Buku berjudul Happiness Cafe yang ditulis secara duet oleh Arvan Pradiansyah dan Hermawan Aksan ini sangat inspiratif dan menarik dijadikan sebagai salah satu bacaan yang dapat memompa semangat para pembaca agar tidak menyerah menghadapi beragam cobaan hidup.
Buku terbitan Pustaka Inspira ini berisi kisah orang-orang yang bisa meraih kebahagiaan dan kesuksesan, meski mereka adalah sosok yang tak sempurna secara fisik. Namun mereka berhasil tumbuh menjadi manusia luar biasa bahkan melebihi orang-orang yang dikaruniai fisik sempurna.
Jessica Cox adalah satu di antara sosok inspiratif yang dikisahkan dalam buku ini. Ia terlahir tanpa kedua tangan, akibat kelainan lahir yang sangat jarang ditemui. Siapa yang mengira bila Jessica tumbuh menjadi gadis yang kuat dan pantang menyerah dengan kondisi keterbatasan fisiknya.
BACA JUGA: Memilih Waktu Menikah dalam Buku Tuhan Itu 'Maha Santai', Maka Selowlah...
Dengan ketekunan yang luar biasa, Jessica belajar untuk melakukan semua hal, dan melakukannya secara lebih baik—dengan kedua kakinya. Melawan semua rintangan tapi dengan keyakinan kuat dan bantuan keluarganya. Ia bersekolah seperti anak lain dan kemudian kuliah, mengetik dengan jari-jari kakinya.
Jessica memang terlahir tanpa kedua tangan. Namun, ia tak pernah terus-menerus menyesali mengapa ia terlahir seperti itu. Ia selalu tersenyum dan percaya diri. Bahkan, kepercayaan diri itu sudah terlihat sejak ia masih balita.
Karenanya, Jessica lebih mencurahkan energinya untuk berlatih menulis, menyisir rambut, mengetik, mencuci piring, menggunakan lensa kontak, dan sebagainya dengan kaki ketimbang menyesali diri.
Yang mengagumkan, Jessica mampu menyetir kendaraan roda empat. Ia mendapat surat izin mengemudi dan yang luar biasa lisensi pilot yang membuatnya masuk Guinness Book of World Records. Ia juga mencapai impiannya: menjalani karier sebagai motivator dan pendukung para difabel.
Selain Jessica, ada juga kisah Ben Underwood, anak laki-laki yang harus menerima kenyataan getir bahwa ia dinyatakan dokter tak bisa melihat akibat penyakit kanker di kedua matanya.
BACA JUGA: Ulasan Buku 'Abu Nawas', Sosok yang Sangat Dermawan hingga Jatuh Miskin
Kasih sayang orangtunya begitu besar dalam merawat dan mendidik Ben, hingga akhirnya Ben tumbuh menjadi anak yang mandiri. Meski tak bisa melihat, tapi orangtua mengajarinya bahwa ia masih bisa melihat dengan tangannya.
Ben tampaknya mulai berhasil melihat tanpa mata. Ia senang bermain video game, naik sepeda, meluncur dengan skateboard, memanjat pohon, dan melakukan segala sesuatu seolah-olah ia tidak pernah kehilangan penglihatannya. Ibunya memperlakukan Ben seolah-olah bisa melihat dan berbicara visual.
Kisah-kisah menarik dan inspiratif tentang orang-orang yang tak sempurna fisiknya dalam buku ini benar-benar dapat menjadi sarana introspeksi bersama. Terutama para pembaca yang memiliki kesempurnaan fisik, agar jangan pernah mengeluh dan putus asa menghadapi hidup yang diwarnai ujian ini.
Mestinya, kita harus lebih banyak bersyukur dan menggunakan semua anugerah dari-Nya untuk memperbanyak hal-hal yang bermanfaat bagi sesama.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Buku Perjalanan ke Langit: Nasihat tentang Pentingnya Mengingat Kematian
-
Ulasan Buku Resep Kaya ala Orang Cina, Cara Menuju Kekayaan yang Berlimpah
-
Ulasan Buku "The Wisdom", Merenungi Kebijaksanaan Hidup
-
Tuhan Selalu Ada Bersama Kita dalam Buku "You Are Not Alone"
-
Ulasan Buku Setengah Jalan, Koleksi Esai Komedi untuk Para Calon Komika
Artikel Terkait
-
Memilih Waktu Menikah dalam Buku Tuhan Itu 'Maha Santai', Maka Selowlah...
-
Ulasan Buku 'Abu Nawas', Sosok yang Sangat Dermawan hingga Jatuh Miskin
-
5 Poin Penting dari Buku The 4-Hour Workweek Karya Tim Ferris
-
Komik May As Well Die 2: Terjebak Time Leap Tanpa Ujung Bersama Atasan!
-
Ulasan Buku "Mutiara Hikmah Kekasih Rasul", Mencari Sahabat yang Jujur
Ulasan
-
Review Film Angkara Murka: Horor dan Kekuasaan di Balik Gelapnya Tambang
-
Ulasan Novel The Three Lives of Cate Kay: Antara Karier dan Keluarga
-
Film Komedi Kinda Pregnant, Kebohongan Kehamilan Menjadi Realita Emosional
-
6 Rekomendasi Wisata Air Terjun di Sumba, Ada yang Mirip Niagara
-
Review Film Lilo & Stitch: Live-Action yang Cuma Dibikin Ulang?
Terkini
-
Sudah Baca Buku Self-Improvement, Tapi Kenapa Hidup Masih Berantakan?
-
Malaysia Masters 2025: Apri/Febi Satu-satunya Wakil Indonesia di Semifinal
-
Netflix Buka Suara Soal Yeji ITZY Gabung Alice in Borderland Season 3
-
4 Klub Unggas Sudah Berjaya di Tahun 2025, tapi Masih Ada Satu Lagi yang Harus Dinantikan!
-
Haechan akan Merilis Lagu The Reason I Like You, OST Second Shot At Love