Buku berjudul "What Happened to You?" yang ditulis oleh Bruce D. Perry dan Oprah Winfrey merupakan sebuah buku yang menjelaskan dunia trauma yang kompleks dan dampaknya yang mendalam terhadap manusia.
Kedua penulis mengeksplorasi akar dari trauma, pengaruhnya terhadap otak dan perilaku, serta langkah-langkah menuju kesembuhan dari trauma tersebut.
Buku ini terdiri dari sepuluh bab, yang mengupas tentang dampak traumatis masa kecil terhadap fungsi otak dan solusi untuk memperbaiki kondisi trauma.
Karya ini merupakan hasil kolaborasi dua penulis yang menyajikan naskahnya melalui gaya wawancara, mirip dengan gaya Oprah saat mewawancarai narasumber di acara televisinya.
Penulis pertama Oprah, bertanggung jawab atas pernyataan pembuka atau pertanyaan, sementara penulis kedua Dr. Bruce D. Perry, memberikan penjelasan saintis dan pengalaman sebagai seorang psikiater yang mendalami trauma.
Dalam pembahasan isi buku, Dr. Perry menyoroti dampak trauma masa kecil, yang sering kali dipicu oleh pola asuh yang tidak tepat atau pengabaian terhadap fungsi otak dan kesehatan jiwa manusia.
Melalui contoh kasus yang pernah ditanganinya, ia menggambarkan bagaimana anak-anak yang mengalami berbagai jenis pelecehan, baik fisik, verbal, atau emosional, yang dapat mengalami tantangan dalam perkembangan mereka.
Dalam menanggapi masalah-masalah ini, Dr. Perry menekankan pentingnya memahami apa yang terjadi pada manusia tersebut di masa lalu dengan pertanyaan, "Apa yang terjadi pada kamu?" bukan "Apa yang salah dengan kamu?"
Dr. Perry menjelaskan bahwa dalam situasi trauma, memori trauma disimpan di bagian otak primitif, yang ketika terpicu dapat menutup akses ke bagian otak yang digunakan untuk berpikir rasional.
Oleh karena itu, reaksi yang terlihat tidak masuk akal atau kurang jernih. Langkah pertama yang disarankan adalah menciptakan lingkungan yang aman dan penuh welas asih untuk membantu manusia tersebut meregulasi dirinya.
Buku ini juga menyoroti hakikat manusia sebagai makhluk sosial dan kebutuhan akan keterhubungan antar-individu. Dr. Perry menegaskan bahwa interaksi sosial secara langsung, diskusi tatap muka, dan pemahaman perasaan satu sama lain penting untuk membentuk empati.
Keterhubungan ini juga menjadi kunci dalam proses penyembuhan trauma, komunitas yang memberikan rasa aman dan welas asih dapat mempercepat proses tersebut.
Pertimbangan yang muncul dari buku ini mencakup refleksi terhadap pola asuh yang mungkin menyebabkan trauma pada anak-anak serta keprihatinan terhadap dampak luka akibat pola asuh yang tidak tepat.
Kesimpulan dari penulis buku ini adalah pentingnya berbuat baik dan memilih kebaikan dalam interaksi sehari-hari, terutama ketika kita tidak tahu permasalahan apa yang dialami oleh orang lain.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Film Penyalin Cahaya, Mengungkap Potret Gelap di Balik Institusi
-
Warung Mekar Jaya, Menikmati Gurihnya Nasi Genjes Khas Kota Malang
-
Ulasan Buku The Art of Stoicism, Misi Pencarian Makna tentang Kehidupan
-
Fenomena Job Hugging, Tanda Loyalitas atau Karier Stagnan?
-
Mengubah Hobi Jadi Gaya Hidup Sehat Lewat Olahraga Futsal
Artikel Terkait
-
Ulasan 'Quiet Impact, Tak Masalah Jadi Orang Introver' Karya Sylvia Loehken
-
Review 'Buku Minta Disayang' Hadir untuk Memeluk dan Menghibur Kaum Jomblo!
-
Ulasan Buku 'Pemuda Hebat Penuh Manfaat', Upaya Meningkatkan Kualitas Diri
-
'Buku Minta Dibanting' Rintik Sedu, Sindiran Estetik buat Kaum Jomblo!
-
Ulasan Novel 'Septihan', Kisah Jihan dalam Menaklukan Sang Pujaan Hati
Ulasan
-
Pelukmu Sementara, Hatiku Selamanya: Surat Cinta Pamungkas Vidi Aldiano yang Menembus Batas Waktu
-
Mengungkap Kedok Maskapai Super Buruk di Novel Efek Jera Karya Tsugaeda
-
Kenakalan Miss Keriting, si Guru Matematika di Novel Selena Karya Tere Liye
-
Review Film Memoria: Tutorial Bingung Secara Estetik Bareng Tilda Swinton
-
Number One: Film Melankolis Lembut dengan Akhir yang Menenangkan Hati
Terkini
-
Sholat Ied atau Khutbah Dulu? Ini Hukum jika Tidak Mendengarkan Ceramah
-
Evolusi Doa: Saat Saya Berhenti Meminta Dunia dan Mulai Meminta Ketenangan
-
Tayang 24 April, Girl from Nowhere Kembali Hadir Versi Remake Jepang
-
Siomay Bukan Dimsum: Memahami Istilah yang Tertukar dalam Kuliner Tiongkok
-
Mudik Jalur Sabar: Tutorial Gak Emosi Pas Macet Demi Sepiring Opor Ibu