagalan bukanlah akhir segalanya. Kegagalan demi kegagalan merupakan proses alami dan memang harus dihadapi oleh setiap orang yang mendambakan kesuksesan.
Bicara tentang cita-cita, ada sebuah cerita pendek menarik berjudul Janji pada Ibu karya Ida Fauziah. Cerita pendek ini saya temukan dalam buku kumpulan cerpen berjudul A Real Chef is A real Hard Worker, ditulis oleh Amelia Kartikawati, dkk.
Cerpen berjudul Janji pada Ibu bercerita tentang seorang pemuda bernama Eko yang begitu gigih memperjuangkan cita-citanya. Mengabdi untuk negeri tercinta adalah salah satu impian dalam hidupnya. Dikisahkan, Eko bukanlah anak yang terlahir dari keluarga kaya raya.
Biasanya, sepulang sekolah Eko akan segera membantu ibunya, berjualan di warung yang ada di pinggir jalan raya. Setelah makan siang dan salat Zuhur dia akan bergegas menyiapkan segala keperluan di warung tersebut. Berikut ini petikan kisahnya:
Selesai salat, aku mengangkat semua perlengkapan yang telah Ibu siapkan. Sejak Ayah meninggal tujuh tahun lalu, aku membantu Ibu berjualan setiap pulang sekolah. Kami menuju gubuk semi permanen di pinggir jalan raya, sekitar 250 meter dari rumah kami.
Ibu menata kue-kuenya. Aku mulai membuka kelapa muda yang menggunung di samping gubuk kami. Musim kemarau begini, berjualan es kelapa muda sangat menguntungkan. Lumayan untuk biaya sekolah dan menutupi biaya hidup kami.
Meski sebagian waktunya disibukkan untuk bekerja membantu ibu, tapi tak membuat Eko menjadi anak yang malas-malasan dalam menuntut ilmu. Bahkan dia termasuk siswa berprestasi. Hal ini dibuktikannya ketika ujian akhir di tingkat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) jurusan listrik, dia mendapatk nilai tertinggi.
Tak hanya itu, berkat kecerdasannya, dia berhasil menimba ilmu di luar negeri bahkan hingga meraih gelar doktor. Pada akhirnya Eko memilih kembali ke tanah air, ingin menunaikan janji pada ibunya yang telah tiada. Eko siap mengabdi untuk negeri tercinta. Dia berharap ibu tersenyum bangga dan bahagia di surga-Nya yang abadi.
Kisah tentang Eko yang berusaha memperjuangkan cita-citanya dapat dijadikan sebagai sumber inspirasi bagi para pembaca, agar jangan pernah menyerah dalam meraih impian. Kisah Eko juga menyelipkan hikmah bahwa barang siapa yang tekun dan bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, kelak dia akan mendapatkan banyak kesempatan atau peluang emas yang tak dimiliki oleh orang-orang yang malas.
Baca Juga
-
Dilema Perayaan Kemerdekaan dan Iuran Besar yang Memberatkan Warga
-
Bahagia di Usia 48 dan Masih Lajang: Rahasia di Balik Berdamai dengan Diri Sendiri
-
Dari Batagor Bang Agus Hingga Pindang Bandeng: Menelusuri Ragam Kuliner di Jakarta
-
Review Buku Fobia Cewek: Kumpulan Kisah Lucu dari Pesantren hingga Jadi Penulis
-
Cinta Itu Fitrah, Tapi Sudahkah Kamu Menaruhnya di Tempat yang Tepat?
Artikel Terkait
-
7 Tips Menulis Cerpen bagi Cerpenis Pemula
-
Ulasan Buku Lumpur Tuhan, Pemenang Sayembara Sastra DK Jawa Timur 2017
-
Berkelana di Land of Roses, Ulasan Memoar Senyummu Bahagiaku
-
Ulasan Cerpen Jannang, Juru Masak yang Dipermalukan di Rumah Anggota Dewan
-
4 Inspirasi Gaya Rambut Jihyo TWICE, Kamu Bisa Tiru!
Ulasan
-
The Story of Body Language: Bisakah Kita Membaca Orang dari Gerak Tubuh?
-
Spider-Man: Brand New Day, Petualangan Baru Peter Parker Setelah No Way Home
-
Review Sterling Point: Refleksi Kehidupan dan Romansa Remaja Masa Kini
-
Novel Tanjung Luka, Pencarian Kebenaran di Tengah Prasangka Masyarakat
-
After the Fall: Kisah Humpty Dumpty yang Belajar Bangkit Kembali
Terkini
-
Parkir Ngepruk di Solo: Mengapa Masalah Parkir Liar Tak Akan Hilang Hanya dengan Dibina
-
Praktis Tinggal Usap, Ini 5 Micellar Wipes Pilihan untuk Kulit Berjerawat
-
Pemerintah Gagap Komunikasi: Bikin Aturan Dulu, Gaduh Kemudian
-
Memaknai Kemerdekaan di Dunia Kerja: Mengapa Gen Z Lebih Memilih 'Work-Life Balance'?
-
Dari Posyandu ke Pariwisata: Bagaimana Kesehatan Jadi Pondasi Desa Wisata Les Buleleng