Michelle Harrison menghadirkan sebuah kisah fantasi menawan lewat A Pinch of Magic, yang berfokus pada tiga saudari Widdershin: Betty, Fliss, dan Charlie.
Cerita ini mengambil tempat Crowstone, sebuah pulau kelam dengan banyak rahasia, salah satunya kutukan yang menjerat keluarga Widdershin selama beberapa generasi.
Kutukan itu membuat setiap perempuan di keluarga mereka akan kehilangan nyawanya jika meninggalkan pulau tersebut.
Tema inilah yang menjadi dasar petualangan menegangkan sekaligus mengharukan dalam buku ini. Betty sebagai tokoh utam digambarkan memiliki karakter jiwa petualang tinggi yang penuh semangat.
Harrison membuat karakter Betty cukup kuat. Hal ini digambarkan dari sosoknya yang terlihat gigih, berani, namun keras kepala.
Sementara itu, Fliss sebagai kakak tertua memiliki sifat penyayang dan penuh kehati-hatian untuk melindungi adik-adiknya.
Sebagai si bungsu, karakter Charlie yang ceria dan polos tentu memberikan warna tersendiri dalam cerita ini. Dia juga sangat menyukai hewan dan makanan.
Yang membuat novel ini berbeda adalah hubungan ketiga saudari ini yang digambarkan sangat natural. Harrison dengan piawai menangkap dinamika antara saudara kandung yang saling mendukung, bertengkar, cemburu, tapi tetap tak terpisahkan.
Hubungan mereka terasa hidup dan nyata, sehingga pembaca mudah tersentuh dengan momen-momen kehangatan maupun ketegangan yang mereka alami bersama.
Meskipun jalan cerita membawa mereka ke situasi-situasi berbahaya dan penuh ketidakpastian, ikatan mereka justru makin kuat, memperlihatkan bahwa keluarga adalah kekuatan utama dalam menghadapi apa pun.
Unsur fantasi yang menarik ditunjukkan melalui benda seperti pusaka ajaib. Tidak hanya itu, satu set boneka kayu dan tas lusuh ajaib juga menjadi benda magis yang menemani perjalanan mereka.
Tiga pusaka ajaib yang dimiliki keluarga Widdershin tidak sekadar menjadi penunjang perjalanan para saudari itu, melainkan juga menyimpan nilai historis sebagai simbol warisan leluhur mereka.
Masing-masing benda menyimpan kekuatan istimewa sekaligus ancaman tersendiri, yang secara bertahap terungkap seiring berjalannya kisah.
Michelle Harrison tidak hanya menajikan cerita fantasi yang penuh sihir dan petualangan, tetapi juga menampilkan berbagai karakter pendukung yang meninggalkan kesan kuat.
Salah satunya adalah Granny Widdershin. Ia adalah nenek dari ketiga saudari ini yang dikenal memiliki karakter tegas dan tanpa kompromi saat menyangkut keselamatan cucu-cucunya.
Sosok perempuan yang kuat menjadi kesan pertama yang terlihat dari nenek Granny. Ia juga sangat memegang teguh prinsip yang ia pegang. Hal ini juga menjadi sumber kehangatan sekaligus ketegasan bagi para cucu.
Kehadiran Colton, seorang tahanan misterius, menambah lapisan emosi dalam cerita. Ia bukan hanya sekadar tokoh tambahan semata. Karakter dan latar belakangnya memiliki nilai tambah untuk membuat kisah ini semakin menarik.
Salah satu kekuatan utama novel ini terletak pada alur ceritanya yang tampak sederhana namun penuh kejutan.
Tanpa disadari, cerita novel ini membawa orang yang membacanya seperti masuk ke dalam kisah lama yang berkaitan erat dengan takdir keluarga Widdershin.
Gaya penulisan Harrison ringan dan mengalir, membuat novel ini cocok untuk pembaca segala usia, khususnya penggemar fantasi menengah.
Dialog antar karakter terasa hidup, penuh humor dan ketegangan pada saat yang tepat. Selain itu, latar tempat Crowstone yang muram namun penuh pesona berhasil dibangun dengan detail, menciptakan suasana yang mendukung nuansa misteri cerita.
A Pinch of Magic menjadi pilihan novel yang tidak hanya menampilkan kisah petualangan dan sihir. Di balik itu semua, terselip makna tentang arti keluarga, keberanian melawan nasib, serta kuatnya ikatan persaudaraan yang tak bisa diukur nilainya.
Secara keseluruhan, A Pinch of Magic adalah novel fantasi yang tidak hanya menyajikan kisah seru dan benda-benda ajaib, tetapi juga membangun karakter yang kuat dan hubungan emosional yang tulus.
Buku ini layak dibaca bagi siapa pun yang menyukai petualangan penuh kejutan, dengan sentuhan sihir dan persaudaraan yang mengharukan.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Kenang-Kenangan Mengejutkan Si Beruang Kutub: Kritik Sunyi untuk Diktator
-
Ulasan Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang, Lelah Hidup yang Sunyi
-
Luka Sejarah dalam Perempuan dan Anak-Anaknya
-
Novel No Place Like Home: Ketika Rumah Tak Selalu Berarti Pulang
-
Analisis Cerpen Robohnya Surau Kami: Kritik A.A. Navis tentang Ibadah Tanpa Amal
Artikel Terkait
-
Perluas Akses Pendidikan di Tangerang Selatan, Anak Mitra Driver Ojol Dapat 50 Ribu Buku
-
Perjalanan Seorang Ibu Tunggal Menemukan Cinta dalam Novel bertajuk Sawyer
-
FOMO Membaca: Ketika Takut Ketinggalan Justru Membawa Banyak Manfaat
-
Review Novel Kembali Bebas, Ketika Menikah Lama Bukan Berarti Bahagia
-
Ulasan Novel King of Envy: Cinta Terlarang Antara Billionaire dan Supermodel
Ulasan
-
Kejujuran yang Diadili: Membaca Absurditas dalam 'Orang Asing' karya Albert Camus
-
Review Never Back Down (2008): Film dengan Latar Belakang Seni Bela Diri Campuran!
-
Kejamnya Label Sosial Tanpa Pandang Umur di Novel 'Dia yang Haram'
-
Tanah Gersang: Kritik Tajam Mochtar Lubis Tentang Moral di Ibukota
-
Drama China You Are My Hero: Ketika Medis dan Militer Bertemu
Terkini
-
Topeng Arsenik di Pendapa Jenggala
-
Dihubungi John Herdman, Peluang Tampil Sandy Walsh di Timnas Kian Besar?
-
Veda Ega Pratama Debut Moto3: Seberapa Besar Peluangnya Melaju di MotoGP?
-
Preppy Hingga Street Style, Intip 4 Ide OOTD Layering ala Shin Eun Soo Ini!
-
Fetisisme Kesibukan: Saat Lelah Menjadi Simbol Status Sosial