Calon Arang: Kisah Perempuan Korban Patriarki adalah buku prosa lirik karya guru besar filsafat Universitas Indonesia sekaligus mantan rektor Institut Kesenian Jakarta (IKJ), yakni Prof. Dr. Toeti Heraty Nurhadi Rooseno. Buku setebal xxx + 134 halaman ini, diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia (YOI) dalam dwi bahasa, yakni Indonesia dan Inggris. Versi terjemahan Inggrisnya dialihbahasakan oleh Iwan Mucipta Moeliona, Kadek Krishna Adidharma, dan Landung Simatupang.
Calon Arang sendiri adalah sosok janda renta dari Dirah, satu wilayah di bawah kekuasaan Daha, dengan raja bernama Erlangga. Perempuan yang dikenal pula dengan nama Ni Rangda ini dianggap sebagai simbol kejahatan. Digambarkan sebagai penyihir yang ditakuti.
Lantaran sebab itu, tak seorang pun pemuda atau keluarga yang mau mempersunting anak satu-satunya, Ratna Manggali, sebagai istri.
Calon Arang marah. Dia mengirim teluh di sekeliling, sehingga desa-desa sekitar diserang pagebluk. Orang-orang mati bergelimpangan, yang hidup berlarian pergi mengungsi. Makin lama, wabah itu makin meluas.
Erlangga mendengar ihwal malapetaka tersebut. Dia khawatir kesaktian Calon Arang bakal meruntuhkan kekuasaannya. Maka, dia mengutus Mpu Baradah, seorang pendeta Hindu terkemuka untuk melawan Calon Arang.
Mpu Baradah menyadari betapa Calon Arang terlampau kuat untuk dilawan dengan kekuatan. Maka perlu siasat guna melumpuhkannya. Diutuslah murid Mpu Baradah, seorang pemuda tampan, berpenampilan menarik untuk menyunting Ratna Manggali. Namanya, Mpu Kebo Bahula.
Singkat cerita, Calon Arang menerima lamaran itu. Ratna Manggali dan Mpu Kebo Bahula pun menikah. Diam-diam, Mpu Kebo Bahula mengamati aktivitas Ni Rangda, mertuanya, yang tiap malam pergi ke kuburan, membawa lipyakara, pusaka suci.
Dengan tipu daya, Mpu Kebo Bahula berhasil mendapatkan lipyakara melalui Ratna Manggali, lalu diserahkan kepada Mpu Baradah. Kelanjutannya, dapat ditebak. Calon Arang dapat ditaklukkan. Kerajaan Daha kembali damai, rakyat hidup bahagia sentosa.
Demikian gambaran singkat kisah Calon Arang. Cerita rakyat ini telah diadaptasi dalam film, drama, sendratari, dan karya sastra. Namun kebanyakan, hanya memuat dikotomi hitam-putih, bahwa Mpu Baradah beserta Mpu Kebo Bahula di bawah Raja Erlangga, adalah benar, suci, lagi mulia. Sedangkan Calon Arang jahat dan keji belaka.
Pelabelan stigma negatif perempuan inilah yang dikritik habis-habisan oleh Toeti Heraty melalui prosa lirik ini. Dengan bahasanya yang indah, tajam, kadang menggebu-gebu, Toeti memutarbalikkan keadaan betapa Calon Arang adalah korban Mpu Baradah dan kroni-kroninya.
Buku ini adalah semacam tafsir baru akan sosok Calon Arang, ditarik ke dalam kedudukan perempuan dalam masyarakat patriarki yang demikian mengagung-agungkan laki-laki beserta kelelakiannya.
Video yang Mungkin Anda Sukai.
Baca Juga
-
Pelajaran Tekad dari Buku Cerita Anak 'Pippi Gadis Kecil dari Tepi Rel Kereta Api'
-
Cerita-Cerita yang Menghangatkan Hati dalam 'Kado untuk Ayah'
-
Suka Duka Hidup di Masa Pandemi Covid-19, Ulasan Novel 'Khofidah Bukan Covid'
-
Akulturasi Budaya Islam, Jawa, dan Hindu dalam Misteri Hilangnya Luwur Sunan
-
Pelajaran Cinta dan Iman di Negeri Tirai Bambu dalam "Lost in Ningxia"
Artikel Terkait
Ulasan
-
Novel 14 Days Isabella: Seni Mencintai Diri di Tengah Keluarga yang Retak
-
Kejujuran yang Diadili: Membaca Absurditas dalam 'Orang Asing' karya Albert Camus
-
Review Never Back Down (2008): Film dengan Latar Belakang Seni Bela Diri Campuran!
-
Kejamnya Label Sosial Tanpa Pandang Umur di Novel 'Dia yang Haram'
-
Tanah Gersang: Kritik Tajam Mochtar Lubis Tentang Moral di Ibukota
Terkini
-
Motoko Kusanagi Kembali! Anime Baru Ghost in the Shell Umumkan Tayang Juli
-
Sinopsis Daldal, Series India Terbaru Bhumi Pednekar di Prime Video
-
Casual Goals! 4 Ide Outfit Harian ala Baila No Na yang Mudah Ditiru
-
Topeng Arsenik di Pendapa Jenggala
-
Dihubungi John Herdman, Peluang Tampil Sandy Walsh di Timnas Kian Besar?