Lilo dan Moka: Kucing yang Tak Bersyukur

M. Reza Sulaiman | Angelia Cipta RN
Lilo dan Moka: Kucing yang Tak Bersyukur
Ilustrasi Lilo dan Moka (ChatGPT AI)

Di sebuah kota yang sibuk dan penuh cahaya, hiduplah seekor kucing bernama Moka. Bulunya putih lembut dan bersih, sedangkan lehernya selalu dihiasi kalung kecil yang berbunyi kring-kring. Ia tinggal di apartemen tinggi, tidur di sofa empuk, dan setiap pagi semangkuk makanan lezat sudah menunggunya.

Namun, Moka sering menguap bosan sambil memandangi jendela ke arah dunia luar.

"Ah, hidupku membosankan," keluhnya. "Semua serba mudah. Tidak ada petualangan. Tidak seperti kucing desa yang bebas berlari di sawah dan ladang. Aku juga ingin bebas seperti mereka."

Moka tetap menatap ke luar jendela dengan wajah murung.

Jauh dari kota, di sebuah desa yang hijau dan sunyi, hiduplah kucing loreng bernama Lilo. Tubuhnya ramping, kakinya kuat, dan matanya hijau tajam. Ia biasa berburu tikus di lumbung padi, mengejar capung di pematang, dan tidur di bawah pohon mangga.

Namun, suatu sore, Lilo menatap langit sambil mendengar cerita burung pipit.

"Di kota," kata burung Pipit itu, "kucing hidup enak. Makanan selalu ada, tidak perlu berburu, dan tidur di rumah yang hangat. Apa kau tidak ingin seperti itu, Lilo?"

Lilo menghela napas. "Andai aku bisa hidup di kota, ya, Pit. Tidak perlu lapar, tidak perlu waspada setiap saat. Aku juga ingin jadi kucing kota yang terawat dan tidak lusuh seperti ini."

Tanpa disadari, keinginan Moka dan Lilo bertemu pada malam yang sama, yaitu malam ketika bulan menggantung bulat dan terang. Di bawah sinar bulan itu, keajaiban terjadi. Mereka tiba-tiba bertukar kehidupan, seakan-akan dewa tahu keinginan mereka dan mengabulkannya sesaat.

Ketika Moka terbangun keesokan paginya, ia tidak lagi mencium aroma jeruk khas apartemen. Hal yang ia rasakan adalah bau tanah basah dan rumput.

"Apa ini?" Moka melompat kaget.

Di sekelilingnya terbentang sawah yang luas. Tidak ada sofa. Tidak ada mangkuk makanan. Hanya ada angin dan suara jangkrik saja.

Sementara itu, di kota, Lilo membuka mata dan hampir terlonjak. Suara klakson meraung, langkah kaki manusia berdentam, dan lampu-lampu menyala tanpa henti.

"Astaga, ini kota?" gumamnya dengan mata terbelalak lebar.

Hari pertama di desa, Moka sangat lapar. Ia menunggu dan terus menunggu, tetapi tidak ada manusia yang datang membawa makanan untuknya.

"Tenang," katanya pada diri sendiri. "Aku bisa cari makan sendiri."

Ia mencoba mengejar kupu-kupu, tetapi gagal. Ia mencoba menangkap tikus-tikus tanah, tetapi mereka malah menertawakannya sebelum kabur. Kaki Moka tidak terbiasa berlari di tanah berlumpur. Bulunya kotor dan perutnya melilit. Saat malam tiba, Moka menggigil di bawah semak. Tidak ada selimut, tidak ada dinding hangat.

"Ini bukan hidup enak, ini penderitaan," bisiknya lemah yang membuat kedua matanya berkaca-kaca menatap gemerlapnya langit malam.

Di kota, Lilo juga mengalami hari yang tidak kalah sulit. Awalnya ia senang melihat semangkuk penuh makanan. Ia makan dengan lahap. Namun, setelah itu, ia tidak tahu harus berbuat apa.

Ia mencoba berlari di ruangan sempit. Ia ingin memanjat, tetapi tidak ada pohon. Ia ingin diam, tetapi suara kota tidak pernah berhenti, bising, dan membosankan. Ketika malam datang, Lilo tidak bisa tidur. Cahaya lampu menembus jendela. Suara mesin berdengung tanpa henti. Manusia mondar-mandir dan mengangkatnya tanpa peringatan.

"Berhenti, aku butuh istirahat dengan tenang," desisnya sambil bersembunyi di bawah meja.

Hari demi hari berlalu. Moka semakin kurus. Ia belajar sedikit demi sedikit tentang cara mencium jejak dan cara mendengar gerakan halus. Namun, tubuhnya terlalu terbiasa dimanjakan. Setiap berburu terasa seperti perjuangan besar.

Lilo, sebaliknya, mulai sakit kepala. Ia kenyang, tetapi jiwanya lelah. Ia merindukan angin desa, suara serangga, dan sunyi yang ramah, apalagi petualangan serunya menangkap tikus di sawah.

Suatu malam, di bawah bulan yang sama seperti sebelumnya, Moka dan Lilo sama-sama menatap langit dengan hati yang sedih dan hampa.

"Aku ingin pulang dan menjadi diriku sendiri," kata Moka pelan.

"Aku lelah, aku ingin kembali ke kehidupan berburuku," bisik Lilo.

Angin berdesir lembut. Bulan bersinar lebih terang. Tiba-tiba mereka mengantuk berat dan keajaiban itu terjadi lagi hingga membawa mereka kembali ke kehidupan sebenarnya.

Pagi berikutnya, Moka terbangun di sofa putih empuknya. Mangkuk makanan ada di sampingnya. Namun, kali ini ia tidak langsung makan. Ia menatap jendela dengan mata berbeda.

Di desa, Lilo membuka mata di bawah pohon mangga. Angin sejuk menyapa. Ia menghela napas panjang, lega. Akhirnya, ia bisa kembali pulang.

Beberapa hari kemudian, seekor burung pipit kembali membawa kabar. "Apa kamu sudah mencoba hidup menjadi kucing kota, Lilo?" tanyanya.

Lilo mengangguk. "Iya, Pit. Aku juga jadi belajar sesuatu. Hidup enak bukan tentang terlihat nyaman, tetapi tentang cocok atau tidaknya."

"Lalu?" tanya si Pipit lagi yang penasaran.

Lilo tersenyum kecil. "Apa yang tampak mudah bagi orang lain, bisa sangat berat jika itu bukan dunia kita."

Sejak saat itu, Moka pun berhenti iri pada kebebasan hidup kucing lainnya. Ia bersyukur pada rumahnya, namun juga lebih menghargai usaha hidup di alam liar. Lilo pun tidak lagi iri pada kemewahan kota. Ia memahami bahwa ketenangan adalah kekayaannya sendiri.

Malam itu sangat cerah, gemintang berkelap-kelip seakan menyapa. Di bawah bulan yang sama, dua kucing di dua dunia berbeda hidup dengan satu pelajaran yang sama, yaitu hidup orang lain selalu tampak lebih indah dari jauh, tetapi sebenarnya memiliki ujian yang berbeda. Kita harus banyak bersyukur.

"Malam ini dan seterusnya, aku akan hidup dengan caraku. Aku tidak akan iri pada hidup orang lain tanpa memahami perjuangan dan kenyataan di baliknya. Setiap tempat, setiap kehidupan, memiliki tantangan dan keindahannya sendiri," gumam Lilo malam itu. Ia memilih tidur di bawah pohon mangga yang nyaman daripada terkekang di dalam apartemen kota.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak