Lintang Siltya Utami | Tarassa Q.
The Boy and the Heron (IMDb)
Tarassa Q.

The Boy and the Heron merupakan film animasi Jepang yang menghadirkan perpaduan antara fantasi, drama keluarga, dan perjalanan emosional. Karya ini lahir dari tangan Hayao Miyazaki sebagai penulis sekaligus sutradara dan diproduksi oleh Studio Ghibli. Film yang dirilis pada 2023 ini mengambil inspirasi judul dari novel How Do You Live? karya Genzabur Yoshino yang terbit pada 1937. Meski demikian, cerita filmnya tidak merupakan pengadaptasian langsung dari novel tersebut.

Film ini menghadirkan jajaran pengisi suara Jepang, di antaranya Soma Santoki, Masaki Suda, Ko Shibasaki, Aimyon, Yoshino Kimura, Takuya Kimura, Kaoru Kobayashi, dan Shinobu Otake. Ceritanya berpusat pada Mahito Maki, anak laki-laki yang harus menghadapi perubahan besar dalam hidup setelah kehilangan ibunya. Di tengah kehidupannya yang baru, ia justru menemukan pintu menuju sebuah dunia penuh keajaiban dan misteri.

Kehilangan Ibu dan Kehidupan yang Berubah

The Boy and the Heron (IMDb)

Cerita bermula ketika Mahito kehilangan Hisako, ibunya, dalam kebakaran sebuah rumah sakit di Tokyo pada masa Perang Pasifik. Tragedi tersebut meninggalkan luka mendalam bagi dirinya. Setelah itu, ayahnya, Shoichi, menikahi Natsuko, adik dari Hisako. Mahito kemudian meninggalkan Tokyo dan tinggal bersama ayah serta ibu tirinya di sebuah rumah besar yang berada di daerah pedesaan.

Perubahan lingkungan tidak serta-merta membuat Mahito merasa nyaman. Ia masih dihantui kenangan tentang ibunya dan kesulitan menerima kehidupan barunya. Keadaan semakin aneh ketika Natsuko menghilang setelah pergi menuju kawasan dekat sebuah menara tua yang memiliki hubungan dengan keluarganya.

Di tengah kegelisahannya, Mahito berulang kali berhadapan dengan seekor burung cangak abu-abu yang dapat berbicara. Burung tersebut seolah sengaja menarik perhatiannya dan perlahan menuntunnya menuju reruntuhan bangunan tua. Karena rasa ingin tahu, Mahito akhirnya mengikuti burung itu dan memasuki menara misterius. Dari sanalah perjalanan luar biasa dimulai. Ia terlempar ke sebuah dunia lain yang memiliki aturan berbeda dan mempertemukan manusia yang masih hidup dengan sosok-sosok dari masa lalu.

Di tempat tersebut, Mahito bertemu dengan sosok yang menyerupai ibunya ketika masih muda. Ia juga berjumpa dengan kakek buyutnya yang menjadi penguasa dunia tersebut. Pengalaman itu memaksanya menghadapi berbagai perasaan yang selama ini ia pendam.

Petualangan Mahito bukan sekadar perjalanan menyelamatkan Natsuko. Dunia fantasi yang ia masuki menjadi ruang untuk memahami luka batinnya sendiri. Perlahan, Mahito belajar bahwa kehilangan seseorang yang dicintai tidak dapat dihapus begitu saja. Rasa sedih harus diterima sebagai bagian dari perjalanan hidup.

Pada akhirnya, ia berhasil menemukan dan menyelamatkan Natsuko. Mahito kemudian memilih kembali ke dunia nyata. Keputusan tersebut menjadi bagian penting dari pertumbuhannya karena ia tidak lagi berusaha melarikan diri dari kenyataan. Ia mulai menerima keluarga barunya, perubahan dalam hidupnya, serta kenyataan bahwa masa lalu tidak dapat dikembalikan.

Pengalaman Menonton yang Magis dan Mengundang Imajinasi

The Boy and the Heron (IMDb)

Bagi saya, daya tarik terbesar The Boy and the Heron terletak pada atmosfer magis yang sangat kuat. Seperti banyak karya Studio Ghibli lainnya, film ini mampu membuat dunia yang tampaknya mustahil terasa begitu hidup. Ada sejumlah kejadian yang mungkin terasa tidak masuk akal jika dianalisis menggunakan logika sehari-hari. Namun, justru kebebasan tersebut yang membuat pengalaman menontonnya menarik.

Hayao Miyazaki seperti memberikan ruang yang sangat luas bagi penonton untuk berimajinasi. Dunia yang diciptakan terasa aneh, indah, sekaligus misterius. Saya juga merasa senang melihat Studio Ghibli kembali menghadirkan film baru setelah cukup banyak karya mereka yang sudah berusia lama.

Salah satu bagian yang paling saya sukai adalah ketika burung cangak dengan sengaja membawa Mahito menuju reruntuhan bangunan tua. Adegan tersebut berhasil membangun rasa penasaran sekaligus ketegangan. Saya ikut bertanya-tanya mengenai apa yang sebenarnya tersembunyi di balik tempat tersebut dan ke mana perjalanan Mahito akan membawanya.

Di balik visual fantasinya, film ini menyimpan pesan yang cukup dalam. Mahito diperlihatkan sebagai anak yang harus belajar menerima kenyataan pahit setelah kehilangan orang yang sangat ia cintai. Film ini menunjukkan bahwa kesedihan membutuhkan waktu untuk diproses dan tidak dapat diselesaikan hanya dengan melupakan masa lalu.

Cerita Mahito juga mengingatkan bahwa melarikan diri ke dunia sempurna bukanlah solusi. Kehidupan nyata memang memiliki kehilangan, konflik, ketidaksempurnaan, dan perubahan. Namun, justru dengan menerima semua itu seseorang dapat melanjutkan hidup secara lebih bermakna.

Selain berdamai dengan duka, Mahito juga belajar membuka hati terhadap keluarga barunya. Hubungan dengan orang-orang terdekat menjadi pengingat bahwa kasih sayang tidak selalu hadir dalam bentuk yang kita harapkan. Film ini pun secara halus mengkritik keinginan menciptakan dunia tanpa kesalahan. Kesempurnaan ternyata bukan sesuatu yang harus dikejar jika harus mengorbankan kenyataan.

Secara keseluruhan, The Boy and the Heron merupakan film fantasi yang tidak hanya mengandalkan keindahan animasi, tetapi juga menghadirkan kisah tentang duka, keluarga, penerimaan, dan keberanian untuk melangkah maju. Dunia ajaib yang dimasuki Mahito pada akhirnya menjadi perjalanan untuk memahami kehidupan nyata.

Bagi saya, film ini berhasil memberikan pengalaman menonton yang unik, penuh imajinasi, sekaligus emosional. Ada bagian yang mungkin membingungkan, tetapi misteri dan ketidaklogisan tersebut justru menjadi bagian dari pesonanya. Saya memberikan nilai 8,5/10 untuk The Boy and the Heron.