Setiap profesi, apa pun itu, butuh ketekunan, kesabaran dan pantang menyerah dalam menjalaninya. Termasuk profesi jurnalis. Bukan jurnalis biasa tentu saja, apalagi abal-abal, melainkan jurnalis profesional yang dibekali dengan beragam ilmu pengetahuan dan sederet pengalaman.
Dalam buku ‘Panduan Menjadi Jurnalis Profesional’ diungkap bahwa kewartawanan atau jurnalisme merupakan kegiatan pencarian, penyusunan, dan pelaporan informasi. Proses tersebut dilakukan oleh pewarta atau wartawan yang disebut juga jurnalis. Kegiatannya atau proses kerjanya disebut reportase.
Pada awalnya, kegiatan kewartawanan tidak dilakukan secara langsung dan mandiri oleh wartawan, melainkan hanya disampaikan melalui public relation atau kehumasan. Jadi, dalam reportase hanya sebatas pertemuan insan pers dengan pihak yang berkepentingan dipublikasikan di media massa (hlm. 9).
Dalam melaporkan suatu berita atau peristiwa, seorang jurnalis harus berusaha menyusun bahasa yang menarik dan komunikatif. Jangan sampai bahasa yang digunakan terlalu bertele-tele dan berbelit-belit, apalagi sampai sulit dimengerti oleh para pembacanya.
Bahasa dalam dunia jurnalisme merupakan sesuatu yang vital. Mengingat, fungsi dan hakikat utama bahasa sebagai alat komunikasi. Pada media massa cetak, penggunaan bahasa sangat penting dan menentukan kelancaran proses komunikasi. Apabila terdapat teks berita yang melakukan kesalahan dalam penulisan ejaan maupun susunan sukukata, frasa, dan kalimat maka akan berpengaruh terhadap proses pemahaman oleh pihak pembaca (hlm. 43).
Sebuah media massa, selain berita atau tulisan-tulisannya diisi oleh para wartawan atau jurnalis, juga diisi oleh para pembaca atau penulis umum. Biasanya sebagian media massa menyediakan beberapa rubrik yang bisa diisi oleh para penulis lepas atau pembaca setianya. Misalnya rubrik surat pembaca, rubrik opini, dan rubrik sastra.
R. Toto Sugiharto menjelaskan, pada garis besarnya jenis tulisan yang dimuat di media massa terdiri dua macam, yaitu fiksi dan nonfiksi. Tulisan jenis fiksi akan diakomodasi pada rubrik seni atau sastra, seperti puisi, cerita pendek, dan cerita bersambung. Sedangkan tulisan nonfiksi diakomodasi di rubrik opini dan surat pembaca.
Buku karya R. Toto Sugiharto (terbitan Araska, 2019) ini menarik disimak, terutama oleh mereka yang bercita-cita sebagai seorang jurnalis andal atau profesional.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Dari Batagor Bang Agus Hingga Pindang Bandeng: Menelusuri Ragam Kuliner di Jakarta
-
Review Buku Fobia Cewek: Kumpulan Kisah Lucu dari Pesantren hingga Jadi Penulis
-
Cinta Itu Fitrah, Tapi Sudahkah Kamu Menaruhnya di Tempat yang Tepat?
-
Berhenti Takut Merasa Sepi! Ini Rahasia Mengubah Kesendirian Menjadi Penyembuhan Diri
-
Menyorot Tradisi Membaca Buku di Negara Jepang di Buku Aneh Tapi Nyata
Artikel Terkait
Ulasan
-
Membongkar Sisi Kelam Orde Baru dalam 'Larung': Sastra yang Menolak Dibungkam
-
Novel Misteri Kota Tua, Petualangan Beno Menyusuri Sejarah Kota Tangerang
-
Man on Fire, Series yang Sibuk Jadi Thriller Politik Sampai Lupa Rasa
-
Dibalik Pesona F4: Mengapa Kita Harus Berhenti Mengagungkan Hubungan Gu Jun Pyo dan Geum Jan Di?
-
Menyusuri Jambi Kota Seberang: Saat Rumah Kayu "Mengapung" di Atas Sungai
Terkini
-
Turun Stasiun, Langsung Jalan-Jalan! 5 Rekomendasi Destinasi Wisata Praktis di Purwakarta
-
Berhenti Merasa Nyaman dalam Ketidaktahuan: Mengapa Istri Wajib Tahu Keuangan Keluarga
-
Jebakan Asmara Digital: Mengapa Love Scamming Harus Membuka Mata Hati Kita
-
Bukan Sekadar Seni: Bagaimana Teater Jaran Abang Mengubah Remaja Jogja Menjadi Sosok Berdaya
-
Membongkar Peluang Skuad Garuda di Grup F Piala Asia 2027: Ujian Mental Menuju Pentas Dunia