Lintang Siltya Utami | Taufiq Hidayat
500 Days of Summer. (IMDb)
Taufiq Hidayat

Banyak orang salah pahami film 500 Days of Summer sebagai cerita tentang wanita dingin dan pria yang patah hati. Namun, jika kita lihat lebih dalam, terutama adegan-adegan yang tidak berurutan, terutama momen ikonik di toko IKEA, kita akan menemukan ironi besar mengenai 'kualitas' cinta. Tulisan ini membahas bagaimana Tom Hansen terjebak dalam imajinasi sendiri, dan mengapa Summer Fin hanyalah sebuah kemungkinan, bukan jawaban pasti.

Kalimat itu muncul di awal film 500 Days of Summer, seolah mengingatkan kita secara sengaja. Tapi bukan untuk dipercaya sepenuhnya, hanya untuk diingat. Karena sejak awal, manusia selalu berharap film ini berbohong.

Tom Hansen adalah orang yang percaya pada cinta sebagaimana orang percaya pada nasib. Ia yakin akan ada satu orang yang datang, dan tiba-tiba hidup yang sebelumnya biasa saja akan terasa masuk akal. Tidak hanya ingin punya hubungan, Tom ingin diselamatkan oleh perasaan.

Summer Finn tidak pernah menjanjikan hal itu. Ia tidak percaya pada nasib, tidak percaya pada konsep "the one", dan tidak merasa hubungan harus diberi label agar sah. Ia hanya datang sebagai dirinya sendiri. Tapi justru dari kehadiran yang sederhana itu, Tom membangun seluruh masa depannya di kepalanya.

Film ini tidak berjalan dengan cara yang lurus. Hari ke-1, hari ke-154, hari ke-303.

Waktu tiba-tiba bergerak cepat, seperti ingatan seseorang yang sedang jatuh cinta. Kenangan yang menyenangkan disimpan rapi, sedangkan yang menyakitkan diulang lagi dan lagi, agar cerita tetap terasa indah ketika diingat.

Tom mencintai Summer bukan karena ia benar-benar mengenalnya, melainkan karena Summer cocok dengan cerita yang sudah lama ia simpan dalam pikirannya.

Mereka memiliki selera musik yang sama, tawa yang terasa berbeda, dan sikap yang tampak sederhana. Semuanya terasa pas.

Padahal sejak awal, Summer sudah jujur.

Ia tidak ingin memiliki hubungan yang serius.

Kalimat itu jelas, tapi sering kali kita mendengarkannya hanya sebagai kemungkinan.

Momen Ketika di Ikea

Adegan di IKEA menjadi salah satu momen yang sangat nyata. Tom dan Summer bermain membangun rumah, duduk di sofa, dan membayangkan hidup bersama. Seolah-olah masa depan bisa dirakit hanya dengan imajinasi dan tawa ringan.

Di dinding terpampang sebuah kalimat tanpa maksud ikut campur: “We don’t make fancy quality. We make true everyday quality.”

Kalimat itu terdengar biasa saja, hampir tidak penting. Tapi justru di sana ironi bekerja. Cinta menurut Tom adalah fancy quality—indah, seperti dalam film, penuh harapan. Bukan cinta yang diuji oleh kehidupan sehari-hari, melainkan cinta yang hanya hidup di kepala. Seperti perabot di showroom. Tampil menarik. Tapi belum pernah benar-benar dipakai dalam kehidupan nyata.

Pukulan paling jujur datang lewat adegan Harapan vs Kebenaran. Dua dunia berjalan berdampingan: satu sesuai bayangan, satu seperti apa adanya. Tidak ada pengkhianatan di sana. Yang ada hanyalah jarak antara apa yang dibayangkan dan apa yang benar-benar terjadi.

Ketika Summer akhirnya menikah dengan orang lain, Tom merasa hancur. Ia merasa dikhianati. Padahal Summer tidak pernah berubah. Ia hanya menemukan seseorang yang lebih cocok baginya.

Yang benar-benar hancur bukanlah hubungan mereka. Yang hancur adalah cerita yang Tom tulis sendiri. Banyak orang menyalahkan Summer, menyebutnya sebagai sumber harapan yang palsu.

Namun film ini tidak sedang menghakimi siapa pun. Ini adalah kisah tentang seseorang yang mencintai dengan terlalu keras, hingga lupa untuk mendengarkan. Ini juga tentang bagaimana kita sering kali jatuh bukan karena manusia, melainkan karena bayangan yang kita sendiri ciptakan.

Di akhir film, Autumn muncul. Bukan sebagai jawaban, hanya sebagai kemungkinan. Dan untuk pertama kalinya, Tom tampak tidak terlalu yakin. Tidak terlalu yakin—dan justru di situlah ia terasa lebih manusia.

"Seperti sofa di IKEA. Nyaman diduduki sebentar. Indah untuk dibayangkan." Namun tidak pernah benar-benar dimaksudkan untuk dibawa pulang.

Mungkin yang paling sulit bukan menerima perpisahan, melainkan menerima bahwa sejak awal, tidak ada janji yang pernah dilanggar.