Novel ini berkisah tentang Roos Beckman, seorang wanita muda yang sejak kecil telah terikat dengan sosok roh, yaitu Raman “Ruth” roh kuno, mati berabad-abad, yang hanya bisa dilihat oleh Roos. Hubungan mereka sangat rumit, Roos dibesarkan oleh ibunya yang menggunakan kemampuan “medium” Roos secara penipuan, memanfaatkan seance untuk mencari klien dan saksi-roh.
Suatu hari, janda kaya bernama Agnes Knoop datang ke salah satu seance dan tertarik pada keberadaan Roos. Kemudian Roos dibawa Agnes ke sebuah rumah tua warisan yang terlihat hampir runtuh, di mana Agnes tinggal bersama saudara ipar nya yang sakit, dan rumah tersebut dihuni oleh kegelapan, suara langkah di malam hari, patung batu di kapel keluarga, serta rahasia yang lama tersembunyi.
Ketika peristiwa pembunuhan terjadi di rumah itu, Roos yang memiliki “riwayat histeria” dan dianggap outsider, menjadi tersangka utama. Apakah dia bersalah? Atau ada sesuatu di luar penglihatannya roh, obsesi, atau kegilaan yang sebenarnya berperan?
Van Veen dengan mahir menghadirkan suasana gotik yang pekat, rumah tua yang remang-remang, roh yang menempel pada kehidupan manusia, keheningan malam yang terus ditekan oleh rasa takut dan kerinduan.
Di samping itu, ada sentuhan romantis antara Roos dan Agnes yang membuat novel ini tidak hanya horor, tetapi juga kisah cinta yang lembut namun penuh tekanan, ketergantungan, pengorbanan, dan rasa takut kehilangan. Sebuah kombinasi yang jarang hadir dalam novel horor tradisional.
Roh Ruth adalah teman sekaligus beban bagi Roos. Roos dibentuk oleh ibunya yang mengeksploitasinya sebagai medium palsu. Ia merindukan keluaran, merindukan cinta yang tulus. Ketika Agnes muncul, tampaknya ada harapan untuk hidupnya. Namun kenyataannya pun kompleks.
Kisah cinta Roos dan Agnes tidak hanya romantis, tetapi juga dibayangi dinamika kekuasaan, kaya vs miskin, pemilik rumah vs bawahan, medium vs klien, manusia vs roh. Ada ketegangan dalam bagaimana cinta itu dibentuk dan berlangsung dalam bayang-bayang rahasia dan kekerasan emosional.
Van Veen mengangkat elemen klasik seperti estate yang sepi, patung batu, koridor dengan suasana dingin dan mencekam, rahasia keluarga, pembunuhan tersembunyi. Tetapi ia menambahkan lapisan modern seperti representasi queer, pertanyaan tentang realitas vs kegilaan, dan medium sebagai profesi yang suram. Sebuah ulasan menyoroti bahwa novel ini “ticks every gothic checkbox … but what makes this a real dramatic masterpiece is the intense, painful longing that Roos and Agnes grow to feel for each other.”
Buku ini sangat berhasil dalam membangun mood. Pembaca bisa merasakan dinginnya lantai rumah tua, bau lembap, suara langkah malam yang tak jelas sumbernya. Malam dan roh menjadi karakter tersendiri dalam novel ini.
Roos digambarkan bukan sebagai pahlawan yang sempurna, ia digambarkan seseorang yang rapuh, tertekan, takut, tapi juga punya keinginan kuat untuk dicintai dan dilepaskan. Agnes pun bukan hanya wanita kaya, tetapi memiliki rahasia dan luka.
Hubungan antara Roos dan Agnes tidak sekadar motif romantis tambahan, melainkan mendapat porsi cerita yang signifikan dan terintegrasi dengan cerita horor dan identitas karakter. Ambiguitas yang mengundang pembacaan ulang, Apakah roh itu nyata? Apakah korban pembunuhan benar terjadi? Siapa sebenarnya yang “melakukan” sesuatu? Buku ini membuat kita terus bertanya-tanya.
Namun untuk sebagian pembaca merasa bahwa setelah pembukaan yang sangat menarik, kemajuan cerita agak melambat. Beberapa ulasan kritik bahwa bagian akhir terasa terburu-buru atau kehilangan kekuatan yang sebelumnya dibangun.
“My Darling Dreadful Thing” adalah debut yang mengesankan dari Johanna van Veen, sebuah kombinasi memikat antara horor gotik klasik dan kisah cinta queer yang penuh kerinduan dan rasa takut. Apabila kamu pencinta suasana malam yang membeku, rumah-tua dengan rahasia kelam, roh yang menempel pada manusia, dan hubungan emosional yang tak biasa, maka novel ini sangat layak untuk dibaca.
Meski demikian, jika kamu mengharapkan kecepatan tinggi dan twist yang sangat bombastis, mungkin akan terasa sedikit kurang. Tetapi kekuatan utama terletak pada atmosfer dan karakter bukan semata pada kejutan plot.
Identitas Buku
Judul: My Darling Dreadful Thing
Penulis: Johanna Van Veen
Penerbit: Poisoned Pen Press
Tanggal Terbit: 14 Mei 2024
Tebal: 375 Halaman
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Ulasan Novel Falling Away, Pertarungan Melawan Ego dan Rasa Bersalah
-
Novel Can't I Go Instead, Perjuangan Melawan Penindasan
-
Novel 9 November, Garis Tipis Antara Fiksi dan Realitas Pahit Kehidupan
-
Novel Good Girl, Bad Blood, Pencarian Orang Hilang dalam Podcast Kriminal
-
Ulasan Novel Animal Farm, Ketika Kesetaraan Hanya Menjadi Ilusi
Artikel Terkait
-
Review Film Maju Serem Mundur Horor: Sajian Tawa dan Horor dalam Satu Paket
-
5 Film Horor Terbaik Sepanjang Masa Versi Rotten Tomatoes, Siap Uji Nyali?
-
Novel Stranger, Kisah Emosional Anak dan Ayah dari Dunia Kriminal
-
Potret Kekerasan Ibu-Anak dalam Novel 'Bunda, Aku Nggak Suka Dipukul'
-
Gelora Literasi Bangkit di Big Bad Wolf: Ribuan Pengunjung Serbu Bazar Buku Terbesar
Ulasan
-
Gentayangan karya Intan Paramaditha: Menjadi "Cewek Bandel" di Balik Pilihan Sulit
-
Dari Rumah Penuh Konflik ke Puncak Kesuksesan: Transformasi Jennifer Lawrence di Film Joy
-
Ulasan Film Na Willa: Nostalgia Hangat yang Bikin Rindu Masa Kecil
-
Film Dream Animals: The Movie, Hewan Lucu Selamatkan Dunia Camilan
-
Review S Line: Garis Merah yang Menguak Rahasia Terdalam Manusia
Terkini
-
Bau Badan Wassalam! 5 Siasat Wangi Paripurna Meski Panas-panasan di Jalan
-
Apresiasi The King's Warden: Film Sejarah Korea yang Sukses Memukau di Box Office
-
Social Battery Habis Lebaran? Ini Trik 'Kabur' Elegan Tanpa Dicap Sombong
-
Duel Karbo Lebaran: Ketupat vs Nasi, Siapa yang Paling Bikin Gula Darah Meroket?
-
Basa-Basi Digital yang Hampa Bikin Silaturahmi Terasa Capek dan Melelahkan