Setelah sekian lama tidak membaca karya Andrea Hirata, Buku Besar Peminum Kopi terasa seperti oase yang menyegarkan. Novel setebal sekitar 360 halaman ini membawa pembaca kembali ke Belitung, tempat kehidupan masyarakatnya digambarkan melalui kesederhanaan, kemiskinan, kerja keras, dan kebiasaan berkumpul di warung kopi. Andrea memadukan tiga kisah, yaitu Padang Bulan, Cinta di Dalam Gelas, dan Maryamah Karpov, menjadi rangkaian cerita yang memperlihatkan bagaimana manusia berusaha bertahan sekaligus menemukan harapan di tengah kehidupan yang tidak mudah.
Cerita kembali mengikuti Ikal setelah dirinya menyelesaikan perjalanan pendidikan di Inggris. Kepulangannya ke kampung halaman mempertemukannya dengan rutinitas baru di kedai kopi milik sang paman. Ia bertugas mencatat berbagai hal di sana sekaligus menjadi pengamat kebiasaan para pelanggan. Warung kopi kemudian tidak hanya berfungsi sebagai tempat menikmati minuman, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk berbincang, bercanda, dan menyaksikan berbagai persoalan kehidupan.
Salah satu kisah yang paling menonjol adalah perjalanan Nong Maryamah atau Maria. Perempuan sederhana yang hanya menempuh pendidikan hingga tingkat sekolah dasar tersebut harus mengalami perubahan besar setelah ayahnya meninggal akibat tertimbun tanah ketika bekerja di tambang timah. Kehilangan itu membuat kehidupannya jatuh dalam kesulitan. Maryamah kemudian menjalani pekerjaan berat sebagai perempuan penambang timah, menghadapi kerasnya pekerjaan sekaligus pandangan meremehkan dari lingkungan sekitarnya.
Masalahnya semakin pelik karena pengalaman pahit bersama mantan suaminya, Mutarom. Sebagai pemain catur yang telah dua tahun menjadi juara bertahan, Mutarom memiliki reputasi kuat dalam pertandingan lokal. Maryamah kemudian menjadikan catur sebagai jalan untuk menghadapi lelaki tersebut. Tantangannya terasa mustahil karena sebelumnya ia bahkan tidak pernah memainkan catur. Namun, keterbatasan pengalaman tidak membuatnya menyerah.
Ikal kemudian menghubungi Ninoka Stronovski atau Noka, sahabatnya ketika berada di Inggris yang dikenal sebagai grandmaster catur internasional. Dengan bantuan Noka dan Ikal, Maryamah mulai mempelajari permainan tersebut dari tingkat paling dasar. Proses latihannya menunjukkan bahwa kemampuan seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh pendidikan formal. Meskipun hanya lulusan SD, Maryamah mampu memahami pola dan strategi catur karena memiliki kemauan belajar serta keteguhan yang luar biasa.
Menurut saya, daya tarik novel ini tidak hanya berada pada konflik Maryamah, tetapi juga pada penggunaan kopi sebagai gambaran kehidupan. Kopi memiliki rasa getir, tetapi tetap menghadirkan kehangatan. Begitu pula kehidupan yang kadang dipenuhi kehilangan, kemiskinan, penghinaan, dan ketidakadilan, tetapi masih menyisakan momen sederhana yang layak disyukuri. Catur juga memiliki makna tersendiri karena menjadi simbol keberanian Maryamah dalam merebut kembali harga dirinya.
Membacanya membuat saya seperti kembali berkunjung ke dunia yang pernah dibangun Andrea Hirata dalam karya-karya sebelumnya. Gaya berceritanya yang imajinatif dan diselingi humor membuat persoalan berat terasa lebih dekat. Namun, di balik hiburan tersebut, terdapat kritik terhadap kemiskinan, kehidupan buruh, pekerja anak, serta perjuangan perempuan untuk memperoleh penghargaan dan kesempatan.
Pada akhirnya, Buku Besar Peminum Kopi mengajarkan bahwa keterpurukan bukan alasan untuk berhenti bergerak. Maryamah menunjukkan bahwa seseorang dapat bangkit melalui keberanian, kemauan belajar, dan dukungan orang-orang terdekat. Ikal, Maryamah, dan Noka juga memperlihatkan arti persahabatan yang hadir bukan sekadar untuk menemani, melainkan untuk saling menguatkan.
Novel ini mengingatkan saya bahwa seperti secangkir kopi, kehidupan mungkin menyimpan rasa pahit, tetapi dari kepahitan itulah manusia dapat belajar menghargai kehangatan, keteguhan, dan kebahagiaan sederhana.
Identitas Buku
Judul: Buku Besar Peminum Kopi
Penulis: Andrea Hirata
Penerbit: Bentang Pustaka
Bahasa: Indonesia
ISBN: 9786022916642
Baca Juga
-
Ulasan Novel Mirai Karya Mamoru Hosoda: Belajar Memahami Arti Keluarga
-
Review Film Budi Pekerti: Ketika Satu Video Mengubah Segalanya
-
Karhutla Jadi Sorotan Dunia, Mengapa Respons Pemerintah Masih Santai?
-
Kontradiksi Gaya Komunikasi Prabowo: Singa Domestik, Kucing Imut di Panggung Internasional?
-
Habis Rp100 Ribuan, Puas Gak Ya Makan Kimchi Karubi Nikudon di Kimukatsu? Ini Pengalaman Aslinya!
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review Film I Want Your Sex: Saat Batas Antara Seni, Eksploitasi, dan Obsesi Menjadi Kabur
-
4 Isu Sosial dalam Novel Klasik Pride and Prejudice,Tak Hanya Kisah Cinta!
-
Review Film Agensi Rumah Tangga: Saat Isu Kerasnya PHK Dibalut Komedi Segar
-
The House with Nobody in It: Rumah Kosong yang Ternyata Tidak Sepi
-
Ulasan The Detective Is Already Dead Vol 1-4: Dialog Menggigit, Eksekusi Plot Bikin Menjerit
Terkini
-
Mekanisme Reshuffle Kabinet: Hak Prerogatif atau Batas Konstitusi?
-
Sinopsis Haiwaan, Film Kriminal Dibintangi Saif Ali Khan dan Akshay Kumar
-
Capek Pantau Medsos tapi Susah Berhenti? Kenali yang Namanya Doomscrolling!
-
Menolak Lupa September Hitam: Membedah Rentetan Pelanggaran HAM Indonesia
-
Minyak Sawit Lebih Efisien, Tapi Hutan Bukan Harga yang Boleh Dikorbankan