Demam roket dan antariksa yang melanda dunia internasional pada medio tahun 1950 hingga 1960-an ternyata juga sampai ke Indonesia. Pada masa tersebut, Indonesia mencetuskan proyek S yang kemudian seiring berjalannya waktu berkembang dan melahirkan roket Kartika-1 yang merupakan roket ilmiah pertama buatan Indonesia. seiring berkembangnya waktu, proyek S kemudian berkembang menjadi proyek S-1 yang dimotori oleh Lembaga Antariksa Nasional (LAPAN) yang baru berdiri di tahun 1963.
Dilansir dari situs aviahistoria.com, saat itu Indonesia menargetkan IQSY (International Quiet Sun Year) yang ditargetkan pada tahun 1964-1965 membuat pemerintah Indonesia pada akhirnya membeli beragam peralatan antariksa guna mempercepat program tersebut. Salah satu peralatan antariksa yang dibeli saat itu adalah roket yang dikenal dengan nama Kappa-8.
Dibeli Dari Jepang Sebanyak 10 Unit
Pembelian berbagai peralatan luar angkasa dari luar negeri oleh Pemerintah Indonesia tentunya cukup realistis saat itu. Pasalnya, guna mengejar ketertinggalan proyek IQSY yang hanya tinggal setahun lagi membuat pemerintah melakukan langkah cepat. Pengembangan roket Kartika-1 memang cukup sukses ketika melakukan uji peluncuran, namun tentunya waktu dan kemampuan saat itu tidak memungkinkan untuk melakukan pengembangan secara cepat.
BACA JUGA: Banjir Bintang Korea, Intip 9 Adu Peran Pemain Film Kill Boksoon
Oleh karena itu, pemerintah melalui LAPAN melakukan pembelian 10 unit roket dari Jepang guna mengejar ketertinggalan tersebut. Pada saat itu Jepang dianggap sebagai negara yang paling maju di kawasan Asia dalam pengembangan antariksa. Pada saat itu dianggarkan dana sekitar 1,6 juta USD untuk pembelian 10 unit roket dari Jepang beserta peralatan pendukungnya. Roket antariksa yang dipilih saat itu adalah keluarga Kappa, yakni Kappa-8 yang memang menjadi roket unggulan dari Jepang.
Dipersiapkan Secara Matang Dalam Proses Peluncurannya
Proyek S-1 ini dianggap sebagai sebuah proyek yang cukup prestisius pada masa orde lama. Tidak heran saat itu segala macam persiapan mulai dari fasilitas penunjang hingga sarana dan prasarana sangat diperhatikan oleh pemerintah, khususnya LAPAN. Bahkan, pemerintah juga mendatangkan beberapa ahli dari Jepang guna memantau beragam persiapan proyek S-1 tersebut. Daerah Pamengeuk di Garut yang menjadi kawasan uji coba roket Kartika-1 kembali dipilih menjadi area peluncuran roket Kappa-8. Akan tetapi, kini wilayah tersebut ditingkatkan menjadi kawasan peluncuran roket yang meliputi kawasan radar, jalan beraspal dan beragam fasilitas lainnya.
BACA JUGA: Sinopsis Missing, Sekuel Film Searching yang Berkisah Tentang Anak Mencari Ibunya
Hari yang ditunggu pada akhirnya tiba, roket Kappa-8 yang dipesan oleh Indonesia tiba pada pertengahan tahun 1965. Kemudian pada tanggal 9 Agustus 1965 roket pertama sukses diluncurkan dari area peluncuran di Pamengeuk, Garut. Hal ini kemudian mendorong dilakukannya peluncuran roket kedua dan ketiga pada tanggal 11 dan 17 Agustus 1965.
Roket-roket tersebut sukses mencapai ketinggian sekitar 70-300 km dan sukses membawa beragam peralatan pemantauan. Suksesnya hasil peluncuran roket Kappa-8 dan Kartika-1 membuat nama Indonesia dikenal sebagai salah satu negara baru yang turut memeriahkan perlombaan antariksa di dunia saat itu.
Akhir Hayat Roket Kappa-8 di Indonesia
Meskipun mengalam kesuksesan, nyatanya perubahan arah politik pasca gejolak di tahun 1965 turut membuat proyek S-1 peninggalan era orde lama mulai terbengkalai dan berujung dihentikan. Dilansir dari aviahistoria.com, pemberhentian proyek tersebut disinyalir karena program tersebut merupakan peninggalan Soekarno yang saat masa orde lama mulai dihapuskan. Belum lagi masalah pendanaan juga turut menghentikan proyek yang cukup ambisius tersebut.
Pada akhirnya 7 unit roket Kappa-8 peninggalan era orde lama harus digudangkan selama kurang lebih 10 tahun. Namun, roket Kappa-8 tersebut kemudian sempat dibangkitkan kembali untuk mendukung proyek pemetaan dan survei permukaan bumi pada dekade 1970-an. Akan tetapi, roket yang berhasil meluncur saat itu hanya 1 unit karena 6 unit lainnya sudah berkarat termakan usia dan tidak layak terbang. Peluncuran tersebut diketahui dilakukan pada tahun 1977 sebelum pada akhirnya seluruh roket Kappa-8 dimusnahkan dengan cara dikubur karena sudah mengalami korosif yang cukup parah.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Piala Dunia 2026: Panggung Mewah Terakhir Para Pesepakbola Veteran
-
Piala Dunia 2026: Tak Hanya Messi, Ronaldo Turut Cetak Rekor Prestisius
-
Piala Dunia 2026: Kylian Mbappe dan Misi Raih Rekor Pencetak Gol Terbanyak
-
Resmi Jadi Raja Gol, Mampukah Messi Lewati Rekor 16 Gol Miroslav Klose di Piala Dunia 2026?
-
Sejarah Tercipta, Wasit Wanita Pimpin Laga di Ajang Piala Dunia 2026
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review My Royal Nemesis: Drama Romcom dengan Chemistry yang Sulit Dilupakan
-
Ulasan Film The Furious: Badai Aksi Tanpa Ampun yang Berkelas Dunia!
-
Review Film Cocktail 2: Racikan Ego, Kesetiaan, dan Badai Asmara di Sisilia
-
Tuhan, Aku Ingin Sembuh: Buku Healing Bernuansa Spiritual yang Menguatkan
-
Review Jodohku Om-Om: Konflik Tak Seberapa dengan Alur Manis bak Stevia
Terkini
-
Rilis Teaser Perdana, Takeru Sato Pimpin Produksi Jujutsu Kaisen Season 4
-
Pemadaman Listrik Tanpa Pemberitahuan: Masalah Tata Kelola Pelayanan Publik
-
Pertama Kalinya, SUNRISE dan SHAFT Umumkan Kolaborasi Produksi Anime Baru
-
Tayang 12 Juli, Kyuhyun hingga Nucksal Jadi MC di The Psychopath I Met
-
Kejutkan Publik! Anne Hathaway Pamer Baby Bump untuk Anak Ketiga