Usia atau umur merupakan salah satu bahan percakapan ringan yang seringkali digunakan untuk membangun komunikasi dengan orang lain_melalui pengucapan satu sampai dengan tiga digit angka_ketika menjawab pertanyaan dan menjelaskan durasi perjalanan hidup kita menikmati keindahan dunia.
Seiring berjalannya waktu, usia yang semakin bertambah akan menjelaskan kedudukan kita pada rentang masa tertentu dalam siklus kehidupan dari masa pra lahir, masa kelahiran, masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa, dan masa tua yang diikuti dengan proses pertumbuhan dan perkembangan yang menyiratkan kisah-kisah unik dan spesifik ketika mengarunginya.
Dalam tinjauan psikologi, usia manusia dapat dibedakan menjadi Chronological Age atau usia kronologis dan Mental Age atau usia mental.
Chronological Age atau usia kronologis merupakan usia perjalanan hidup seseorang yang dihitung sejak pertama kali menghirup udara segar pada masa kelahirannya sampai dengan masa-masa selanjutnya dalam rentang perkembangan yang dilaluinya sepanjang tahun.
Usia kronologis merupakan salah satu identitas data induk administrasi kependudukan yang tercantum dalam Kartu Keluarga dan Kartu Tanda Penduduk yang dimiliki oleh semua orang yang tergabung dalam sebuah keluarga.
Usia kronologis disebut juga dengan usia kalender karena penghitungannya diperoleh berdasarkan siklus kalender. Proses penghitungan bisa dilakukan dengan cara mengetahui rentang waktu dari tanggal, bulan dan tahun kelahiran menuju tanggal, bulan dan tahun berjalan. Hasil akhir penghitungan disebut dengan usia kronologis yang akan semakin bertambah dalam setiap hari, bulan dan tahunnya.
Berikut ini ilustrasi penghitungan usia kronologis dari seseorang yang lahir pada tanggal 17 April 2000 dan dilakukan pada tanggal 20 September 2023: dari 17 ke 20 terdapat rentang selisih 3, dari 4 ke 9 terdapat rentang selisih 5, dari 2020 ke 2023 terdapat rentang selisih 23, maka usia kronologisnya adalah 23 tahun, 5 bulan, 3 hari.
Mental Age atau usia mental merupakan refleksi kematangan mental seseorang pada rentang perkembangan tertentu berkaitan dengan kemampuan berpikir rasional dan efektif yang diperoleh melalui prosedur test kecerdasan.
Usia mental tidak tertera di dalam dokumen kependudukan seperti Kartu Keluarga dan Kartu Tanda Penduduk melainkan tercantum dalam laporan hasil test kecerdasan.
Melalui prosedur ilmiah, standart, dan terukur, usia mental yang diperoleh dari rangkaian test akan dibandingkan dengan usia kronologis untuk menetapkan tingkat kecerdasan seseorang berdasarkan IQ. Penghitungan usia mental dilakukan oleh Psikolog yang memiliki keahlian dan wewenang.
Mengutip dari Kamus Istilah Kunci Psikologi, Intelligence Quotient (IQ) merupakan angka indeks tunggal yang menyatakan tingkat kecerdasan seseorang dibandingkan dengan orang lain dalam sampel standar dan cenderung tetap stabil secara relatif.
Menggunakan test kecerdasan Wechsler Adult Intelligence Scale (WAIS) bagi orang dewasa, menetapkan tingkat kecerdasan dibutuhkan standart baku penghitungan Intelligence Quotient (IQ) yang dikembangkan berdasarkan Standard Deviation melalui rumus sebagai berikut:
usia mental/usia kronologis x 100 = IQ
Dengan rumus tersebut, maka setiap orang yang memiliki usia kronologis dan usia mental yang sama dikatakan memiliki kecerdasan normal. Jika usia kronologisnya lebih rendah dari usia mental dikatakan memiliki kecerdasan normal atas, superior dan sangat superior.
Jika usia kronologisnya lebih tinggi dari usia mental dikatakan memiliki kecerdasan normal bawah, garis batas dan lemah mental.
Demikianlah pengenalan singkat mengenai usia kronologis dan usia mental dalam psikologi, seperti disadur dari buku Bruno, Frank J, Kamus Istilah Kunci Psikologi (1989) dan Suryabrata, Sumadi, Psikologi Pendidikan (1990). Usia kronologis dan usia mental melekat kuat dan memberi warna yang berbeda pada pribadi setiap orang. Semoga bermanfaat.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Clue Kemandirian Finansial di Balik Terputusnya 'Galak Gampil'
-
Mengubah Imajinasi Menjadi Cuan di Buku 'Kreativitas dalam Mainan Kardus'
-
Uji Taktual Baca Al-Qur'an Braille di 'Syiar Ramadhan Distra' Malang 2025
-
'Psikologi Keluarga', Rekomendasi bagi Pewaris Karakter Sistem Sosial
-
'Psikologi Kognitif' tentang Bagaimana Ingatan Manusia Bekerja
Artikel Terkait
-
Bukan Cuma Aturan Pendaftaran, Pramono Diminta Hapus Aturan Batas Usia PJLP yang Dibuat Heru Budi
-
5 Teknik Psikoterapi untuk Menangani Gangguan Mental, Ciptakan Coping Mechanism Sehat
-
Ulasan Buku Terapi Luka Batin: Menemukan Kembali Diri Kita yang Belum Utuh
-
Lebih Bahagia dengan Cara Sederhana: Mulai dari Micro-Moments of Happiness
-
Koreksi Diri, 3 Hal Ini Membuat Kita Terjebak dalam Pilihan Salah
Ulasan
-
Review Surga di Telapak Kaki Bapak: Drama Keluarga Spesial Lebaran
-
Perjalanan Menemukan Kebahagiaan dalam Ulasan Novel The Burnout
-
Review The Dreaming Boy is a Realist: Ketika Jaga Jarak Justru Bikin Baper
-
Review Anime Solo Leveling Season 2, Sung Jin-Woo Semakin Overpower
-
Ulasan Manga Sesame Salt and Pudding: Potret Romantis Pernikahan Beda Usia
Terkini
-
4 Padu Padan Outfit Girly ala Wonyoung IVE, Cocok untuk Gaya Sehari-hari
-
Terus Melesat, Pabrik Gula Capai 500 Ribu Penonton dalam 2 Hari Penayangan
-
Persija Jakarta Incar Posisi Empat Besar, Madura United akan Jadi Korban?
-
5 Serum Vitamin C dengan Formula Stabil, Cerahkan Kulit Tanpa Iritasi!
-
Penurunan Harga BBM: Strategi Pertamina atau Sekadar Pengalihan Isu?