Hayuning Ratri Hapsari | Khoirul Umar
Sebelum Iblis Menjemput ayat 1 (imdb.com)
Khoirul Umar

Sebelum Iblis Menjemput Ayat 1 adalah film horor Indonesia yang menurut saya tidak hanya ingin menakut-nakuti penonton, tetapi juga mengajak melihat sisi gelap dari pilihan manusia. Film ini terasa berat, muram, dan penuh tekanan sejak awal, seolah ingin menegaskan bahwa teror yang ditampilkan bukan datang secara tiba-tiba, melainkan akibat dari kesalahan masa lalu yang terus menghantui.

Cerita film ini berfokus pada Alfie, seorang perempuan muda yang memiliki hubungan tidak harmonis dengan ayahnya. Ayah Alfie adalah sosok misterius yang hidup menyendiri dan menyimpan banyak rahasia. Ketika kondisi sang ayah memburuk, Alfie terpaksa kembali ke rumah lamanya bersama beberapa orang yang memiliki keterkaitan dengan sang ayah.

Di rumah tua tersebut, kejadian-kejadian aneh mulai terjadi. Alfie perlahan menemukan bahwa ayahnya pernah membuat perjanjian dengan kekuatan gelap demi kekayaan dan kesuksesan. Namun, perjanjian itu tidak pernah benar-benar selesai. Kini, iblis datang untuk menagih janji, dan bukan hanya sang ayah yang menjadi sasaran, tetapi juga orang-orang di sekitarnya.

Teror yang dialami para karakter bukan sekadar gangguan makhluk gaib, melainkan rangkaian kejadian brutal yang menguji mental dan fisik mereka. Alfie dipaksa menghadapi kenyataan bahwa dosa ayahnya telah menyeret dirinya ke dalam lingkaran kutukan yang sulit dihindari.

Menurut saya, tema utama film ini adalah konsekuensi dosa dan warisan kesalahan. Film ini menunjukkan bahwa keputusan buruk tidak berhenti pada pelakunya saja, tetapi dapat berdampak pada orang lain, bahkan pada generasi berikutnya. Teror dalam film ini terasa seperti hukuman yang tak terelakkan, bukan kebetulan.

Hal menarik dari film ini adalah bagaimana iblis digambarkan bukan sekadar sosok menakutkan, tetapi sebagai simbol dari kesepakatan yang dilanggar dan tanggung jawab yang dihindari. Iblis tidak datang tanpa alasan. Ia hadir karena manusia sendiri yang mengundangnya. Menurut saya, pendekatan ini membuat horor film ini terasa lebih “masuk akal” dalam logika ceritanya.

Film ini juga banyak bermain dengan rasa bersalah dan trauma. Alfie tidak hanya melawan teror fisik, tetapi juga konflik batin tentang hubungannya dengan sang ayah. Ia harus menerima kenyataan bahwa orang yang seharusnya melindunginya justru menjadi sumber malapetaka. Ini membuat horor dalam film terasa lebih emosional dan tidak sekadar visual.

Dari segi suasana, Sebelum Iblis Menjemput sangat konsisten menjaga atmosfer gelap. Rumah tua, lorong sempit, pencahayaan redup, dan suara-suara aneh menciptakan rasa terjebak yang kuat. Saya merasa film ini sengaja tidak memberi banyak ruang aman bagi penonton. Ketegangan dibangun perlahan dan jarang dilepaskan.

Akting para pemain menurut saya cukup meyakinkan, terutama pemeran Alfie. Ia berhasil menampilkan karakter yang keras, marah, namun sebenarnya rapuh. Emosi ketakutan dan keputusasaan terasa alami. Karakter ayah Alfie juga digambarkan sebagai sosok yang penuh penyesalan, meski sudah terlambat untuk memperbaiki segalanya.

Namun, menurut saya film ini juga memiliki kekurangan. Beberapa adegan terasa terlalu panjang dan berulang, terutama saat teror terus meningkat tanpa banyak perkembangan cerita. Selain itu, tingkat kekerasan dan darah yang cukup ekstrem bisa membuat sebagian penonton merasa tidak nyaman.

Menurut pendapat saya, Sebelum Iblis Menjemput Ayat 1 adalah film horor yang serius, gelap, dan cukup berani. Film ini tidak hanya menakutkan, tetapi juga menyampaikan pesan bahwa tidak ada jalan pintas yang benar-benar gratis. Setiap perjanjian, setiap dosa, dan setiap keputusan memiliki harga yang harus dibayar.

Film ini cocok untuk penonton yang menyukai horor dengan atmosfer berat dan cerita yang suram. Bagi saya pribadi, film ini berhasil karena mampu meninggalkan rasa tidak nyaman yang bertahan lama setelah film selesai. Dan dalam genre horor, rasa tidak nyaman itu justru menjadi bukti bahwa terornya bekerja.