Banyak hal yang bisa menyebabkan seseorang mengalami luka batin dalam hidupnya. Salah satunya karena pernah dikecewakan oleh seseorang. Misalnya, gagal dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Siapa yang mengira jika orang yang disayang dan semula dipercaya akan mampu menjadi pendamping hidupnya hingga akhir hayat, ternyata menghianati kesetiannya.
Bicara tentang luka batin memang sakitnya nggak main-main. Lukanya tidak tampak atau tak kasat mata. Tetapi perihnya bisa jadi melebihi perih tertusuk duri atau benda tajam.
Untuk bisa sembuh dari luka batin, tentunya dibutuhkan waktu yang tak sebentar dan keluasan hati untuk berdamai dengan diri sendiri, menerima segala yang sudah terjadi, segala hal yang memang di luar kuasa kita dan tidak bisa kita kendalikan.
Tak perlu berlarut dalam kesedihan panjang, apalagi sampai menjadi manusia yang membenci diri sendiri atau menyalahkan keadaan. Maafkanlah segala hal yang telah berlalu. Mungkin ini agak sulit diterima, tetapi percayalah, memaafkan itu lebih mulia dan membuat dada terasa lebih lega.
Muyassaroh, dalam bukunya yang berjudul ‘Terluka untuk Sembuh’ mengajak untuk tidak terus menerus hidup dalam kebencian, tak apa memaafkan karena memaafkan adalah proses berdamai dengan diri sendiri. Jangan sampai kita terpenjara dalam perasaan kesal terus menerus. Kebencian itu harus diakhiri segera. Demi diri sendiri. Demi kesehatan mental kita. Allah pun memerintahkan kita supaya mudah memaafkan orang lain.
Jangan sampai kita hidup sambil memendam luka batin, membiarkannya tetap menggerogoti kesehatan mental kita. Jangan sampai kita hidup dalam trauma yang berkepanjangan. Jika dibutuhkan, jangan segan untuk mendatangi para ahli dan selesaikan masalah itu segera. Hiduplah dalam rasa lapang sampai ingatan pahit itu tidak terasa menyakitkan lagi saat diingat kembali (hlm. 12-13).
Hal yang terpenting yang harus selalu kita ingat dalam menjalani kehidupan di dunia ini adalah: jangan terlalu bergantung harapan pada orang lain. Karena bergantung, apalagi sampai memiliki harapan yang besar, pada orang lain itu hanya akan menimbulkan rasa kecewa dan bisa jadi meninggalkan luka batin yang dalam ketika apa yang diharapkan ternyata tidak sesuai.
Benar kata Muyassaroh dalam buku terbitan Quanta (Jakarta) ini, bahwa manusia sering dikecewakan oleh harapannya yang terlalu tinggi kepada makhluk bernama manusia. Sebaik dan sesempurna apa pun orang yang kita lihat, sampai kapan pun ia tetaplah manusia. Ia adalah tempatnya salah dan lupa. Jangan sampai seribu kebaikan yang telah ia lakukan terlupakan begitu saja oleh satu kesalahan yang tak sengaja dilakukannya.
Sama dengan orang lain yang pernah berbuat salah atau khilaf, kita pun bisa sering melakukan kesalahan. Entah itu yang disengaja maupun tidak disengaja. Hanya saja Allah menutupi aib kita hingga tak seorang pun dapat melihatnya. Kita butuh dimaafkan ketika melakukan salah, begitu juga dengan orang yang berbuat salah pada kita, juga butuh untuk kita maafkan (hlm. 17).
Buku genre motivasi ini sangat cocok dijadikan sebagai bacaan yang akan membantu Anda, khususnya kaum perempuan, untuk berdamai dengan keadaan yang sering kali berbeda dengan yang diharapkan.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Self Reward sebagai Bentuk Perayaan atau Pemborosan?
-
Fenomena 'Beli Teman' dan Jasa Teman Jalan: Solusi Kesepian atau Modus Terselubung?
-
Dilema Perayaan Kemerdekaan dan Iuran Besar yang Memberatkan Warga
-
Bahagia di Usia 48 dan Masih Lajang: Rahasia di Balik Berdamai dengan Diri Sendiri
-
Dari Batagor Bang Agus Hingga Pindang Bandeng: Menelusuri Ragam Kuliner di Jakarta
Artikel Terkait
-
Nikmati Dunia Elf yang penuh Warna dengan Buku 'How to Catch an Elf'
-
Lebih Mengenal Lagi Dunia Gelap Amerika Serikat dengan Novel The Guardians
-
Ulasan Buku Good Habit Good Life, Panduan untuk Hidup yang Lebih Baik
-
Ulasan Buku 'Blue Moon', Petualangan Marabahaya Dunia Mafia yang Menakutkan
-
Ulasan Buku 'A Minute to Midnight', Menelusuri Kasus yang Belum Terpecahkan
Ulasan
-
The Chosen in the Wild with Bear Grylls: Refleksi Kehidupan di Alam Bebas
-
The Poppy War dan Representasi Sejarah Tiongkok dalam Balutan Fantasi
-
Usai Festival Literasi Kutoarjo, OUT OF THE BOOX Kini Ramaikan Purworejo
-
Review Film Challengers: Saat Tenis Menjadi Arena Intrik dan Hasrat Jiwa!
-
The End of Oak Street: Saat Teror Dinosaurus Menginvasi Perumahan Suburban
Terkini
-
Cari Monitor 27 Inch 2K? Ini 5 Pilihan Terbaik Mulai Rp2 Jutaan Aja
-
Saat Jaket Hijau Hormat Bendera: Keringat Ojol dan Isu Kesejahteraan
-
Wajah Baru Jalan A. Yani Nganjuk: Jadi Pusat Dagang Hingga Spot Nongkrong
-
Game Populer Kingdom Hearts Resmi Dapat Anime Orisinal, Tayang di Disney+
-
Review Kingdom of the Planet of the Apes: Kebangkitan Era Baru Kaum Primata