Film Greenland 2: Migration (2026) adalah sekuel dari film disaster thriller Greenland (2020), yang sukses menggabungkan elemen survival, drama keluarga, dan aksi intens di tengah bencana global.
Disutradarai oleh Ric Roman Waugh, yang juga menggarap film pertama, sekuel ini ditulis oleh Mitchell LaFortune dan Chris Sparling, berdasarkan karakter ciptaan Sparling. Diproduksi oleh Basil Iwanyk dan tim di bawah STXfilms, film ini melanjutkan kisah keluarga Garrity pasca hantaman komet Clarke yang menghancurkan sebagian besar Bumi.
Dengan durasi sekitar 98 menit, Greenland 2: Migration bergenre post-apocalyptic thriller, fokus pada perjuangan manusiawi di dunia yang rusak, bukan sekadar efek visual ledakan-ledakan.
Perjalanan Berbahaya Keluarga Garrity di Eropa Pasca-Apokaliptik
Cerita dimulai lima tahun setelah akhir film pertama. Keluarga Garrity—John (Gerard Butler), Allison (Morena Baccarin), dan putra mereka Nathan (Roman Griffin Davis)—terpaksa meninggalkan bunker aman di Greenland karena persediaan menipis dan kondisi internal bunker memburuk.
Mereka memulai migrasi berbahaya melintasi Eropa yang membeku, mencari "tanah baru" yang dijanjikan sebagai tempat aman bagi penyintas. Perjalanan ini penuh ancaman: cuaca ekstrem seperti badai salju radiasi, serpihan meteor yang masih jatuh, gelombang pasang destruktif, dan konflik dengan kelompok survivor lain yang putus asa.
Tema utama adalah ujian kemanusiaan: bagaimana manusia bertahan tidak hanya dari alam, tapi juga dari sesama yang haus kekuasaan di tengah kekacauan. John, sebagai ayah pelindung, menghadapi dilema moral saat bertemu kelompok pengungsi yang mirip kamp transit nyata, lengkap dengan politik internal, kekerasan, dan harapan palsu.
Review Film Greenland 2: Migration
Dari segi akting, Gerard Butler kembali memukau sebagai John Garrity. Butler, yang dikenal dari film seperti 300 dan Angel Has Fallen, membawa intensitas fisik dan emosional yang kuat. Ia bukan sekadar pahlawan aksi; karakternya menunjukkan kerapuhan sebagai ayah yang trauma, berjuang melindungi keluarga di tengah keputusasaan.
Morena Baccarin sebagai Allison memberikan keseimbangan, dengan performa yang menonjolkan kekuatan wanita di situasi ekstrem—bukan korban pasif, tapi mitra setara yang sering menyelamatkan situasi. Roman Griffin Davis, yang debut di Jojo Rabbit, tumbuh sebagai Nathan, menambahkan lapisan emosi pada dinamika keluarga.
Cast pendukung seperti David Denman dan Hope Davis menambah kedalaman, mewakili survivor lain dengan motif beragam, dari sekutu hingga antagonis oportunis.
Secara visual, film ini unggul dalam menggambarkan dunia post-apokaliptik. Sinematografi oleh Dana Gonzales menangkap lanskap Eropa yang beku dan hancur dengan detail mengerikan: kota-kota yang tertutup abu, sungai beku beracun, dan langit yang gelap oleh debu atmosfer.
Efek spesial dari Industrial Light & Magic (ILM) realistis, fokus pada ancaman lingkungan daripada CGI berlebih, membuatnya terasa lebih grounded dibanding film disaster seperti 2012. Skor musik oleh David Buckley memperkuat ketegangan, dengan nada orchestral yang membangun suspense tanpa berlebihan.
Namun, beberapa kritikus menilai pace cerita agak lambat di tengah, lebih mirip drama survival daripada thriller penuh aksi, yang bisa membuatku yang mengharapkan ledakan konstan agak kecewa.
Kalau menurutku pendekatan realistis terhadap tema migrasi dan pengungsi, mirip dinamika dunia nyata seperti kamp pengungsi di Eropa atau Timur Tengah. Film ini mengeksplorasi isu seperti ketidakadilan sosial pasca-bencana, di mana kelompok kuat mendominasi sumber daya, sementara yang lemah berjuang.
Ini membuat Greenland 2 lebih dari sekadar hiburan; ini menjadi alegori tentang perubahan iklim, konflik global, dan resiliensi manusia. Kelemahan utama adalah subplot romansa yang terasa dipaksakan dan akhir yang agak prediktabel, meski twist di pertengahan—seperti pengkhianatan dalam kelompok—menjaga ketegangan. Secara keseluruhan, ini adalah sekuel yang layak, meningkatkan skala dari film pertama tanpa kehilangan fokus pada karakter.
Di Indonesia, film ini tayang di bioskop mulai 7 Januari 2026, dengan rating 13+. Jadwal ini selaras dengan rilis global, di mana Amerika Serikat tayang 9 Januari 2026, dan beberapa negara seperti UAE pada 8 Januari. Bioskop seperti CGV, XXI, dan Cinepolis kemungkinan menayangkannya di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung. Tiket bisa dipesan via aplikasi seperti TIX ID atau situs resmi bioskop, dengan harga mulai Rp 50.000 - Rp 100.000 tergantung lokasi dan format (2D/3D/IMAX). Aku sarankan cek jadwal terbaru karena bisa berubah akibat faktor distribusi.
Jadi kesimpulanku, Greenland 2: Migration adalah thriller post-apokaliptik yang solid, dengan cerita mendalam, akting kuat, dan pesan relevan tentang survival dan kemanusiaan. Bagi penggemar genre ini, film ini wajib tonton sih, meski bukan revolusioner. Rating pribadi dariku: 8/10.
Baca Juga
Artikel Terkait
Ulasan
-
Memahami Manusia Lewat Biologi di Buku Behave karya Robert Sapolsky
-
Ulasan Buku The Magic of Thinking Big: Motivasi yang Tak Lekang oleh Zaman
-
Ulasan Buku Zona Produktif Ibu Rumah Tangga: Berdaya Meski di Rumah Saja
-
Ulasan Buku I Do: Kiat Memutus Luka Batin Warisan Leluhur dalam Pernikahan
-
Review Film In Your Dreams: Imajinasi Netflix yang Penuh Keajaiban
Terkini
-
Gempita AFC U-23 dan Kenangan Manis One Hit Wonder Timnas Indonesia karena Tangan Dingin STY!
-
Mendesak Percepatan Infrastruktur Pasca-Longsor dan Banjir Bandang Aceh
-
5 Facial Foam untuk Kulit Berminyak dan Berjerawat, Bebas Rasa Ketarik!
-
X-Men Kembali! Teaser Avengers: Doomsday Tampilkan Xavier, Magneto, Cyclops
-
Manohara Ungkap Putus Kontak dengan Ibu: Tak Ingin Dieksploitasi?