Lintang Siltya Utami | Chairun Nisa
Novel Tere Liye Si Anak Badai. (Dok. Pribadi/ Chairun Nisa)
Chairun Nisa

Seri Anak Mamak merupakan mahkota dari semua serial karya Tere Liye. Salah satu novel dalam seri ini adalah Si Anak Badai. Novel ini menceritakan tentang seorang anak yang tumbuh di tepian sungai, ditemani riak muara dan deru ombak laut. Dengan penuh tekad dan keberanian, ia bersama teman-temannya berjuang mempertahankan kampung halaman mereka. Kisah ini dibalut dengan hari-hari ceria anak-anak, persahabatan, dan petualangan seru.

Sinopsis

Kisah dalam Si Anak Badai diawali dengan keseharian anak-anak Muara Manowa yang menunggu kapal melintas di dermaga. Ketika kapal lewat, mereka menyelam di sekelilingnya sambil menunggu penumpang melemparkan koin ke laut. Anak-anak muara itu di antaranya Zaenal sebagai tokoh utama, serta dua sahabatnya, Ode dan Malim.

Keluarga Zaenal bisa dibilang cukup berkecukupan. Ayahnya bekerja di kantor kecamatan, sedangkan ibunya menjahit pakaian untuk warga sekitar. Selain bersekolah dan memancing, hari-hari Zaenal juga dihabiskan membantu mamaknya mengukur pesanan jahitan tetangga.

Suatu hari Zaenal bermimpi tentang bajak laut bermata tertutup yang datang merompak kampung mereka. Anehnya, mimpi itu seakan menjadi kenyataan dalam bentuk lain. Seorang utusan dari kota provinsi bernama Pak Alex datang dengan rencana membangun pelabuhan besar di dermaga mereka. Saat pertama kali melihat Pak Alex, Zaenal merasa mengalami déjà vu dan tiba-tiba pusing.

Warga Muara Manowa menolak pembangunan tersebut. Kampung mereka memang termasuk daerah tertinggal, tetapi lokasi relokasi yang ditawarkan pemerintah berjarak sekitar enam kilometer dari laut dan sama tertinggalnya. Hal itu justru akan semakin menyulitkan kehidupan para nelayan.

Orang yang paling gigih menolak pembangunan tersebut adalah Pak Kapten, atau Sakai bin Manaf, seorang kakek yang terlihat galak tetapi sebenarnya sangat baik. Ia bahkan memutar film dokumenter kepada warga tentang nasib sebuah kampung dermaga yang berubah menjadi pelabuhan besar dan kehilangan masa depannya. Namun karena dianggap memprovokasi warga dan menghalangi pemerintah, Pak Kapten ditangkap dengan tuduhan lama: menjadi penyebab kebakaran kapal sepuluh tahun lalu akibat masalah utang-piutang.

Dalam seri Anak Mamak, kisah tentang seberapa besar kasih sayang mamak selalu menjadi bagian paling istimewa. Kali ini diceritakan bagaimana Zaenal dan saudaranya, Fatahillah, sering mengeluhkan masakan mamak yang terlalu asin atau gosong. Sementara ayah mereka selalu memuji masakan itu dan tidak pernah mencela sedikit pun. Ia hanya berkata agar anak-anak membayangkan perjuangan mamak yang seharian mencuci, memasak, dan membersihkan rumah. Anak-anak tentu belum memahami hal itu, sampai suatu malam Zaenal tanpa sengaja mendengar percakapan berbalas pantun antara mamak dan bapaknya pada pukul dua dini hari. Saat itu mamak merasa bersalah karena tidak sempat memasakkan makanan enak bagi anak-anaknya, sebab ia harus menyelesaikan pesanan menjahit baju kurung untuk kelompok rebana.

Hari pembangunan pelabuhan pun semakin dekat. Penolakan warga tampak tidak berarti lagi, terlebih setelah Pak Kapten ditangkap. Wak Adnan Buyung, pengacara hebat dari kota provinsi, bahkan tidak mampu membebaskan Pak Kapten karena kurangnya bukti.

Kapal-kapal besar yang membawa alat berat mulai berdatangan. Ketika melintasi dermaga kayu ulin, sebuah buldoser bahkan sempat jatuh ke sungai. Pada saat itu, anak-anak yang menamakan diri mereka Geng Badai tidak sengaja mendengar percakapan Pak Mustar, kepala proyek. Ia mengatakan bahwa tanah di daerah itu sebenarnya tidak layak untuk pembangunan pelabuhan karena strukturnya tidak kuat. Laporan yang diberikan kepadanya ternyata palsu dan proyek tersebut hanya akan menghamburkan uang negara. Namun keputusan pemerintah provinsi tidak bisa diganggu gugat.

Anak-anak itu pun mendapatkan ide untuk mencuri dokumen asli agar pembangunan bisa dibatalkan. Sayangnya, rencana mereka berkali-kali gagal. Setelah sekolah mereka dirobohkan, kegiatan mereka hanya memancing di sekitar kapal-kapal yang datang.

Akhirnya mereka menggunakan siasat yang lebih lembut. Mereka kembali melakukan atraksi menyelam mengambil koin, menjadi anak-anak yang lucu dan ramah sehingga para awak kapal mengizinkan mereka naik ke kapal dengan senang hati. Bahkan mereka berbagi ikan dengan para penjaga kapal.

Zaenal dan seorang temannya kemudian menyelinap lebih jauh dari rencana awal. Mereka mendengarkan percakapan penting dalam jamuan makan malam mewah di atas kapal pesiar antara calon gubernur, utusan gubernur, hingga camat Tiong. Percakapan itu membahas saksi palsu untuk menjebak Pak Kapten, laporan kajian tanah yang dipalsukan, hingga pejabat-pejabat yang telah disuap.

Dengan cerdik, Zaenal merekam seluruh percakapan tersebut. Rekaman itu kemudian dibawa oleh para orang tua mereka bersama Paman Rota ke kota provinsi. Rekaman tersebut didengar oleh para wartawan dan langsung menjadi berita besar. Bahkan sebelum para pejabat itu menyadarinya, KPK sudah menggeledah kantor bupati dan gubernur.

Pak Kapten akhirnya diselamatkan, sekolah mereka dibangun kembali, dan aksi anak-anak Geng Badai pun masuk koran.

Kisah ini sangat menyentuh karena menggambarkan betapa banyaknya pejabat serakah yang tidak lagi mempedulikan kepentingan rakyat kecil. Tanah masyarakat yang menjadi sumber kehidupan mereka sering kali dikorbankan demi proyek besar. Selain itu, novel ini juga menunjukkan semangat anak-anak dalam mempertahankan kampung halaman dan hak milik mereka.

Identitas Buku

Judul : Si Anak Badai
Penulis : Tere Liye
Penerbit : PT Sabak Grip Nusantara
Cetakan : Ke-6, Februari 2024
Jumlah halaman : 335 halaman
ISBN : 978-623-96074-2-5