Sebagai penikmat film, pernahkah kamu dibuat terpukau sama teknik sinematografi dari film maupun series? Jika iya, berarti kita sama. Nah, mini series berjudul: Adolescence, yang tayang di Netflix sejak 13 Maret, benar-benar mind-blowing!
Mini series ini disutradarai Philip Barantini, yang sebelumnya bikin Boiling Point (2021) dengan konsep serupa.
'Adolescence' menarik dibahas bukan karena hype besar atau deretan aktor ternama, tapi karena cara series ini dieksekusi. Berjumlah empat episode, dan setiap episode direkam dalam satu pengambilan kamera tanpa cut. Gila, kan?
Sebuah Kisah Kriminal dari Sudut Pandang yang Beda
Premisnya mungkin terdengar biasa: Jamie Miller (Owen Cooper), remaja 13 tahun, dituduh membunuh teman sekelasnya, Katie. Polisi datang pagi-pagi buta, menyeretnya keluar rumah, sementara orang tuanya masih setengah sadar karena shock.
Dari situ, cerita mulai terurai dalam empat episode, masing-masing punya sudut pandang yang berbeda:
- Episode 1: Dari momen Jamie ditangkap sama Tim SWAT, dibawa ke kantor polisi, sampai interogasi pertama. Semua terjadi real-time tanpa cut. Ini keren banget, asli!
- Episode 2: Melihat bagaimana sekolah Jamie bereaksi setelah berita penangkapannya menyebar.
- Episode 3: Wawancara panjang Jamie dengan psikolog, Briony Ariston (Erin Doherty). Salah satu episode paling menegangkan meski cuma berisi dialog dua orang.
- Episode 4: Fokus ke efek dari kasus ini terhadap keluarga Jamie, terutama ayahnya, Eddie (Stephen Graham yang juga selaku co-creator series ini).
Dari keseluruhan episodenya, beberapa hal dapat dipetik, bahwa 'Adolescence" bukan cuma soal Jamie bersalah atau nggak. Lebih dari itu, series ini menunjukkan gimana sebuah tuduhan kriminal bisa menghancurkan hidup seseorang, bahkan sebelum kebenaran terungkap.
Ada juga isu-isu sosial yang relate banget, di antaranya tentang tekanan pergaulan, kejamnya opini publik, sampai sistem hukum yang kadang nggak berpihak ke mereka yang lemah.
One-Take yang Bikin Takjub
Kalau kamu pernah nonton Film 1917 atau Boiling Point, pasti sudah kebayang betapa susahnya bikin film dengan teknik one-take. Namun, “Adolescence’ melakukan ini di empat episode penuh. Dan bukan cuma sekadar eksperimen teknis, eksekusinya bener-bener gokil.
Kutekankan lagi, setiap episode berdurasi 50-60 menit TANPA cut! Kameranya terus bergerak, mengikuti karakter dari satu ruangan ke ruangan lain, masuk mobil, keluar gedung, bahkan dalam adegan penuh aksi kayak penangkapan Jamie di episode pertama.
Kebayang nggak betapa rumit saat proses pengambilan gambar termasuk editingnya? Ya kali aktor harus hafal dialog sepanjang satu jam, dan kalau ada yang salah di menit ke-55 diulang dari awal proses syutingnya?
Kayaknya mereka lebih paham teknik dan triknya deh. Maka jelas ya, koordinasi antara sinematografer, sutradara, dan aktor harus sempurna.
Jadi, worth it nggak buat ditonton? Kalau kamu suka drama kriminal yang intens, dengan storytelling yang beda dari yang lain, 'Adolescence' wajib masuk daftar tontonanmu.
Sewajib itukah? Ya! Soalnya mini series ini bukan cuma tentang anak remaja yang dituduh membunuh, tapi juga eksperimen sinematik yang benar-benar mendobrak batasan.
Netflix mungkin nggak ngasih banyak promosi, tapi kalau kamu sudah mulai nonton episode pertama, percaya deh, kamu nggak bakal bisa berhenti. Dan setelah episode terakhir selesai, kamu mungkin bakal nanya hal yang sama kayak yang ada di kepala dan pikiranku.
Omong-omong, ulasan ini bersifat subjektif ya. Sulit rasanya untuk objektif karena semua itu kembali ke soal selera tontonan. Aku bilang ini keren dan bagus, tapi bisa jadi malah sebaliknya saat kamu menontonnya.
Perbedaan penilaian dan sudut pandang cara kita melihat suatu tontonan itu wajar kok, jadi kalau kamu nantinya kurang suka mini series ini, itu berarti ‘Adolescence’ bukan tontonan buatmu. Sesimpel itu. Ups.
Skor: 4,5/5
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Bukan Sekadar Superhero: Sisi Gelap Spider-Noir yang Menampar Realita
-
Dukun Magang: Mengapa Horor Komedi Jadi Formula Paling 'Nagih' di Bioskop Indonesia?
-
Demi Krypto dan Cinta: Pengorbanan yang Menjadi Jantung Film Supergirl
-
Ketika Film Cerita Lila Menjadi Cerminan Luka Masa Kecil
-
Mengenal Dimensi Liminal, Sumber Teror Utama Film Backrooms
Artikel Terkait
-
'A Normal Woman': Drama Misteri-Psikologis Dipastikan Tayang April 2025
-
Chaos: The Manson Murders: Saat Mind Control Lebih Ngeri dari Pembunuhan
-
5 Fakta Menarik Adolescence, Drama Kriminal yang Mengguncang Netflix
-
Review Wanita Ahli Neraka: Bongkar Peran Perempuan dalam Film Horor Religi
-
The Electric State: Dunia Alternatif Penuh Robot dan Petualangan!
Ulasan
-
Ulasan Film Tanah Runtuh: Tragedi Kemanusiaan Poso yang Menguras Air Mata
-
The Bodyguard From Beijing: Film Jet Li yang Bikin Masa Kecil Kita Berdebar-debar
-
Ulasan The Auditors, Kisah Seru Tim Audit yang Bekerja Layaknya Detektif
-
Ulasan Film Jangan Buang Ibu: Ego Anak, Penyesalan, dan Air Mata di Panti Jompo
-
Hospitality: Seni Memanusiakan Pelanggan di Tengah Persaingan Bisnis
Terkini
-
Diplomasi Manis RI-AS: Menagih Realisasi Investasi Hijau Paman Sam
-
Kenalkan Karakter Baru, Ini Tampilan Perdana Film The Angry Birds Movie 3
-
Piala Dunia 2026: Cetak Rekor, Erling Haaland Kian dekat Raih Gelar Topskor
-
Prediksi Curacao vs Pantai Gading: Misi Panas Kedua Tim di Philadelphia
-
Analisis Taktik Ekuador vs Jerman: Die Mannschaft Jaga Mental Juara