Kalau mendengar Kota Makassar, kita pasti langsung teringat dengan "Coto Makassar". Namun, Kota Makassar tidak melulu soal kuliner. Salah satu kota di Sulawesi Selatan ini juga dikenal sebagai Kota Anging Mammiri yang artinya angin berembus (merujuk pada daerah pesisir).
Nah, salah satu pantai di sana adalah Anjungan Losari. Pantai ikonik ini telah menjadi saksi bisu bagi banyak kisah kasih muda-mudi yang menjadikan lokasi ini sebagai tempat nge-date.
Novel Anjungan Losari karya Nurfatimah AZ menghadirkan kisah romansa yang hangat, ringan, dan sarat nuansa lokal. Berlatar di Kota Makassar, novel ini tidak hanya menawarkan cerita cinta anak muda, tetapi juga menjadi semacam perjalanan wisata budaya yang menyenangkan. Bagi pembaca yang jarang menjumpai latar Makassar dalam karya fiksi populer, novel ini terasa segar dan berbeda.
Sinopsis Anjungan Losari
Cerita bermula dari kejadian sederhana: ban motor Anjani bermasalah di tengah perjalanan. Kejadian kecil ini justru menjadi pintu masuk pertemuannya dengan Awan, pemilik bengkel motor yang ramah dan ringan tangan. Dari sinilah benih cerita tumbuh. Awan tidak hanya menolong Anjani memperbaiki motor, tetapi juga secara perlahan hadir sebagai teman yang menemani Anjani beradaptasi dengan kota baru.
Anjani diceritakan baru pindah dari Jakarta ke Makassar karena mengikuti tugas sang ayah. Awalnya, kepindahan ini terasa berat baginya. Kota baru, lingkungan baru, dan bahasa yang berbeda membuat Anjani merasa asing.
Untuk menghafal jalanan sebelum masuk universitas, ia mulai berkeliling kota, dan Awan dengan senang hati menjadi pemandu tidak resmi. Bersama Awan, Anjani mencicipi pisang epe di Pantai Losari, mengunjungi berbagai sudut kota, serta mengenal budaya dan kebiasaan masyarakat Makassar.
Kelebihan dan Kekurangan Novel Anjungan Losari
Di bagian awal novel, pembaca akan merasakan bahwa cerita masih didominasi fase perkenalan tokoh dan eksplorasi latar. Konflik besar belum benar-benar muncul sehingga nuansanya terasa santai dan “gemas”. Interaksi Anjani dan Awan masih malu-malu, penuh basa-basi manis, namun justru di situlah daya tariknya. Relasi mereka tumbuh secara alami tanpa drama berlebihan.
Dari segi karakter, Awan digambarkan sebagai sosok pekerja keras yang kuliah sambil bekerja di bengkel. Ia peka, perhatian, dan selalu sigap membantu Anjani. Mulai dari menemani jalan-jalan, membelikan makanan, hingga memastikan Anjani tidak merasa sendirian di kota baru. Karakter Awan yang “ijo neon”, istilah populer untuk laki-laki green flag, menjadi salah satu kekuatan utama novel ini.
Sementara itu, Anjani digambarkan sebagai sosok penasaran dan terbuka. Ia banyak bertanya, ingin tahu banyak hal, dan aktif mengajak Awan ke berbagai tempat. Dinamika ini membuat dialog mereka terasa hidup dan tidak membosankan. Pembaca seolah ikut nyempil berjalan-jalan bersama mereka menyusuri Makassar.
Keunggulan lain Anjungan Losari terletak pada narasinya yang rapi dan gaya bahasa yang ringan. Penulis dengan cermat menyelipkan bahasa Makassar dalam dialog, lengkap dengan terjemahannya. Meski bagi sebagian pembaca hal ini sempat terasa menantang karena harus bolak-balik mengingat arti kata, kehadiran bahasa daerah justru memperkuat atmosfer lokal dan menambah wawasan budaya.
Dalam sekitar 40 halaman awal, pembaca sudah diajak mengenal tempat hiburan, makanan khas, hingga sedikit sejarah Makassar. Novel ini berhasil memadukan romansa dengan eksplorasi budaya tanpa terasa menggurui.
Namun, di balik kisah manis tersebut, tersimpan konflik yang mulai mengintip: perbedaan kasta dan latar belakang keluarga. Keluarga Anjani yang cukup ketat membuatnya harus berbohong demi bertemu Awan. Pertanyaan tentang restu dan masa depan pun perlahan menjadi bayang-bayang cerita.
Secara keseluruhan, Anjungan Losari adalah novel romansa yang ringan, nyaman dibaca, dan kaya suasana. Novel ini cocok bagi pembaca yang menyukai kisah cinta sederhana dengan latar kota yang kuat.
Bukan hanya tentang jatuh cinta, novel ini juga tentang menemukan rumah baru, orang baru, dan keberanian untuk merasa bahagia di tempat yang awalnya terasa asing.
Identitas Buku
- Judul: Anjungan Losari
- Penulis: Nurfatimah AZ
- Penerbit: Skuad X Akad
- Tahun Terbit: Juli 2024
- ISBN: 9786231007803
- Tebal: 292 Halaman
- Genre: Romance, life campus, drama, comedy
Baca Juga
-
Seni Menjalani Proses dengan Enjoy di Buku The Art of Divine Timing
-
Mental Inlander dan Luka Panjang Kolonialisme dalam Buku Max Havelaar
-
Drama China yang Bikin Susah Skip Episode: Speed and Love
-
Enola Holmes and the Mark of the Mongoose: Petualangan di Buku Kesembilan
-
Di Antara Bahasa Isyarat dan Musik: Keindahan Twinkling Watermelon (2023)
Artikel Terkait
-
Ulasan Buku Merasa Dekat dengan Tuhan Itu Godaan yang Berat: Kritik Sosial dan Godaan Beragama
-
Ulasan Novel Bandung After Rain: Cita Rasa Cinta dan Budaya Lokal yang Khas
-
Ulasan Novel I Think I Am Ugly: Stop Insecure, Kita Semua Cantik!
-
Ulasan Novel Pulang Nak, Ummi Rindu: Mimpi Buruk Para Anak Rantau
-
Review Film The Housemaid: Adaptasi Novel McFadden yang Trashy Fun!
Ulasan
-
Membongkar Sisi Kelam Orde Baru dalam 'Larung': Sastra yang Menolak Dibungkam
-
Novel Misteri Kota Tua, Petualangan Beno Menyusuri Sejarah Kota Tangerang
-
Man on Fire, Series yang Sibuk Jadi Thriller Politik Sampai Lupa Rasa
-
Dibalik Pesona F4: Mengapa Kita Harus Berhenti Mengagungkan Hubungan Gu Jun Pyo dan Geum Jan Di?
-
Menyusuri Jambi Kota Seberang: Saat Rumah Kayu "Mengapung" di Atas Sungai
Terkini
-
Turun Stasiun, Langsung Jalan-Jalan! 5 Rekomendasi Destinasi Wisata Praktis di Purwakarta
-
Berhenti Merasa Nyaman dalam Ketidaktahuan: Mengapa Istri Wajib Tahu Keuangan Keluarga
-
Jebakan Asmara Digital: Mengapa Love Scamming Harus Membuka Mata Hati Kita
-
Bukan Sekadar Seni: Bagaimana Teater Jaran Abang Mengubah Remaja Jogja Menjadi Sosok Berdaya
-
Membongkar Peluang Skuad Garuda di Grup F Piala Asia 2027: Ujian Mental Menuju Pentas Dunia