Dalam dunia digital yang bergerak begitu cepat, istilah FOMO atau Fear of Missing Out menjadi bagian dari keseharian banyak orang di era sekarang.
Biasanya, FOMO dikaitkan dengan hal-hal yang konsumtif, takut ketinggalan sebuah tren fashion, gadget terbaru, tempat nongkrong viral, atau bahkan konten yang sedang ramai di media sosial.
Namun, siapa sangka kalau FOMO juga merambah dunia literasi loh? Ya, fenomena FOMO dalam membaca kini semakin terasa. Ketika sebuah buku viral di TikTok, masuk daftar best-seller, atau dibahas oleh banyak influencer.
Banyak orang merasa tertinggal jika belum mencoba untuk membacanya. Bahkan tak sedikit yang buru-buru membeli atau menyelesaikan buku tersebut agar bisa ikut dalam arus pembicaraan.
Sekilas, ini tampak seperti tekanan sosial yang sangat berat. Namun jika dilihat dari sisi lain, FOMO membaca bisa menjadi dorongan positif yang sangat besar.
Berbeda dengan FOMO yang mendorong konsumsi berlebihan dan terkadang tidak bermanfaat, FOMO membaca justru bisa menjadi pintu masuk untuk membentuk energi dan kebiasaan baik bagi seseorang.
Ketika seseorang membeli buku hanya karena semua orang membacanya, itu mungkin bukan niat yang paling murni. Bisa dibilang karena FOMO tadi, dan bukan karena niat tulus.
Tapi siapa tahu dari situ, lahir kebiasaan baru seperti membaca buku secara rutin, mengunjungi toko buku, berdiskusi tentang isi buku, bahkan mulai menulis ulasan pribadi.
Memiliki niat untuk membaca saja sudah menjadi sebuah pencapaian baik dalam diri, apalagi kalau dari FOMO tersebut menjadi sebuah kegiatan yang positif untuk pengembangan diri ke depannya.
Tren ini juga memperluas cakrawala literasi. Lewat algoritma media sosial yang semakin canggih, pembaca bisa dengan mudah menemukan banyak genre dan penulis yang sebelumnya mungkin tidak dikenal.
Misalnya, seseorang yang awalnya hanya menyukai novel romantis, jadi tertarik membaca buku self-help karena melihat banyak ulasan positif tentang buku pengembangan diri.
Atau sebaliknya, pembaca serius yang biasanya hanya membaca nonfiksi berat, jadi penasaran mencoba fiksi populer yang kini sedang naik daun.
Namun tentu, tidak semua jenis FOMO membaca harus dituruti secara membabi buta. Tidak semua buku yang viral akan cocok dengan semua pembaca.
Yang paling penting adalah kita bisa menjadikan FOMO menjadi sebuah kesempatan untuk mengembangkan diri kita ke arah yang lebih baik. Tentunya dengan membeli atau membaca buku-buku yang kamu anggap suka terlebih dahulu.
Selain itu juga, tidak semua tren perlu diikuti jika memang tidak sesuai selera atau kebutuhan pribadi. Maka penting juga untuk membangun kesadaran, baca karena ingin, bukan hanya karena ramai saja.
Di sisi lain, fenomena FOMO ini juga bisa menjadi pintu masuk inklusif bagi para pembaca pemula. Banyak orang yang sebenarnya ingin mulai membaca tapi bingung harus mulai dari mana.
Tren literasi yang ramai di media sosial bisa membantu mereka menemukan titik awal yang menyenangkan. Ini mirip dengan kutipan Najwa Shihab yang sangat terkenal: “Hanya perlu satu buku untuk jatuh cinta pada membaca," maka carilah buku yang kamu suka.
Kalau dibandingkan dengan FOMO pada hal-hal lain yang cenderung konsumtif atau membuat overthinking, FOMO dalam membaca justru relatif sehat dan produktif.
Ini adalah bentuk rasa ketinggalan yang bisa memperluas wawasan, memperdalam empati, dan memperkaya kehidupan seseorang. Karena pada akhirnya, setiap buku membawa dunia baru bagi pembacanya, dan tak ada ruginya kita ingin ikut masuk ke dalamnya.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Dari Novel ke Film: The Housemaid Sebuah Thriller Psikologis yang Mencekam
-
Obsesi Kekuasaan dan Keserakahan Manusia atas Alam dalam Novel Aroma Karsa
-
Advokasi Gender dalam Novel Perempuan yang Menangis Kepada Bulan Hitam
-
Ulasan Novel Lelaki Harimau: Kekerasan Rumah Tangga hingga Trauma Generasi
-
5 Fakta Menarik Novel Animal Farm Jelang Adaptasi Film di Tahun 2026
Artikel Terkait
-
Ulasan Novel King of Envy: Cinta Terlarang Antara Billionaire dan Supermodel
-
Ulasan Novel Immaculate Conception: Ambisi dan Identitas dalam Distopia
-
Review Buku Student Guidebook for Dummies: Hidup Pelajar Nggak Seserius Itu
-
Ulasan Novel Kills Well with Other: Kisah Perempuan Pembunuh yang Angkuh
-
Review Novel The Cat Who Saved Books: Ketika Buku Memiliki Kuasa yang Besar
Kolom
-
Rel Padat dan Sistem Renggang: Catatan Kritis dari Kecelakaan KRL di Bekasi Timur
-
Saya Memihak Menteri PPPA: Menempatkan Lelaki di Depan Bukan Diskriminasi, Tapi Logika Perlindungan
-
Mitos Sekolah Gratis: Menelusuri Labirin Biaya di Balik SPP Nol Rupiah
-
Andrie Yunus dan Bayang-Bayang Marsinah: Sejarah yang Terasa Berulang
-
Pentingnya Sebuah Kesadaran: Menilik Teguran Kepada Konten Kreator di IKEA
Terkini
-
Bukan Sekadar Film Laga, Mengapa 'Ikatan Darah' Justru Bikin Merinding?
-
Perempuan Bergaun Kuning yang Duduk di Atap Rumah Lek Salim
-
Era Baru Smartphone: 5 HP 2026 dengan Daya Tahan 3 Hari dan Performa Ngebut
-
Dari Carnaby Street ke New York: Realitas yang Menampar dalam The Look
-
Sinopsis Lets Begin Again, Drama Thailand Dibintangi Namtarn Pichukkana