Ketika memiliki setumpuk masalah, sebagian orang memilih untuk memendam isi pikirannya.
Meskipun sebenarnya bercerita kepada orang terdekat adalah salah satu hal yang bisa menenangkan. Namun nyatanya, menemukan teman untuk bercerita memang tidak semudah itu.
Orang lain terkadang hanya sebatas penasaran dengan apa yang kita alami tanpa benar-benar tahu cara untuk berempati. Berdasarkan hal tersebut, Syahid Muhammad membagikan isi pikirannya dalam buku berjudul 'Kamu Gak Sendiri'.
Dalam buku ini, penulis memaparkan sejumlah pergolakan batin yang kerap ia alami. Mulai dari kecemasan, perundungan, harga diri yang rendah, hubungan toxic, hingga inner child.
Saat membaca buku ini, beberapa hal yang diungkapkan oleh penulis terasa sangat menyentuh. Ada banyak sisi kelam yang berhasil digali, dan itu terasa relate bagi saya pribadi.
Misalnya saat membahas perilaku teman-teman yang suka merundung, mencela, bahkan membicarakan aib kita di belakang.
Jika objek yang menjadi bahan cemoohan itu adalah kita, memang terasa sangat menyakitkan. Terlebih jika mereka adalah teman-teman nongkrong yang selama ini sering menemani. Kita akan merasa bahwa mereka amat jahat dan bermuka dua.
Tapi tanpa kita sadari, setiap dari kita juga pernah melakukan hal tersebut kepada seseorang. Membicarakan aib orang lain memang terasa sangat memuaskan, bukan?
Dan mungkin hal itulah yang mereka rasakan. Ada banyak faktor yang membuat orang-orang berperilaku seperti itu. Di antaranya adalah sebagai upaya coping mechanism mereka dalam menyembunyikan luka dari diri mereka sendiri.
Memang hal tersebut tidak bisa dibenarkan. Tapi ketika kita mampu memandang dari banyak sisi, niscaya kita bisa lebih lapang dan berdamai dengan perlakuan buruk dari orang lain.
Jika seseorang berhasil menyakiti kita, kita pun terkadang tidak sengaja menyakiti orang lain. Kita semua manusia biasa yang tidak pernah luput dari kesalahan. Yang bisa kita lakukan adalah belajar dari kesalahan tersebut untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Saya suka dengan penuturan penulis yang seolah bisa menjadi teman ngobrol saat membaca buku ini. Meskipun ditulis berdasarkan pengalaman pribadi, tapi sebagai pembaca, saya seolah turut merasakan setiap momen kesedihan yang diceritakan.
Sebagaimana judulnya, Kamu Gak Sendiri ini adalah buku yang bisa membuat pembaca merasa punya teman yang senasib lalu berbagi keresahan yang sama. Tidak menggurui, tidak terlalu banyak teori, tapi sangat menyentuh hati.
Bagi kamu yang saat ini sedang merasa tidak baik-baik saja, atau mungkin butuh bacaan yang bisa membantumu untuk memvalidasi emosi, buku ini layak untuk menjadi teman me time. Selamat membaca!
Baca Juga
-
Buku Ya Tuhan, Desain Grafis, Deadline, Doa: Curhat Absurd Pekerja Kreatif
-
Refleksi Idul Adha dalam Pendidikan Anak di Buku Kiat Menjadi Guru Keluarga
-
Dear You: Antara Cinta, Patah hati, dan Kisah yang Tak Pernah Usai
-
Keyakinan yang Mengubah Realitas dalam Buku Spontaneus Healing of Belief
-
Productivity Hack: 80 Inspirasi untuk Mendongkrak Produktivitas Pribadi
Artikel Terkait
-
Siswa SD Menulis Pengalaman Unik dalam Buku 'Aku dan Kambing Kesayanganku'
-
5 Rekomendasi Buku Horor Karya Penulis Indonesia, Cocok untuk Halloween!
-
Lewat 5 Rekomendasi Buku Ini, yuk Atur Kondisi Keuangan agar Tidak Berantakan
-
Review Scarlett Smoothing Retinol Serum: Minim Iritasi, Cocok untuk Pemula!
-
4 Rekomendasi Buku Karya Cal Newport untuk Tingkatkan Produktivitas
Ulasan
-
Lebih dari Sekadar Remake: Ayah, Aku Mau Cerita Buktikan Sinema Bisa Memanipulasi Realita
-
Keindahan Visual dan Hangatnya Surat Masa Lalu dalam Animasi Your Letter
-
Sinopsis Film Paket Santet: Ketika Sebuah Kiriman Membawa Teror Mematikan
-
Menyesap Dinginnya Kabut dalam Novel London: Angel Karya Windry Ramadhina
-
Review Vigilante: Ketika Batas Antara Pahlawan dan Penjahat Mulai Kabur
Terkini
-
Parenting di Era Digital: Ketika Gawai Menjadi Pengasuh Anak
-
Bukan Sekadar Cameo, Transformasi Agnez Mo di Reacher Season 4
-
Salah Jurusan Bukan Dosa: Menggugat Stigma pada Pilihan di Usia Muda
-
Kembali Ungkit STY, Mantan Mertua Pratama Arhan Kritik John Herdman!
-
Perang Belum Usai, 1,6 Juta Anak Ukraina Disebut Masih Terpisah dari Keluarga