Di tengah maraknya buku-buku tentang patah hati yang kerap terasa klise dan sok tahu, Yang Ditulis Usai Berpisah karya Arman Dhani menggunakan pendekatan yang jujur dan personal. Aku bahkan merutuki yang menyamakan sakit hati dan sakit gigi. Dua-duanya rasa sakit yang bisa begitu menyayat namun dengan eksekusi yang berbeda.
Diterbitkan oleh Buku Mojok pada 2021, buku setebal 41 catatan ini bukan sekadar kumpulan tulisan tentang kehilangan, tetapi semacam ruang konseling terbuka yang mengajak pembaca menyelami proses berduka secara apa adanya.
Buku ini mengusung genre yang unik: perpaduan antara fiksi, surat cinta, dan prosa reflektif. Ditulis seperti diary, setiap catatan terasa intim, seolah pembaca sedang mengintip percakapan batin yang tidak pernah benar-benar ditujukan untuk publik.
Isi Buku
Tokoh “Si M” menjadi pusat dari seluruh narasi, sosok yang dicintai, dirindukan, sekaligus perlahan dilepaskan. Yang menarik, buku ini tidak dimulai dari awal luka, melainkan dari fase ketika kebingungan sudah terjadi.
Penulis mempertanyakan apa yang salah, berandai-andai, dan mencoba menegosiasikan kenyataan yang pahit. Ini selaras dengan konsep lima tahap kesedihan dari Elisabeth Kübler-Ross. Denial, anger, bargaining, depression, dan acceptance, yang secara implisit menjadi kerangka emosional dalam buku ini.
Alih-alih menyajikan perjalanan yang rapi dan linier, Arman Dhani justru memperlihatkan bahwa proses berduka itu berantakan. Seseorang bisa kembali ke fase yang sama berulang kali. Dalam beberapa bagian, pembaca bahkan akan menemukan repetisi perasaan. Kerinduan yang diulang, penyesalan yang sama, harapan yang tak kunjung padam.
Pengalaman membaca buku ini bisa menjadi menantang. Tidak semua orang nyaman berada terlalu lama dalam ruang emosional yang intens. Namun justru di situlah kekuatannya. Buku ini tidak berusaha “menghibur” dengan cara instan. Buku ini mengajak pembaca duduk bersama rasa sakit, mendengarkannya, dan perlahan memahaminya.
Salah satu pesan penting yang muncul adalah bahwa kesedihan tidak mengenal gender. Selama ini, ada stigma bahwa laki-laki harus kuat, rasional, dan tidak larut dalam emosi. Arman Dhani meruntuhkan anggapan itu. Melalui tulisannya, ia menunjukkan bahwa laki-laki juga berhak merasa hancur, kehilangan, bahkan menangis. Bahwa merayakan patah hati bukanlah kelemahan, melainkan bagian dari proses menjadi manusia utuh.
Kelebihan dan Kekurangan
Buku ini juga menyoroti kecenderungan kita untuk “melarikan diri” dari rasa sakit. Dalam ceritanya, penulis pergi ke kota lain dengan harapan bisa melupakan segalanya. Namun pada akhirnya, ia menyadari bahwa jarak tidak pernah benar-benar menyelesaikan luka.
Kesedihan bukan sesuatu yang bisa ditinggalkan begitu saja, ia harus dihadapi.
Perpisahan seperti kecanduan yang tiba-tiba dihentikan. Seperti kopi yang biasa diminum setiap hari, lalu mendadak hilang. Awalnya mungkin terasa biasa saja, tetapi perlahan muncul rasa tidak nyaman yang semakin kuat. Begitulah kehilangan bekerja. Diam-diam, namun pasti.
Meski sangat personal, buku ini justru terasa universal. Banyak pembaca akan menemukan dirinya dalam potongan-potongan cerita yang ditulis. Entah itu dalam bentuk harapan yang belum padam, penyesalan yang terus menghantui, atau usaha untuk berdamai dengan kenyataan.
Menariknya, buku ini juga memunculkan refleksi kritis. Salah satunya tentang rasa bersalah dalam mencintai. Apakah kita perlu meminta maaf karena mencintai seseorang? Buku ini tidak memberikan jawaban eksplisit, tetapi membuka ruang untuk mempertanyakan hal tersebut. Bahwa mencintai adalah pilihan yang personal, dan tidak selalu harus disesali.
Pesan Moral
Bagian akhir buku menjadi titik penting. Di sanalah penulis mulai menunjukkan keberanian untuk melangkah. Bukan berarti luka itu hilang sepenuhnya, tetapi ada kesediaan untuk hidup berdampingan dengannya. Inilah fase acceptance, tahap yang sering kali paling sulit, namun juga paling membebaskan.
Yang Ditulis Usai Berpisah bukan buku yang ringan dalam arti emosional, tetapi ia ditulis dengan bahasa yang mengalir dan mudah dicerna. Ia bukan sekadar bacaan, melainkan pengalaman. Sebuah pengingat bahwa semua perasaan, baik nyaman maupun menyakitkan, adalah valid.
Buku ini mengajarkan satu hal sederhana. Untuk sembuh, kita tidak bisa berlari. Kita harus berani tinggal, merasakan, dan perlahan menerima. Karena dalam setiap perpisahan, selalu ada kesempatan untuk mengenal diri lebih dalam meski harus melalui jalan yang tidak mudah.
Identitas Buku
- Judul: Yang Ditulis Usai Berpisah
- Penulis: Arman Dhani
- Penerbit: Buku Mojok
- Tahun Terbit: 2021
- Tebal: 191 Halaman
- ISBN: 9786237284529
- Genre: Fiksi / Surat Cinta / Prosa
Baca Juga
-
Minyak Sawit Lebih Efisien, Tapi Hutan Bukan Harga yang Boleh Dikorbankan
-
Kalau Namanya Makan Bergizi Gratis, Mana Jaminan Gizinya?
-
Mengenal Proyeksi Gall-Peters: Mengungkap Distorsi Geografis di Peta Mercator
-
The Atala: Ketika Sejarah Nusantara Sera Membawa Menembus Waktu
-
Pelajaran Memaafkan di Buku Panduan Jalan-Jalan Aman Bersama Mama Macan
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review Film I Want Your Sex: Saat Batas Antara Seni, Eksploitasi, dan Obsesi Menjadi Kabur
-
4 Isu Sosial dalam Novel Klasik Pride and Prejudice,Tak Hanya Kisah Cinta!
-
Review Film Agensi Rumah Tangga: Saat Isu Kerasnya PHK Dibalut Komedi Segar
-
The House with Nobody in It: Rumah Kosong yang Ternyata Tidak Sepi
-
Ulasan The Detective Is Already Dead Vol 1-4: Dialog Menggigit, Eksekusi Plot Bikin Menjerit
Terkini
-
Mobile Suit Gundam RG XARX-ZERO Tayang April 2027, Hadirkan Dunia Baru
-
Mekanisme Reshuffle Kabinet: Hak Prerogatif atau Batas Konstitusi?
-
Sinopsis Haiwaan, Film Kriminal Dibintangi Saif Ali Khan dan Akshay Kumar
-
Capek Pantau Medsos tapi Susah Berhenti? Kenali yang Namanya Doomscrolling!
-
Menolak Lupa September Hitam: Membedah Rentetan Pelanggaran HAM Indonesia