Dari sahabat menjadi cinta. Memang terdengar manis dan paling ideal sebagai pasangan hidup. Tapi bagaimana jika kisahnya seperti Tegar dan Rosie?
Tidak ada mawar yang tumbuh di tegarnya karang. Narasi ini beberapa kali diulang dan menyayat tiap adegan. Sunset Bersama Rosie adalah salah satu novel Tere Liye yang banyak dibicarakan karena memadukan romansa, kehilangan, dan penantian panjang. Cerita berpusat pada tiga tokoh utama: Rosie, Tegar, dan Nathan.
Sinopsis Novel
Rosie dan Tegar bersahabat sejak kecil, bertetangga, dan kerap mendaki Gunung Rinjani setiap libur semester. Selama dua puluh tahun, Tegar memendam cinta kepada Rosie tanpa pernah benar-benar mengatakannya. Dalam diam, ia berharap. Dalam harap, ia menunggu.
Namun hidup tidak pernah menunggu orang yang ragu. Dua bulan setelah Tegar mengenalkan Nathan kepada Rosie, segalanya berubah. Nathan menyatakan cintanya di puncak Gunung Rinjani, tepat saat senja berlangsung selama 47 detik yang sempurna. Rosie menerima. Di momen itu, Tegar kalah. Bukan oleh cinta yang lebih besar, melainkan oleh keberanian yang datang lebih cepat.
Sejak peristiwa tersebut, Tegar menghilang dari kehidupan Rosie dan Nathan. Ia menenggelamkan diri dalam pekerjaan, bekerja hingga sepuluh jam sehari, berusaha melupakan luka lama. Rosie dan Nathan menikah, membangun keluarga, dan memiliki empat anak perempuan. Selama tiga belas tahun, kehidupan mereka digambarkan nyaris tanpa cela. Hingga sebuah tragedi datang.
Bom di Jimbaran merenggut nyawa Nathan. Rosie runtuh, mengalami depresi berat, dan harus menjalani rehabilitasi. Dalam kekosongan itulah Tegar kembali hadir, menjaga keempat anak Rosie, dan perlahan perasaan lama yang terkubur kembali muncul.
Kelebihan dan Kekurangan Novel
Secara tematik, novel ini berbicara tentang cinta yang tertunda, kesempatan yang disia-siakan, dan takdir yang bergerak tanpa kompromi. Namun dalam pelaksanaannya, cerita ini justru terasa problematik bagi sebagian pembaca.
Salah satu hal paling mencolok adalah penggambaran anak-anak Rosie yang terkesan terlalu “ajaib”. Anak-anak kecil yang sangat mandiri, terlalu bijak, dan hampir tanpa cela. Alih-alih terasa alami, karakterisasi ini justru membuat pembaca merasa “dipaksa” untuk menggemari mereka. Keberisikan yang dimaksudkan sebagai kelucuan, bagi sebagian pembaca justru menjadi distraksi yang melelahkan.
Masalah lain terletak pada karakter dewasa dalam novel ini. Tegar digambarkan sebagai sosok laki-laki baik, setia, dan penuh pengorbanan. Namun kebaikan itu runtuh ketika ia memperlakukan Sekar (Tunangan yang setia menunggunya selama dua tahun) dengan ketidakjelasan dan penundaan emosional.
Ketika Sekar akhirnya mencoba melanjutkan hidup, Tegar justru kembali dan meminta dipilih. Ironisnya, di hari pernikahan pun, Tegar kembali menyakiti Sekar. Karakter ini menimbulkan kesan plin-plan dan kurang bertanggung jawab secara emosional.
Rosie pun tidak sepenuhnya simpatik. Ia digambarkan sebagai perempuan yang terus menjadi pusat pilihan, tanpa pernah benar-benar menyadari luka yang ditinggalkan di sekelilingnya. Sementara Sekar, yang sempat tampil kuat dan rasional di awal cerita, justru kehilangan konsistensi di akhir. Cinta, dalam novel ini, berulang kali ditampilkan sebagai alasan untuk memaklumi sikap yang melukai.
Yang paling disayangkan, konflik utama justru terasa melebar. Alih-alih mengeksplorasi secara mendalam relasi emosional Tegar dan Rosie yang merupakan dua sahabat selama dua dekade, cerita bergerak ke arah drama yang semakin rumit dan berputar-putar. Tegar, sebagai tokoh utama, tidak pernah benar-benar digambarkan sebagai laki-laki yang berani menerima kekalahan dengan lapang dada.
Pesan Moral
Meski demikian, novel ini tetap menyimpan satu pesan moral yang kuat: jangan menunda kejujuran dan jangan menyia-nyiakan kesempatan. Ketika perasaan dibiarkan terlalu lama berdebat di kepala, hidup bisa berjalan lebih dulu tanpa kita.
Sunset Bersama Rosie mungkin bukan novel Tere Liye yang paling memuaskan secara emosional, tetapi ia mengingatkan satu hal penting. Bahwa dalam cinta, keberanian sering kali lebih menentukan daripada kesetiaan yang diam.
Novel ini berisi tiga orang naif. Vibesnya mirip film Heart di SCTV yang dua gadis cantik berebut cinta dari satu laki-laki yang plin-plan. Novel ini bukan tipeku. Bukan karena novel ini sepenuhnya buruk, melainkan karena ceritanya tidak mampu membuat semua pembaca merasa dihargai secara emosional. Tapi sejujurnya, novel ini berhasil membuat perasaan saya campur aduk sebagai pembaca.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Usai Baca Buku Aurelie Moeremans, Feni Rose Ungkap Penyesalan
-
Analisis Konflik Batin dan Kekerasan Seksual dalam Novel Lelaki Harimau Eka Kurniawan
-
Usai Terbitkan Buku Memoar, Aurelie Moeremans Sebut Pelaku Kembali Ganggu
-
Review Buku From Here to the Great Unknown: Sisi Manusiawi Keluarga Elvis Presley
-
Ulasan Novel Pengantin Remaja: Membuka Tabir Realita Pernikahan Dini
Ulasan
-
Bukan Sekadar Horor Biasa, Film Alas Roban Padukan Mitos Lokal dan Teror Psikologis
-
Film Uang Passolo: Hadirkan Kritik Sosial yang Lucu, Kocak, dan Menyentuh
-
Drama China When I Fly Towards You: Belajar Menerima Diri Sendiri
-
Analisis Konflik Batin dan Kekerasan Seksual dalam Novel Lelaki Harimau Eka Kurniawan
-
Film Beauty and the Beat: Harmoni di Balik Rivalitas Diva yang Menghibur!
Terkini
-
Aurelie Moeremans Ungkap Rasa Lega: Isu Child Grooming Tak Lagi Diabaikan
-
Menolak Jadi Disposable Society: Cara Mengubah Kebiasaan Buruk Membuang Sampah
-
Besek Nasi dan Doa yang Pelan-Pelan Naik ke Langit
-
Bus yang Tidak Ingin Mengucapkan Selamat Tinggal
-
Misteri Pemuda Berjaket Levis di Dekat Pohon Mahoni