CERPEN: Senyuman Ibu Penuh Cinta

Hayuning Ratri Hapsari | Ryan Farizzal
CERPEN: Senyuman Ibu Penuh Cinta
Ilustrasi menyayangi ibu (unsplash/Muhammad Afandi)

Di sebuah rumah sederhana di kawasan Ampel, Surabaya, hidup seorang pemuda bernama Raya. Ia lahir dari rahim seorang ibu bernama Siti, yang senyumnya selalu menyimpan kehangatan seperti mentari pagi di tepi Sungai Kalimas. Siti adalah pedagang kecil di Pasar Atom, setiap hari berjuang melawan hiruk-pikuk kota untuk menghidupi keluarganya. Raya, anak tunggalnya, tumbuh di bawah naungan senyuman itu, yang selalu memberi kekuatan saat badai hidup datang.

Sejak kecil, Raya melihat bagaimana ibunya menghadapi hidup dengan tabah. Ayahnya meninggal saat Raya berusia lima tahun, kecelakaan di pelabuhan Tanjung Perak. Tapi Siti tak pernah menangis di depan anaknya. Ia hanya tersenyum, menyembunyikan air mata di balik keriput wajahnya. "Senyum itu doa, Nak," katanya selalu. Raya ingat betul, saat ia jatuh dari sepeda di gang sempit, ibunya datang dengan senyum lebar, meski tangannya sibuk membersihkan luka.

Waktu berlalu, Raya tumbuh dewasa. Impiannya membawanya ke Jakarta untuk kuliah dan bekerja. Ia meninggalkan Surabaya, meninggalkan aroma pasar pagi, dan meninggalkan ibunya. Di ibu kota, hidup Raya penuh hiruk-pikuk. Gedung tinggi, kemacetan, dan pekerjaan yang menuntut. Ia menjadi desainer grafis di agensi besar, tapi hatinya sering kosong. Setiap malam, di kamar kos sempit, ia merindukan suara adzan dari Masjid Ampel dan, yang paling utama, senyuman ibu.

Suatu hari, Raya mendapat kabar buruk. Ibunya sakit. Tumor di rahim, kata dokter. Raya buru-buru pulang. Perjalanan pesawat dua jam terasa abadi. Di pesawat, ia menatap awan, mengingat masa kecil. Ia ingat bagaimana ibunya mengajarinya membaca puisi di teras rumah saat senja. "Puisi itu seperti ombak Brantas, Nak. Datang dan pergi, tapi meninggalkan jejak." Raya tiba-tiba terinspirasi. Ia ambil ponselnya dan mulai menulis puisi untuk ibunya, lahir dari rindu mendalam.

Lewat Simpul Senyummu

Sedemikian tenang pelupuk melati yang gugur itu. Di kala sore tak berwangi, tapi masih bisa kurasakan singgungan Tuhan, lewat simpul senyummu.

O, secinta itukah rasamu. Sampai-sampai suryakencana kurasa gempar. Serindu itukah dirimu, hingga celah mandalawangi kurasa gamblang.

Cinta, katamu; Langit yang lenggang. Menyimpan hujan dan banyak bayang-bayang. Di padang ini sering aku menjemur. Bahasa-bahasa tubuhku.

Lalu pasir itu berbisik lembut ketika kaki ombak menyentuh jemariku, menyuarakan bulir-bulir rindu yang kaukirimkan melalui arus samudra.

Di bawah arak awan yang berbeda, masih bisa kulihat senyuman ibu di seberang sana. Walau hanya dengan memejamkan mata dan tahu kau ada di sini.

Bahkan pundakmu ialah malam, yang tak bisa mendiamkan ramaiku pada puisi.

"Tak ada nelayan yang tiba-tiba ahli mengarahkan perahu, Nak. Ombaklah yang mengirimkan pesan berkali-kali, agar hidup tak tumbang diterpa badai", katamu.

Setiap di ibu kota aku merindukan ibu kandung. Setiap saat, seluruhku adalah hujan. dan suaranya merupakan payung.

Belum musim urban. Gerimis turun di punggungku, mentari bersinar di matamu. Dengan saksama; kau selalu menerima kepulanganku.

Tetaplah begitu; Sederhana dan baik hati. Karena yang kutahu, nirwana itu dipenuhi orang-orang sepertimu.

Dan yakinlah jika doa Ibu bisa menghangatkan malam. Yang berjarak dari dekapan-dekapan.

Raya selesai menulis saat pesawat mendarat. Air matanya menetes, tapi ia tersenyum. Puisi itu seperti jembatan menghubungkan hatinya dengan ibu.

Sesampainya di Surabaya, Raya langsung ke rumahnya di Ampel. Ibu terbaring lemah di kamar. Wajahnya pucat, tapi saat melihat Raya, senyumnya mekar kembali. "Nak, kamu pulang," bisiknya. Raya duduk di samping, memegang tangan ibu. Ia bacakan puisi itu, suaranya bergetar. Setiap baris seperti doa mengalirkan cinta tak terucap.

Ibu mendengarkan dengan mata terpejam. Senyumnya tak pudar. "Bagus sekali, Nak. Senyum itu selalu kembali." Raya menangis, tapi bahagia. Ia sadar senyuman ibu adalah sumber kekuatannya, penuh cinta tak tergantikan.

Hari-hari berikutnya, Raya merrawat ibu. Ia tinggalkan pekerjaan sementara. Mereka habiskan waktu di Taman Surya atau jalan-jalan di Tunjungan, ibu cerita masa lalu, bagaimana ia belajar tersenyum meski hati pilu. "Cinta itu tindakan, Nak, seperti senyum yang kuberikan setiap hari."

Raya belajar banyak. Di balik senyuman ibu ada pengorbanan besar, doa dari jauh tanpa keluh.

Akhirnya ibu sembuh setelah operasi. Semangat hidupnya tinggi karena Raya. Saat Raya kembali ke Jakarta, ibu peluk erat. "Ingat, senyum ibu selalu bersamamu lewat doa."

Raya pergi dengan hati penuh. Di kota besar, saat kesulitan datang, ia ingat puisi dan senyuman ibu sebagai pelita. Cinta ibu tak pernah habis.

Kini Raya sering pulang ke Surabaya. Senyuman ibu penuh cinta adalah harta terbesar, tak tergantikan di tengah dunia.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak