Jika pulang selalu menjadi rindu bagi anak rantau ke kampung halamannya, di novel ini kasusnya sedikit berbeda. Anak-anak merantau jauh dari kedua orang tua namun enggan untuk pulang. Barangkali trauma parenting, hingga didikan yang terlalu mandiri membuat kasih itu tak lagi sampai ke hati.
Pulang Nak, Ummi Rindu adalah novel karya Devita Arrasyid yang menghadirkan kisah keluarga dengan muatan emosi yang kuat, getir, dan sangat dekat dengan realitas banyak orang: penyesalan anak yang datang terlambat setelah orang tua pergi.
Novel ini tidak hanya sukses sebagai karya sastra populer, tetapi juga diadaptasi menjadi film drama keluarga yang tayang di Prime Video Indonesia pada 19 Desember 2024, menandakan daya pukau ceritanya yang luas dan relevan lintas medium.
Sinopsis
Kisah ini berpusat pada sosok Ummi Salamah, seorang ibu tunggal yang hidup di desa bersama tiga anaknya: Arshaka, Athala, dan Arumi. Awalnya, keluarga kecil ini hidup sederhana namun tenteram. Namun keadaan berubah drastis ketika sang Abi jatuh sakit dan tak lagi mampu menjadi tulang punggung keluarga. Sejak saat itu, Ummi memikul beban hidup sendirian—secara ekonomi, emosional, dan spiritual.
Dari subuh hingga malam, Ummi bekerja tanpa henti: berjualan kue, mencari pekerjaan sampingan, apa saja yang bisa dilakukan demi memastikan anak-anaknya tetap makan dan bersekolah.
Harga dari perjuangan itu adalah kelelahan yang menumpuk dan waktu yang semakin sedikit untuk hadir secara lembut bagi anak-anaknya. Dalam kondisi lelah dan tertekan, Ummi menjadi lebih mudah marah, terutama ketika anak-anaknya lalai menjalankan kewajiban agama seperti salat dan mengaji.
Salah satu titik balik paling menyakitkan dalam cerita ini adalah ketika Ummi, dalam amarah dan keputusasaan, memukul Arshaka dengan rotan. Niatnya adalah mendidik dan mengingatkan, tetapi cara yang keliru itu justru melahirkan luka mendalam.
Sejak peristiwa itu, benih kebencian tumbuh di hati Arshaka. Dan perlahan menjalar ke hubungan Ummi dengan anak-anaknya yang lain. Ummi yang merasa sedang berjuang di jalan benar, justru dipersepsikan sebagai ibu yang keras, kolot, dan mengekang.
Seiring waktu, ketiga anak itu tumbuh dewasa dan pergi merantau: sekolah dan bekerja di kota. Jarak fisik berubah menjadi jarak emosional. Hidup di kota terasa lebih bebas, tanpa omelan, tanpa tuntutan. Ummi yang tertinggal di desa perlahan dilupakan. Usahanya menghubungi anak-anaknya sering berujung penolakan atau diabaikan. Rindu Ummi bertepuk sebelah tangan.
Kelebihan dan Kekurangan Novel
Novel ini kemudian menampar pembaca dengan kenyataan pahit yang klise tapi selalu benar: penyesalan hampir selalu datang di akhir. Ketika kehadiran orang tua tak lagi bisa disentuh, barulah anak-anak menyadari betapa besar peran dan cinta yang dulu mereka anggap sebagai beban.
Secara struktur, Pulang Nak, Ummi Rindu menggunakan tiga sudut pandang (POV) anak-anak Ummi, disertai kilas balik kisah Ummi dan Abi. Alurnya cenderung cepat dan tidak terlalu mendetail, tetapi justru efektif dalam menyampaikan emosi.
Pembaca diajak marah, sedih, empati, bahkan sesekali tersenyum kecil di tengah kepedihan. Rasa sakit hati anak-anak terasa manusiawi, namun sikap mereka terhadap Ummi tetap sulit dibenarkan. Terutama ketika kesuksesan mereka di kota berbanding terbalik dengan kehidupan Ummi yang tetap susah.
Salah satu keunikan novel ini adalah penggunaan bahasa Banjar dalam dialog-dialog tertentu, lengkap dengan terjemahan. Ini memberi warna lokal yang kuat sekaligus memperkaya pengalaman membaca.
Pesan Moral
Pada akhirnya, Pulang Nak, Ummi Rindu adalah novel yang “penuh bawang”: menyentuh, menyayat, dan memaksa pembaca bercermin pada relasi dengan orang tua. Ia mengingatkan bahwa cinta orang tua sering hadir dalam bentuk yang tidak sempurna, tetapi hampir selalu tulus. Dan bahwa pulang, sayangnya, kadang baru terasa penting ketika rumah sudah sunyi.
Bisa dibilang, buku ini merupakan perwujudan mimpi buruk para anak yang tengah merantau jauh dari kedua orang tua. Pulang, uang tak cukup. Tak pulang, merindu. Dan barangkali, bukan sosok yang dirindukan yang menyambut, tapi bendera kuning yang telah digantung di teras rumah.
Identitas Buku
- Judul: Pulang Nak, Ummi Rindu
- Penulis: Devita Arrasyid
- Penerbit: Akad
- Tahun Terbit: 2024
- Tebal: 252 halaman
- Kategori: Fiksi / Keluarga
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Dari Perpustakaan ke Hamburg: Manis-Pahit Kisah Alster Lake
-
Bromo dan Kuda-Kudanya: Antara Pariwisata dan Kesejahteraan Hewan
-
Mengapa Tidak Semua Orang Kaya? Mengupas The Value Investors
-
Menjadi Cantik di Mata Sendiri, Kiat Self Love di Novel Eat Drink Sleep
-
Di Balik Industri Migas: Kisah Kemanusiaan dalam Novel Sumur Minyak Airmata
Artikel Terkait
-
Ulasan 'Usai Sebelum Dimulai': Menyentuh Luka Hati dan Rindu Tak Terjawab
-
Ulasan Novel Baby To Be: Panjangnya Jalan Perempuan untuk Menjadi Ibu
-
5 Moisturizer Korea dengan Formula Brightening, Cocok untuk Budget Ibu Rumah Tangga
-
Ulasan Novel Fahrenheit 451: Saat Buku menjadi Benda Paling Haram
-
Refleksi Keserakahan Manusia dan Kritik Penguasa dalam Antologi Puisi Negeri Daging Karya Gus Mus
Ulasan
-
Dari Perpustakaan ke Hamburg: Manis-Pahit Kisah Alster Lake
-
Dunia Milik Siapa? Bedah Rahasia Penguasa Bareng Noam Chomsky
-
Kenapa Luka Batin Tidak Pernah Hilang? Mengungkap 'Kerak' Trauma yang Membentuk Diri Anda
-
Ketika Setan Bicara Jujur: Membaca Ulang Kegelapan dalam Buku Curhat Setan
-
Bukan Pengikutmu yang Sempurna: Saat Iman Menabrak Tembok Logika
Terkini
-
Modal 2 Juta Bisa Punya "Laptop" Mini? Cek 5 Rekomendasi Tablet Kece Buat Nulis
-
Menimbang Ulang Sekolah Daring di Tengah Krisis Global
-
4 Toner Lokal Ukuran 200-500 ML, Solusi Awet Andalan Kulit Cerah dan Lembap
-
Selat Hormuz Ditutup, Laptop Dibuka: Apakah WFH Solusi Penghematan BBM Nasional?
-
Imajinasi Saja Tidak Cukup, Menulis Fiksi Juga Butuh Riset