Film pendek selalu punya daya tariknya sendiri. Durasi yang hanya sekitar 10–15 menit memaksa sineas untuk bercerita dengan padat, efektif, tapi tetap membekas. Justru di keterbatasan waktu itu, banyak lahir karya-karya segar dengan ide brilian.
Di tahun ini, KlikFilm Short Movie Competition kembali jadi bagian dari Jakarta World Cinema 2025. Dari total 360 karya yang mendaftar, ada 30 film pendek yang berhasil masuk shortlist. Para juri—Asmara Abigail, Joko Anwar, Alim Sudio, dan Aditya Ahmad—akan memilih tiga film terbaik.
Kita sebagai penonton juga bisa berpartisipasi dengan memberikan dukungan lewat tombol “Like” setelah menonton film sampai selesai di KlikFilm. Karena durasinya singkat, film-film ini bisa kamu tonton sambil istirahat makan siang, sebelum tidur, atau ketika lagi rebahan nunggu hujan reda.
Nah, dari 30 shortlist itu, aku pilihkan 6 film pendek yang menurutku paling menarik untuk jadi rekomendasi tontonan kamu. Yuk, kita obrolin satu-satu.
1. Babon (2024) – Disutradarai oleh Sinung Winahyoko
Film ini menghadirkan potret kehidupan keras dari sudut pandang seorang anak.
Babon berkisah tentang Rara, gadis kecil yang membantu ibunya berjualan ayam di pasar. Saat ayahnya dipenjara karena narkoba, kehidupan keluarga ini makin terpuruk. Situasi traumatis pun datang menghantam.
Kekuatan Babon ada pada penggambaran emosinya yang tajam. Akting para pemainnya natural, sementara penggunaan simbol visual membuat ceritanya terasa dalam.
Meski ada sedikit kekurangan pada aspek pencahayaan, film ini tetap berhasil meninggalkan kesan mendalam. Singkat, padat, dan penuh luka—Babon membuktikan kalau 15 menit bisa terasa sangat panjang.
2. Darma (2025) – Disutradarai oleh Joni Astin Ariadi
Darma bukan tontonan ringan. Film ini menyajikan kisah seorang pelajar yang memilih melawan setelah kasus pelecehan terhadap kakaknya ditutupi pejabat korup. Dengan durasi 14 menit, film ini penuh dengan adegan brutal yang sengaja dibuat untuk mengguncang penonton.
Keistimewaan Darma ada pada keberaniannya mengangkat isu kekuasaan, pelecehan seksual, dan manipulasi media. Kamera bergerak dinamis, adegan aksinya intens, dan tensinya hampir tidak pernah turun. Film ini terasa seperti kritik sosial yang dikemas dalam bahasa sinema penuh energi.
3. Will Today Be a Happy Day (2025) – Disutradarai oleh Muhammad Kanz Daffa
Film ini menawarkan drama keluarga dengan nuansa emosional yang kuat. Kisahnya mengikuti Mira, seorang ibu tunggal berusia 27 tahun, dan putrinya Dinda. Kehidupan mereka tampak bahagia, tetapi Mira dihadapkan pada keputusan besar yang bisa mengubah masa depan anaknya.
Cinematography yang lembut dan scoring yang pas mendukung cerita ini berjalan natural. Ada satu adegan klimaks yang sengaja dibiarkan tanpa cut, membuat penonton benar-benar merasakan pergulatan batin Mira. Ending-nya menyentuh dan mampu membuat penonton terpecah dalam memaknai keputusan yang diambil.
4. Wahyu (2024) – Disutradarai oleh Nada Leo Prakasa
Mengangkat isu homoseksualitas di lingkungan pesantren, Wahyu termasuk salah satu film paling kontroversial dalam daftar ini. Ceritanya berfokus pada Wahyu, remaja homoseksual yang mencoba mendekati sesama santri, namun aksinya diketahui oleh seorang santri difabel.
Film ini tidak berusaha menyederhanakan isu, melainkan menghadirkannya secara mentah, bahkan cenderung memicu perdebatan.
Keberanian mengangkat topik sensitif dengan pendekatan realis menjadikan Wahyu tontonan penting bagi yang tertarik pada film-film berperspektif sosial. Namun, bagi penonton yang mencari hiburan ringan, film ini bisa terasa berat.
5. Bubur Fight (2024) – Disutradarai oleh Reuben Armena
Dari tema serius, mari bergeser ke tontonan absurd yang menghibur. Bubur Fight terinspirasi dari perdebatan klasik di Indonesia, bubur diaduk atau tidak diaduk. Dua karakter bertemu di sebuah kedai, lalu perselisihan soal cara makan bubur berkembang jadi pertarungan sengit ala Tekken.
Keunikan film ini ada pada eksekusi stop-motion yang digarap dengan serius. Meski premisnya sederhana, hasil akhirnya terasa segar, kocak, dan penuh energi. Bubur Fight adalah bukti bahwa ide receh pun bisa jadi karya yang berkualitas ketika dieksekusi dengan tepat.
6. Titip Pesan (2024) – Disutradarai oleh Hielmy Aditya Permana
Film ini berawal dengan atmosfer horor. Seorang driver ojek online, Majep, menerima pesanan yang harus diantar melalui jalan asing dan hutan yang mencekam. Namun, alur cerita kemudian berbelok, menghadirkan twist emosional yang tak terduga.
Ritme filmnya terasa intens sejak awal, membangun ketegangan secara konsisten. Tapi justru di akhir, Titip Pesan menyentuh aspek manusiawi yang bikin penonton terharu. Perpaduan horor dan drama dalam durasi singkat menjadikan film ini salah satu yang paling memorable di daftar.
Mengapa Short Movie Penting?
Enam film di atas menunjukkan betapa film pendek punya ruang besar untuk bereksperimen. Ada yang memilih membahas isu sosial serius, ada yang mengajak tertawa lewat ide absurd, ada pula yang menyentuh hati lewat drama keluarga. Semua itu dibungkus dalam durasi yang ringkas, tapi tetap mampu meninggalkan kesan kuat.
Keberadaan kompetisi seperti ini penting bukan hanya bagi sineas muda yang butuh ruang berekspresi, tapi juga bagi penonton. Kita bisa menikmati perspektif baru, gaya bercerita segar, dan tentu saja pengalaman menonton yang tidak membosankan.
Jangan lupa, keenam film ini hanyalah sebagian kecil dari 30 shortlist yang bisa kamu nikmati di KlikFilm sampai 4 Oktober nanti. Masih ada banyak karya menarik lain yang menunggu untuk ditonton. Siapa tahu, kamu menemukan film pendek favoritmu di sana.
Baca Juga
-
Lelah di Balik Seragam: Menyingkap Beban Emosional Guru yang Tersembunyi
-
Radar Sosial yang Lumpuh: Mengapa Negara Gagal Membaca Isyarat Sunyi YBR?
-
Pendidikan Gratis Hanya di Atas Kertas? Menyoal Pasal 31 UUD 1945 Pasca-Kasus YBR
-
Administrasi yang Membunuh: Menggugat Kaku Birokrasi dalam Tragedi di NTT
-
Pena Rp2 Ribu vs MBG Ratusan Triliun: Di Mana Nurani Pendidikan Kita?
Artikel Terkait
-
Kamila Andini Jadi Juri Inspiring Asia Micro Film Festival 2025: Wadah 'Bermain' Sineas Muda
-
Raditya Dika Jadi Juri Film Pendek, Kenang Sulitnya Cari Wadah Berkarya Zaman Dulu
-
Jakarta World Cinema 2025: Gerbang Sinema Dunia Kembali Terbuka di Ibu Kota
-
Jakarta World Cinema 2025: Saatnya Temukan Film yang Takkan Pernah Tayang di Bioskop Biasa
-
Siapa Bupati Cianjur? Latar Belakang Dokter, Viral Bantu Medis Korban Demo
Ulasan
-
Menghempas Energi Buruk di Buku Memaafkan yang Tak Termaafkan
-
Mamoru Hosoda Kembali dengan Scarlet: Adaptasi Hamlet yang Memukau
-
Membaca Halte Alam Baka: Pelajaran Hidup Tanpa Beban Penyesalan
-
Menemukan Jalan Pulang ke Diri Sendiri di Buku 'Semua Orang Butuh Curhat'
-
The Devils Daughter: Horor Ringan dengan Plot Twist yang Membingungkan
Terkini
-
Sayap Kecil yang Menantang Badai
-
Tegas Lawan Pelecehan Daring, Agensi Hyeri Pastikan Proses Hukum Berjalan
-
4 Moisturizer Lokal Licorice untuk Wajah Cerah dan Lembap Sepanjang Hari
-
5 Brand Parfum Lokal Anti Mainstream, Wajib Masuk Koleksi!
-
Pendidikan Tanpa Ketegasan: Dilema Jadi Guru di Zaman Mudah Tersinggung