Dewasa ini, dunia maya, terutama media sosial, kerapkali dipadati dengan pemberitaan yang menyesakkan dada, membuat hati merana juga membuat degup jantung makin kencang. Pasalnya, postingan-postingan dan informasi-informasi yang dibagikan tersebut bersumber dari pemberitaan berupa musibah, ketidakadilan, kasus korupsi, pelaku tindak kekerasan di rumah tangga, kematian suporter sepak bola, dan lain sebagainya.
Agar tidak melulu gundah dan larut dalam kasus menyedihkan, kita perlu hiburan dalam bentuk lucu-lucuan agar hidup tetap terus jalan beriringan dan seimbang antara sedih dan senang, antara suka dan duka, serta antara tangis dan tawa.
Perihal lucu-lucuan dalam postingan di media sosial, seperti di twitter, facebook, dan instagram, kita perlu rujukan sebagai tambahan inspirasi atau pemancing imajinasi. Terdapat buku yang cocok untuk dijadikan referensi dalam menulis status lucu-lucuan di media sosial. Buku tersebut berjudul #Peribahaha yang disusun oleh Pandu Surya Atmaja.
Pada buku terbitan Media Pressindo Yogyakarta ini, begitu melimpah peribahasa dan pantun yang sengaja diplesetkan dengan maksud untuk bahan lucu-lucuan. Seperti Cak Lontong seorang komika ternama, di dalam buku ini juga banyak disebutkan peribahasa yang mirip peribahasa yang sering dilontarkan oleh komedian asal Jawa Timur itu.
Seperti contoh pada halaman 6, termaktub sebuah peribahasa yang cukup menggelitik perut, yaitu tak kenal maka tak usir dan di mana ada jalan, di situ buat lewat. Tak kenal maka tak usir ini merupakan peribahasa plesetan dari tak kenal maka tak sayang. Artinya butuh perkenalan dulu agar menjadi sayang. Namun, di buku ini diplesetkan menjadi tak kenal maka tak usir. Sebab, tidak kenal makanya diusir, seandainya sudah kenal maka diajak masuk ke rumah lalu disuguhi minuman.
Lalu di mana ada jalan, di situ buat lewat. Peribahasa ini aslinya berbunyi di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Yang berarti jika kita berkeinginan untuk sukses, jika ada usaha, maka besar kemungkinan akan ada jalan menuju kesuksesan. Tetapi, buku ini memplesetkan peribahasa tersebut sehingga menjadi di mana ada jalan, di situ buat lewat. Tanpa pikir mendalam, di mana-mana kalau jalan memang digunakan untuk berlalu lalang atau dilewati. Sayangnya peribahasa yang diplesetkan di dalam buku ini tanpa penjelasan, sehingga terdakang membuat pembaca kebingungan untuk menafsirkan.
Baca Juga
-
Huawei MatePad Pro Max (2026): Tablet Super Tipis yang Serius Mengajak Laptop Pensiun
-
Dentuman Sound Horeg di Kuburan dan Masjid: Hiburan atau Sudah Kelewat Batas?
-
Presentasi Pakai iPad? Ini 4 Cara Mudah Menyambungkannya ke Proyektor
-
4 Rekomendasi HP Samsung RAM 12 GB Terbaik Agustus 2026, Performa Ngebut untuk Multitasking
-
HP 64 GB Mulai Lemot? Coba 6 Trik Sederhana Ini sebelum Ganti Ponsel
Artikel Terkait
-
Menyusuri Labirin Waktu Lewat Novel Anak Cerita dari Asrama Tentara
-
Sepasang Mata untuk Cinta yang Buta: Tak Ada Manusia Sempurna
-
Dijanjikan Gaji UMR, 5 Marketing Judi Online yang Diciduk Polisi Belum Sebulan Bekerja
-
Tips Cuan Bagi UMKM, Begini Cara Viralkan Produk di Media Sosial
-
Mengkritisi Kepincangan dalam Rumah Tangga, Ulasan Buku Memelihara Suami
Ulasan
-
Ulasan The Devil Judge: Ketika Pengadilan Jadi Tontonan Publik
-
Pesona Masjid Pancasila Kediri: Sederhana di Luar, Bikin Pangling di Dalam
-
Ulasan Film Seni Merayu Tuhan: Refleksi Sunyi Anak Muda Mencari Arah Hidup
-
Review Kung Fu Soccer: Terlalu Absurd Disebut Film Tentang Sepak Bola, Apakah Layak Ditonton?
-
Film Na Willa dan Masa Ketika Masalah Terbesar Hanya Tak Bisa Bermain
Terkini
-
Kesaksian Warga Nagekeo Saat Gempa M 7 Guncang NTT: Kami Lari Bawa Lansia dan Tinggalkan Rumah
-
Ilusi Kenaikan Gaji: Kenapa Hidup Justru Terasa Makin Pas-pasan?
-
Keberhasilan Transformasi Desa Kemiren bersama Kang Edai dan Astra
-
Sinopsis Coyote vs. Acme, Debut dengan Skor Tinggi dan Tuai Pujian Kritikus
-
Jelang HUT RI: Flare Latihan TNI AU Nyasar ke Mobil Warga, Ini Respon TNI