Sikap optimistis sangat dibutuhkan oleh setiap orang di berbagai belahan dunia. Orang yang memiliki sikap optimitis akan mampu menjalani hari-hari dengan lebih bersemangat. Ia tak gampang menyerah oleh keadaan dan selalu berusaha berbaik sangka terhadap segala hal yang dihadapi, baik manis maupun pahit.
Dalam buku ‘Jadilah Pribadi Optimistis’ (25 Alasan Kamu Tetap Semangat Menjalani Hidup) diungkap bahwa optimis obat mujarab untuk para pejuang. Optimis melahirkan harapan demi harapan. Jika kamu optimis, musibah yang datang menghampiri malah menjadi anugerah dan berkah. Ujian yang terasa susah pun menjadi berkah.
Orang yang memiliki sikap optimistis artinya ia adalah orang yang tak mudah menyerah dan putus asa dalam mengarungi kerasnya kehidupan. Orang-orang yang sukses dan berhasil menjadi pemenang adalah termasuk orang-orang yang memiliki optimistis yang tinggi.
Lain halnya dengan orang-orang yang selalu merasa kalah, rendah diri, minder, atau merasa selalu gagal dalam setiap pertandingan, biasanya disebabkan oleh sikap pesimistis yang bersemayam subur dalam dirinya. Ia enggan berjuang atau berusaha lebih keras karena sikap pesimis lebih mendominasi dalam jiwanya.
Selama kita menggunakan pola pikir pesimis, selama itu pula kita tidak akan tenang, hilang kepercayaan diri, dan saat bangun pagi seolah kita hanya melihat berbagai kesulitan dan bencana yang telah menanti (hlm. 14).
Memang tak dipungkiri bahwa dalam menjalani kehidupan ini, setiap orang memiliki ujian dan kesulitannya sendiri-sendiri. Namun, semua akan dapat teratasi dengan baik bila kita memiliki pola pikir optimistis. Selalu berusaha memiliki prasangka yang baik pada Allah, sesama manusia, dan yakin bahwa setiap ujian atau kesulitan itu pasti ada batas akhirnya.
Andai frustrasi menguasai hidupmu sehingga kamu kehilangan indahnya hidup, maka penuhilah imajinasimu agar frustrasi itu tidak masuk ke dalam hati. Katakan pada dirimu, “Aku sangat optimis dengan kebaikan ini, dan niscaya aku akan mendapatkannya” (hlm. 20-21).
Memperbanyak rasa syukur dapat dijadikan sebagai salah satu cara agar kita memiliki rasa optimistis. Bersyukur juga menjadi kunci ketenangan dan kebahagiaan dalam menjalani hidup ini. Menariknya lagi, dengan banyak bersyukur, maka kenikmatan yang kita peroleh akan diperbanyak oleh Allah.
Ketika dunia ini serasa sempit, ingatlah orang lain yang mungkin sekarang ini sedang tidur di jalanan dan tidak menemukan tempat bernaung, tidak menemukan sepotong roti untuk dimakan. Ingatlah orang-orang telantar dan tidak ada yang mencukupinya. Ingat juga teman-temanmu yang berada di negeri terjajah, yang harta, jiwa dan kehormatannya tidak terlindungi. Bahkan, untuk memejamkan mata pun mereka tak bisa (hlm. 61).
Penting direnungi bersama bahwa dalam menjalani kehidupan ini, kita akan berhadapan dengan dua hal yang saling berlawanan. Misalnya, baik dan buruk, senang dan sedih, bahagia dan menderita, hitam dan putih, dan seterusnya. Dua hal ini, bila kita mampu menyikapinya dengan sewajarnya dan bijaksana, maka jiwa kita akan lebih lega, lapang dada, tenang, dan tentu saja bahagia.
Dalam buku ini diuraikan, dunia ini hanyalah berisi dua perkara: sengsara dan nikmat; senang dan susah; gagal dan sukses; setia dan khianat; musim panas dan dingin; serta siang dan malam. Dia diciptakan demikian bukan dalam satu bentuk. Sementara itu, orang yang tak mau menerima kondisi dunia yang seperti itu, maka seolah-olah ia menghendaki matahari terbit dari barat, padahal mestinya ia terbit dari timur.
Jika kita mau merenung, justru kesengsaraan dan kesusahanlah yang melahirkan semangat. Kesengsaraanlah yang memberi rasa lezat pada kehidupan. Seandainya tanpa kesusahan niscaya kenikmatan, kenyamanan, dan kemakmuran tidak akan pernah ada (hlm. 100).
Buku karya Musthafa Kamal yang diterbitkan oleh penerbit Qalam (Jakarta) ini sangat cocok dijadikan sebagai bacaan penyulut semangat dan sumber motivasi bagi siapa saja, khususnya kaum muda yang tengah berjuang menggapai cita-cita. Buku ini akan membantu kita lebih semangat dalam mengarungi kehidupan.
Baca Juga
-
Bahagia di Usia 48 dan Masih Lajang: Rahasia di Balik Berdamai dengan Diri Sendiri
-
Dari Batagor Bang Agus Hingga Pindang Bandeng: Menelusuri Ragam Kuliner di Jakarta
-
Review Buku Fobia Cewek: Kumpulan Kisah Lucu dari Pesantren hingga Jadi Penulis
-
Cinta Itu Fitrah, Tapi Sudahkah Kamu Menaruhnya di Tempat yang Tepat?
-
Berhenti Takut Merasa Sepi! Ini Rahasia Mengubah Kesendirian Menjadi Penyembuhan Diri
Artikel Terkait
-
Tragedi di Pesta Pernikahan dalam Novel Something Read, Something Dead
-
Review Novel 'Kokokan Mencari Arumbawangi': Nilai Tradisi di Dunia Modern
-
Perjalanan Menemukan Kebahagiaan dalam Ulasan Novel The Burnout
-
7 Manfaat Kesehatan Mengejutkan dari Membaca Buku Setiap Hari
-
Novel Homicide and Halo-Halo: Misteri Pembunuhan Juri Kontes Kecantikan
Ulasan
-
"The Rock from the Sky" dan Pelajaran tentang Berani Menghadapi Perubahan
-
Maju: Jejak Pahit Si Kembang Gula, Film Anak Nggak Harus Kekanak-kanakan
-
Review Deep Water: Kendati Klise, Film Serangan Hiu Selalu Seru Ditonton!
-
Tokyo Schoolgirl Karya Osamu Dazai: Potret Kecemasan Remaja yang Mengusik
-
The Manipulated: Ketika Pria Lugu Melawan Konspirasi Kejam, Penuh Aksi dan Kritik Sosial
Terkini
-
Saat Jas Putih Diuji: Selelah-lelahnya Tenaga Kesehatan, Tetap Lebih Melelahkan Jadi Pasien
-
Harga Alat Medis Empat Kali Lipat, Bisakah Layanan Kesehatan Tetap Murah?
-
Bencana dari Hal Sepele: Bahaya Buang Puntung Rokok Sembarangan di Musim Kemarau
-
Fenomena AI Slop: Mengapa Poster UMKM Makin Seragam dan Bikin Kita Bosan?
-
Jangan Salahkan Attitude! Ini Alasan Logis Kenapa Gen Z Susah Cari Kerja