Lintang Siltya Utami | Oktavia Ningrum
Happiness Here! (Dok.Pribadi/Oktavia)
Oktavia Ningrum

Media sosial dipenuhi foto liburan mewah, mobil baru, rumah megah, hingga pencapaian karier yang seolah tak ada habisnya, banyak orang tanpa sadar menyamakan kebahagiaan dengan kepemilikan materi. Semakin banyak yang dimiliki, semakin bahagia hidup seseorang. Itulah keyakinan yang diam-diam terus dipupuk. Namun, benarkah demikian?

Buku Happiness Here! Bahagia tuh di Sini! karya Sahrul Mauludi diterbitkan oleh Elex Media Komputindo pada 2017. Buku setebal 197 halaman ini menawarkan sudut pandang yang menarik. Kebahagiaan bukanlah sesuatu yang menunggu di masa depan setelah semua target tercapai, melainkan sesuatu yang bisa ditemukan di sini dan saat ini.

Isi Buku

Yang membuat buku ini menarik bukan sekadar ajakan untuk berpikir positif. Penulis menguatkan gagasannya dengan mengutip berbagai pemikir besar dunia, mulai dari Socrates, Aristoteles, Konfusius, Leonardo da Vinci, Isaac Newton, Albert Einstein, hingga psikolog modern seperti Sonja Lyubomirsky. Perpaduan antara filsafat klasik, psikologi positif, dan refleksi kehidupan sehari-hari membuat isi buku terasa ringan sekaligus berbobot.

Salah satu pembahasan paling menarik adalah perbedaan antara kesenangan (pleasure) dan kebahagiaan (happiness). Banyak orang mengira keduanya sama, padahal berbeda. Kesenangan berasal dari rangsangan luar, seperti membeli barang baru, makan makanan favorit, bermain gim, atau berbelanja. Sensasinya memang menyenangkan, tetapi biasanya hanya bertahan sesaat.

Sebaliknya, kebahagiaan adalah kondisi batin yang lebih dalam. Ia hadir melalui rasa cukup, syukur, damai, dan penerimaan terhadap hidup. Karena itu, seseorang bisa saja memiliki banyak uang tetapi tetap merasa kosong. Sebaliknya, ada orang dengan kehidupan sederhana yang mampu menjalani hari-harinya dengan penuh rasa syukur dan ketenangan.

Buku ini juga membahas konsep hedonic treadmill, yaitu kecenderungan manusia yang terus mengejar kepuasan baru tanpa pernah benar-benar merasa cukup. Setelah berhasil membeli satu barang impian, muncul keinginan lain. Setelah mencapai satu target karier, muncul target berikutnya. Siklus ini terus berulang sehingga kebahagiaan terasa selalu berada satu langkah di depan.

Fenomena tersebut terasa sangat relevan dengan kehidupan modern. Kita hidup di tengah budaya yang mendorong perbandingan tanpa henti. Media sosial membuat kita mudah merasa tertinggal hanya karena melihat pencapaian orang lain. Padahal, apa yang terlihat di layar belum tentu mencerminkan kenyataan hidup mereka.

Sahrul Mauludi mengingatkan bahwa kebahagiaan lebih banyak dipengaruhi oleh cara berpikir daripada keadaan eksternal. Gagasan ini sejalan dengan penelitian psikolog Sonja Lyubomirsky yang menunjukkan bahwa pola pikir, kebiasaan, dan aktivitas sehari-hari memiliki pengaruh besar terhadap tingkat kebahagiaan seseorang.

Salah satu bagian yang paling aplikatif dalam buku ini adalah pembahasan mengenai dua belas aktivitas yang dapat membantu meningkatkan kebahagiaan. Di antaranya adalah membiasakan bersyukur, berbuat baik kepada orang lain, membangun hubungan sosial yang sehat, menikmati momen sederhana, memaafkan, serta menemukan makna dalam pekerjaan dan kehidupan. Aktivitas-aktivitas tersebut terdengar sederhana, tetapi justru sering terlupakan karena kita terlalu sibuk mengejar sesuatu yang lebih besar.

Kelebihan dan Kekurangan

Penulis juga mengajak pembaca memahami bahwa kebahagiaan adalah sebuah pilihan. Bukan berarti seseorang harus berpura-pura bahagia ketika menghadapi musibah atau kehilangan. Kesedihan tetap merupakan emosi yang wajar. Namun, setelah melewati masa sulit, setiap orang memiliki kesempatan untuk memilih apakah akan terus tenggelam dalam penderitaan atau perlahan bangkit kembali.

Di sinilah buku ini terasa membumi. Penulis tidak menjual optimisme berlebihan ataupun janji hidup tanpa masalah. Sebaliknya, ia mengajak pembaca menerima bahwa hidup memang penuh tantangan, tetapi cara kita memandang tantangan itulah yang menentukan kualitas hidup.

Dari sisi penyajian, bahasa yang digunakan ringan, komunikatif, dan mudah dipahami. Setiap bab dipenuhi ilustrasi, kutipan tokoh, serta hasil penelitian yang membuat pembahasan terasa lebih hidup. Buku ini cocok dibaca oleh siapa saja, terutama mereka yang sedang merasa lelah mengejar standar kesuksesan yang terus berubah.

Happiness Here! Bahagia tuh di Sini! mengingatkan kita bahwa kebahagiaan bukanlah hadiah setelah semua impian tercapai. Ia adalah cara kita menjalani perjalanan menuju impian itu sendiri. Sebab, bila seseorang hanya menunggu bahagia setelah kaya, sukses, atau sempurna, bisa jadi ia akan terus mengejar tanpa pernah benar-benar sampai.

Kebahagiaan, seperti yang disampaikan buku ini, ternyata selalu berada lebih dekat daripada yang kita kira.

Identitas Buku

  • Judul: Happiness Here! Bahagia tuh di Sini!
  • Penulis: Sahrul Mauludi
  • Penerbit: Elex Media Komputindo
  • Tahun Terbit: 2017
  • ISBN: 9786020431598
  • Tebal: 197 halaman
  • Kategori: Nonfiksi, Motivasi, Pengembangan Diri