Hidup ini akan terasa membosankan bila kita tidak memiliki rencana atau cita-cita yang ingin diraih. Ibarat orang bepergian, tapi tidak tahu ke mana tempat hendak dituju. Asal pergi, mengikuti kaki melangkah, tanpa tujuan, tentu saja hidup seperti ini akan terasa membosankan.
Maka, agar hidup yang kita jalani tidak menjemukan atau membosankan, kita harus memiliki rencana-rencana atau tujuan hidup. Misalnya, mengisi hari-hari dengan berbagai kegiatan positif, mulai dari bekerja mencari nafkah yang halal, menekuni hobi, menjelajah alam, dan seterusnya.
Kita harus berusaha memahami bahwa tujuan hidup kita di dunia adalah untuk beribadah. Dalam buku ‘Life is Boring’ dijelaskan, ibadah bukan hanya shalat, puasa, zakat dan ibadah haji, tapi mencakup seluruh aktivitas positif yang diorientasikan untuk Allah semata.
Jika kita memiliki keinginan jadi dokter, niatkan sebagai ibadah dengan tujuan untuk memberi bantuan kesehatan kepada siapa saja atas dasar mengharap ridha Allah. Andai ingin jadi penguasa, niatkan agar dapat mensejahterakan masyarakat. Ingin jadi hakim, niatkan agar dapat menegakkan keadilan demi ridha Allah. Ingin jadi guru, niatkan dengan ikhlas untuk mendidik anak-anak agar menjadi generasi yang beriman dan berprestasi (hlm. 70).
Menjadi manusia yang mandiri adalah tugas kita bersama. Menjadi manusia mandiri bukan berarti kita tidak butuh bantuan orang lain. Mandiri di sini dapat diartikan tidak menjadi tanggungan orang lain atau selalu menggantungkan hidup pada orang-orang di sekitar kita.
Bergantung kepada orang lain secara terus-menerus akan menumbuhkan sikap manja, malas dan tidak produktif. Kemandirian adalah suatu sikap mental yang mengajak kita untuk berpijak pada usaha dan kemampuan sendiri. Saat jadi pelajar, jangan menggantungkan contekan teman. Kalau bisa mencucui dan menyetrika baju sendiri, hindari meminta tolong orang tua. Saat sudah berpenghasilan sendiri, malu dong meminta uang jatah ke orang tua (hlm. 214).
Mungkin banyak orang yang menyesali diri karena di masa lalu banyak waktunya yang terbuang sia-sia. Ketika usia sudah semakin menua, mereka baru tersadar dan menyesali diri secara berlebihan.
Menurut saya, tak perlu kita berlebihan memandang masa lalu yang buruk. Yang terpenting adalah kita segera berbenah diri. Berusaha menjadikan hari ini lebih baik. Tidak ada kata terlambat untuk memulai hal baik.
Tidak ada kata terlambat bagi siapa saja yang ingin berbenah diri. Kuatkan tekad dan ubahlah aktivitas-aktivitas yang tidak berguna, abaikan kegiatan yang tidak bermutu, lenyapkan ambisi-ambisi semu, beralihlah menuju lompatan hidup yang lebih baik. Ingatlah, kata terlambat hanya berlaku jika niimat umur sudah dicabut (hlm. 226).
Buku ‘Life is Boring’ karya Abdillah Firmanzah Hasan yang diterbitkan oleh Elex Media Komputindo ini sangat menarik dijadikan sebagai motivasi atau pembangun jiwa yang mencerahkan. Semoga ulasan ini bermanfaat.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Self Reward sebagai Bentuk Perayaan atau Pemborosan?
-
Fenomena 'Beli Teman' dan Jasa Teman Jalan: Solusi Kesepian atau Modus Terselubung?
-
Dilema Perayaan Kemerdekaan dan Iuran Besar yang Memberatkan Warga
-
Bahagia di Usia 48 dan Masih Lajang: Rahasia di Balik Berdamai dengan Diri Sendiri
-
Dari Batagor Bang Agus Hingga Pindang Bandeng: Menelusuri Ragam Kuliner di Jakarta
Artikel Terkait
Ulasan
-
Ulasan Film Seni Merayu Tuhan: Refleksi Sunyi Anak Muda Mencari Arah Hidup
-
Review Kung Fu Soccer: Terlalu Absurd Disebut Film Tentang Sepak Bola, Apakah Layak Ditonton?
-
Film Na Willa dan Masa Ketika Masalah Terbesar Hanya Tak Bisa Bermain
-
Novel White Wedding: Ketika Warna Putih Menjadi Simbol Luka dan Kebahagiaan
-
Ulasan Red Swan: Kisah Kehidupan Elite yang Dibangun dari Perebutan Kuasa
Terkini
-
Dentuman Sound Horeg di Kuburan dan Masjid: Hiburan atau Sudah Kelewat Batas?
-
Bli Nyoman dan Desa Les: Ketika sebuah Desa Tumbuh tanpa Kehilangan Akarnya
-
Dari Party ke Padel, Cara Gen Z Mengubah Arti Nongkrong
-
Nyoman Nadiana dan Perjuangan Menghidupkan Desa Les untuk Masa Depan
-
Merayakan Kemerdekaan?