Buku lama tetap bisa menjadi buku baru bagi orang yang belum pernah membacanya. Berdasarkan prinsip ini, maka buah karya Sindhunata dengan judul Putri Cina yang pertama kali diterbitkan pada tahun 2007 dan diterbitkan kembali oleh Gramedia pada 2023 masih relevan untuk dibaca saat ini. Berikut ulasannya.
Sinopsis
Tokoh utama dalam novel ini, Putri Cina, tidak hanya hidup di satu masa saja, tetapi berpindah dari satu zaman ke zaman lainnya. Muncul sebagai perempuan Tionghoa di masa Majapahit, menjadi istri Brawijaya yang dikenal sebagai Siu Ban Ci ibu dari Raden Patah. kemudian melompat ke masa 1740, 1916, 1946, dan 1947. Ia juga hadir sebagai Eng Tay atau Ong Tin di masa komunitas Tionghoa mengalami penderitaan di Kerajaan Medang Kamulan. Bahkan, Putri Cina muncul di dunia dongeng, menggambarkan bahwa novel ini tidak hanya tentang sejarah, tetapi juga mitos dan imajinasi.
Sindhunata juga menafsir ulang mitos Jawa, khususnya tentang Kiai Semar, Sabdo Palon, dan Noyo Genggong—tokoh yang selama ini dianggap sebagai tokoh bijak dan baik. Dalam novel ini, mitos-mitos tersebut diungkap ulang sebagai sumber kekerasan yang terus berulang di negeri Jawa. Putri Cina digambarkan sebagai sosok yang selalu bersedih, dan juga bingung lantaran terpinggirkan dari tanah kelahirannya sendiri, sementara penderitaan masyarakat Tionghoa berulang dalam sejarah. Kegelisahan seorang wanita yang terpaksa menerima nasib, termasuk dalam hubungan perkawinan yang tidak adil, tergambar dengan kuat dalam bagian “Cicak Rowo”.
Putri Cina menjadi representasi etnis Tionghoa di Indonesia—sebuah identitas yang kerap merasa kehilangan tempat. Sindhunata, yang juga keturunan Tionghoa, seakan hendak menegaskan bahwa etnis Cina bukanlah orang asing di negeri ini. Mereka telah lama menjadi bagian dari proses sejarah dan pembentukan Indonesia.
Menariknya, Sindhunata tidak menampilkan keberpihakan yang berlebihan. Ia juga mengkritik sebagian etnis Tionghoa yang terjebak dalam kenikmatan duniawi dan melupakan keseimbangan hidup. Padahal, menurutnya, nilai dasar tradisi Tionghoa justru menekankan harmoni antara aspek material dan spiritual. Ketimpangan inilah yang kemudian menjauhkan manusia dari kepekaan sosial.
Melalui novel ini, Sindhunata menelusuri pertanyaan mendasar: mengapa komunitas Tionghoa di perantauan kerap menjadi korban kekerasan? Jawaban dicari dengan melacak akar persoalan melalui mitologi Jawa tentang penciptaan dunia. Ia mengaitkannya dengan moral ekonomi, tradisi perantauan, serta semangat Taoisme yang sejatinya mengajarkan keseimbangan hidup. Novel ini ditutup dengan akhir yang muram dan menyedihkan, seolah menegaskan bahwa luka sejarah belum sepenuhnya sembuh.
Kelebihan dan kekurangan novel
Kelebihan:
Memiliki pada daya emosionalnya yang sangat kuat. Novel ini mampu membuat pembaca larut dan menangis mengikuti getirnya menjadi Putri Cina—menjadi perempuan sekaligus minoritas yang terus terpinggirkan oleh sejarah. Kritik sosial dan historis yang disampaikan Sindhunata terasa jelas dan mudah dipahami, meskipun dibalut mitologi dan filsafat Jawa yang kompleks, sehingga pesan-pesan pentingnya tetap sampai kepada pembaca.
Kekurangan:
Perpindahan ruanag waktu yang sering berpotensi membingungkan pembaca yang tidak memahami detail sejarah dan mitologi yang dihadirkan. Alur cerita juga bergerak dari sejarah ke filsafat Jawa lalu berakhir sebagai kisah roman, yang bagi sebagian pembaca terasa menarik tetapi tidak selalu meninggalkan kesan yang kuat setelah halaman terakhir ditutup.
Identitas Buku :
Judul: Putri Cina
Penulis: Sindhunata
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
No. GM: 623202019
ISBN: 978-979-22-3079-6
Tahun Terbit: 2023
Tanggal Terbit: 17 Mei 2023
Jumlah Halaman: 304 halaman
Ukuran Buku: 13,5 × 20 cm
Format: Soft cover
Kategori: Sastra
Baca Juga
-
Menyusu Celeng: Satire Politik tentang Nafsu, Dendam, dan Kuasa
-
Kado Terbaik: Hadiah Paling Mahal Adalah Keluarga
-
Menemukan Indonesia dalam Novel Pulang Karya Leila S. Chudori
-
Novel Sendiri: Perjalanan untuk Menerima Kehilangan
-
Cinta Antara Jakarta dan Kuala Lumpur: Novel Tere Liye Minim Konflik dengan Rasa yang Mendalam
Artikel Terkait
-
Belajar Menerima Kehilangan di Novel Setelah Dia Pergi karya Dedy Chandra
-
Menyusu Celeng: Satire Politik tentang Nafsu, Dendam, dan Kuasa
-
Tiga Ancaman Potensial Indonesia di Masa Depan dalam Hitam 2045
-
Kado Terbaik: Hadiah Paling Mahal Adalah Keluarga
-
Soal KPK Tak Pajang Tersangka, Novel Baswedan Soroti Dalih Kemanusiaan
Ulasan
-
Film Penunggu Rumah: Buto Ijo, Horor Janji Lama yang Menagih Harga
-
Belajar Menerima Kehilangan di Novel Setelah Dia Pergi karya Dedy Chandra
-
Menyusu Celeng: Satire Politik tentang Nafsu, Dendam, dan Kuasa
-
Tiga Ancaman Potensial Indonesia di Masa Depan dalam Hitam 2045
-
Film Alas Roban: Horor Sunyi yang Mengandalkan Atmosfer dan Psikologi
Terkini
-
Self-Neglect Era Gen Z: Saat Kita Baru Peduli Diri Sendiri setelah Burnout
-
5 Inspirasi Gaya Nerdy Boy ala Soobin TXT, Simpel tapi Charming!
-
Total 6 Hari, NCT Dream Rilis Jadwal Konser Final The Dream Show 4 di Seoul
-
3 Serial yang Dibintangi Arya Saloka, 'Algojo' Teranyar!
-
Sinopsis Film Tu Meri Main Tera Main Tera Tu Meri, Dibintangi Kartik Aaryan