Novel Si Anak Pemberani karya Tere Liye merupakan bagian keempat dari serial Anak-Anak Mamak yang terbit pada 2018. Digubah dari judul awalnya yakni "Eliana" Yang terbit pertama kali pada 2011. Novel ini mengusung nilai-nilai pendidikan yang sangat perlu diketahui oleh anak-anak hingga remaja.
Dalam buku ini, tokoh utama adalah Eliana—anak sulung dari empat bersaudara yang tinggal di perkampungan di wilayah Bukit Barisan, Sumatra. Dibesarkan oleh Mamak yang tegas dan Bapak yang bijaksana, Eliana tumbuh menjadi pribadi yang kuat, pemberani, dan tak gentar membela keadilan.
Identitas Buku
- Judul: Si Anak Pemberani
- Pengarang: Tere Liye
- Penerbit: Republika Penerbit
- Tahun Terbit: 2018
- Tebal: 424 halaman
Seperti novel-novel Tere Liye lainnya dalam serial ini, kisah Eliana dibungkus dalam latar yang kental dengan nuansa pedesaan: hutan lebat, sungai yang mengalir jernih, kebun karet, sawah tadah hujan. Semua hadir sebagai latar yang tak hanya membangun atmosfer, tapi juga menjadi sumber konflik utama.
Kisah Eliana dan Keberanian yang Meraung
Dalam usia yang masih belia, Eliana baru duduk di kelas 6 SD. Ia menghadapi ancaman serius terhadap kampung halamannya: eksploitasi alam oleh penambang pasir ilegal yang datang membawa truk-truk besar dan alat berat. Sungai yang dulu menjadi tempat bermain, mandi, dan mencari ikan bersama adik-adiknya—Pukat, Burlian, dan Amelia—kini tercemar dan rusak akibat kerakusan manusia.
Penambangan ini dilegalkan secara diam-diam oleh pejabat daerah, termasuk Bupati dan aparat hukum yang sudah “disumpal” oleh para penambang. Isu korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan pun menjadi benang merah penting dalam cerita ini. Namun yang membuat novel ini begitu menyentuh adalah bagaimana perlawanan terhadap ketidakadilan itu dipimpin oleh anak-anak.
Dari Tiga Musang ke Empat Buntal
Bersama sahabat-sahabatnya—Marhotap, Anton, dan lainnya—Eliana mengorganisir aksi perlawanan kecil. Mereka mengamati dan mengintai kegiatan para penambang di malam hari. Tak hanya berdiam diri empat buntal ini juga beberapa kali mencoba menghadang kegiatan tambang.
Namun perjuangan itu tidak tanpa risiko. Dalam salah satu bab yang paling menyayat hati, Marhotap ditembak mati oleh pihak penambang. Sebuah adegan yang mengguncang, tidak hanya untuk pembaca muda, tapi juga orang dewasa yang masih punya nurani.
Tere Liye menulis bagian itu sambil menangis, sebagaimana ia akui sendiri. Tangis karena kehilangan, karena kenangan perjuangan teman-temannya yang pernah melawan perusakan alam. Namun juga senyum—karena ia yakin, cerita ini akan sampai ke tangan anak-anak kita. Bahwa pesan cinta terhadap alam dan keberanian melawan ketidakadilan akan berakar dalam di hati mereka.
Reklamasi dalam Balutan Kisah Anak-Anak
Lebih dari sekadar kisah fiksi anak-anak, Si Anak Pemberani adalah novel dengan napas aktivisme lingkungan. Dalam konteks Indonesia hari ini, di mana isu kerusakan lingkungan semakin merajalela—reklamasi pantai, pembukaan lahan sawit, hingga pertambangan liar di berbagai daerah—pesan dalam buku ini menjadi sangat relevan. Bahkan, bisa dibilang, Si Anak Pemberani adalah bacaan awal yang memperkenalkan anak-anak pada pentingnya menjaga bumi.
Sayangnya, seperti yang dikeluhkan penulisnya, tidak semua generasi dewasa hari ini mau membaca karya-karya dengan tema semacam ini. Banyak yang lebih mengenal Tere Liye dari kutipan galau di media sosial ketimbang dari pesan-pesan ekologis dalam novelnya. Bahkan ketika ia mengkritisi proyek reklamasi melalui tulisannya, banyak yang menyepelekan: “Sudahlah, kamu nulis quotes aja.”
Namun, lewat Si Anak Pemberani, Tere Liye membuktikan bahwa literasi bisa menjadi senjata yang sangat kuat. Dan bahwa anak-anak, dengan keberanian mereka yang polos dan murni, bisa menjadi pelindung bagi alam yang mereka cintai.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Hospitality: Seni Memanusiakan Pelanggan di Tengah Persaingan Bisnis
-
Ketika Darah Rakyat Mengakhiri Takhta: Sumatera dalam Kacamata Anthony Reid
-
Adaptasi yang Belum Tuntas: Dilema Film Rembulan Tenggelam di Wajahmu
-
Adaptasi yang Belum Tuntas: Dilema Film Rembulan Tenggelam di Wajahmu
-
Dari Fort Du Bus hingga Trikora: Membaca Papua dari Arsip Kolonial
Artikel Terkait
-
5 Rekomendasi E-Reader untuk Baca Buku Digital, Enteng Dibawa ke Mana Saja
-
Ulasan Novel Candhikala Kapuranta: Adat, Politik, dan Dilema Kaum Perempuan
-
Ulasan Novel The Quiet Mother: Ketika Seorang Ibu Menyimpan Rahasia Maut
-
Ulasan Novel The Housemaid: Ketika Asisten Rumah Tangga Tak Lagi Aman
-
Ulasan Novel Edensor: Kesetiakawanan, Cinta, dan Memperjuangkan Cita-cita
Ulasan
-
The Bodyguard From Beijing: Film Jet Li yang Bikin Masa Kecil Kita Berdebar-debar
-
Ulasan The Auditors, Kisah Seru Tim Audit yang Bekerja Layaknya Detektif
-
Ulasan Film Jangan Buang Ibu: Ego Anak, Penyesalan, dan Air Mata di Panti Jompo
-
Hospitality: Seni Memanusiakan Pelanggan di Tengah Persaingan Bisnis
-
Ketika Darah Rakyat Mengakhiri Takhta: Sumatera dalam Kacamata Anthony Reid
Terkini
-
Piala Dunia 2026: Cetak Rekor, Erling Haaland Kian dekat Raih Gelar Topskor
-
Prediksi Curacao vs Pantai Gading: Misi Panas Kedua Tim di Philadelphia
-
Analisis Taktik Ekuador vs Jerman: Die Mannschaft Jaga Mental Juara
-
5 Serial Netflix Terbaik 2026 yang Wajib Masuk Daftar Tontonan
-
Turki vs Amerika Serikat: Ujian Mental di Akhir Fase Grup Piala Dunia 2026