CERPEN: Kado Ulang Tahun dari Tuhan

M. Reza Sulaiman | Fathorrozi 🖊️
CERPEN: Kado Ulang Tahun dari Tuhan
Ilustrasi cerpen Kado Ulang Tahun dari Tuhan (Gemini AI)

Jumat, 2 Januari 2026, hamparan awan hitam membuat langit gelap. Hujan pun tak juga reda. Januari awal tahun ini tengah bersahabat dengan deraian rintik hujan.

Aroma racikan kimia obat menelusup ke segala penjuru ruangan. Dentum tetesan air infus ibarat qathrul ghaits di pagi hari, memecah keheningan saat itu serta menemaniku yang terbujur lemas tak bertenaga di atas ranjang. Hipertensi dan bronkitis memaksaku untuk tinggal selama beberapa hari di kamar bernomor 29 RSUD dr. Soebandi, Jember.

Dengan segala kekuatan, aku mencoba untuk membuka mata. Dari sana, kornea mataku menangkap sebuah bayang seseorang. Dalam keremangan, kucoba mengenali sosok itu. Berpostur tubuh tinggi, berambut ala Mandarin. Laki-laki itu tak lain dan tak bukan adalah Mas Rozi, tunanganku yang selalu ada dalam suka duka.

“Mas, Mas sudah berapa lama menemaniku di sini?” aku mencoba menyapa laki-laki yang menjadi sandaran hatiku itu. Calon suamiku.

“Hussst, sudah, Adik istirahat saja. Nggak usah pikirin Mas! Mas nggak apa-apa kok,” Mas Rozi menutup lembut mulutku dengan jari telunjuknya, lalu membelai mesra rambutku.

Aku terdiam, melunglai lemas. Sebegitu sayangkah laki-laki itu kepadaku? Aku menatap manik matanya, mengucapkan seribu harapan. Dengan background kedukaan, tanpa sengaja aku melihat buliran air mata menetesi selimutku. Tangan Mas Rozi masih menggenggam erat tanganku yang tak bertenaga.

“Kakak, Kakak. Kak Riezta,” suara adikku, Achi, menyibak suasana hening dalam kamar inapku. Hadir pula ayah dan ibu di belakangnya. Orang yang selalu kubuat susah karena penyakitku.

“Nak, kamu sudah baikan sekarang?” sapa ibu sembari menciumi keningku.

Aku hanya bisa tersenyum lemas dan menatapnya sebagai jawaban atas pertanyaan dan balasan terhadap ciuman kasih sayang darinya. Ayah hanya menatapku lalu duduk di sampingku. Aku dapat membaca mata semua orang terkasihku. Mulai dari ayah, ibu, adik, dan tunanganku, mereka semua sangat mengharapkan kesembuhanku.

Aku tak sanggup menyaksikan ini semua. Aku hanya makhluk kecil hina yang semasa hidupnya hanya terkuras dengan selalu membuat repot dan susah orang lain. Padahal, aku ingin mewarnai hidup ini dengan gelak tawa, suka ria, dan keceriaan. Namun apa hendak dikata, hidupku penuh penyakit dan selalu bernostalgia dengan obat untuk mengusir segala penyakit yang selalu menghantuiku.

“Kak Riezta, Kakak harus sembuh, besok kan ulang tahun Kakak,” Adik Achi mengingatkanku pada hari kelahiranku.

“Adikmu benar, Riez. Kami sudah menyiapkan semuanya untuk acaramu besok,” kata ayah.

Aku hanya tersenyum lemas mendengar semua itu. Aku tak tahu harus berkata apa, padahal aku sendiri lupa akan hari itu. Dan ternyata usiaku sudah hampir mencapai 18 tahun. Hanya hampir, tinggal hitungan jam. Namun aku tak pernah tahu apakah usiaku akan sampai pada angka 18 atau tidak.

Apakah perjalanan hidupku terus berlanjut atau malah cukup sampai di sini? Semua itu hanyalah Tuhan semata yang tahu, karena memang semua ini adalah skenario garapan spektakuler dari-Nya. Hanya Sang Mahakuasa yang tahu terhadap ending dari sandiwara dunia ini. Happy ending ataukah justru sad ending? Wallahualam.

Jarum jam menunjukkan pukul 23.59 WIB. Mas Rozi masih saja duduk bertahan di sampingku walaupun sebenarnya aku tahu badannya menuntut haknya untuk beristirahat. Ayah, ibu, dan Adik Achi pulang ke Ledokombo dua jam yang lalu karena memang aku yang memintanya sebab besok pagi Adik Achi harus kembali masuk sekolah.

“Dik, kenapa kamu tidak tidur? Ini sudah malam. Nanti makin parah sakitnya dan tak akan sembuh-sembuh,” Mas Rozi bertanya kepadaku dengan lembut, penuh kasih sayang yang tiada tara.

“Mas, aku hanya ingin merasakan detik-detik usiaku menuju angka 18. Hanya tinggal satu menit lagi, Mas,” mataku menatap jam dinding yang diam membisu di bilik tembok kamar rawatku.

Mas Rozi tersenyum menanggapi pernyataanku dan menggenggam erat tanganku. Mas Rozi menghela napas dan ikut melirik jam dinding yang terus berputar menuju angka 12.

“Happy birthday to you my darling!” ucap Mas Rozi kepadaku seraya mendaratkan sebuah kecupan mesra di keningku. Mataku terpejam merasakan aliran hangat cinta kasih dari tunanganku yang kian meresap ke relung sukmaku.

Lagi-lagi aku hanya bisa membalas itu semua dengan senyumku yang tak lagi bergairah.

“Dik, lebih baik sekarang adik tidur saja, soalnya sudah larut malam!” Mas Rozi mengingatkanku kembali akan malam yang semakin larut.

“Mas, aku takut.”

“Masya Allah. Dik, apa lagi yang masih mesti ditakutkan? Mas akan selalu ada di sini untuk menjaga Adik. Tidak ada yang harus dikhawatirkan. Mas yakin segalanya akan berjalan sesuai niat dan harapan kita. Sekarang adik tidur saja ya, Sayang?”

“Mas, aku takut untuk pejamkan mata. Aku takut besok pagi tak bisa membuka mata lagi. Tak mampu melihat mentari bersinar dan merasakan bayu yang berembus. I'm afraid, tomorrow I can't open my eyes.”

Darling, don’t be afraid! I will always be with you in here,” Mas Rozi mendekap erat tubuhku hingga aku memiliki keberanian untuk memejamkan mata. Aku merasa memiliki tempat berteduh ketika hujan dan halilintar terus menemani derap langkahku.

Mentari pagi 3 Januari 2026 indah berseri. Alhamdulillah aku masih dapat membuka mata dan menghirup udara segar di Kota Suwar-Suwir ini. Tepat jam 13.00 WIB, ayah, ibu, serta Adik Achi datang lagi. Mereka membawa kue ulang tahun dengan lilin berbentuk angka 18 untukku.

“Selamat ulang tahun, Kak!” Adik Achi memberikan selamat kepadaku. Kemudian diikuti pula oleh ayah dan ibuku. Dilanjutkan pula dengan acara peniupan lilin.

Seisi ruangan mengembangkan senyum sebagai lambang kebahagiaan. Ayah, ibu, Adik Achi, dan Mas Rozi menyanyikan lagu Jamrud bertajuk Selamat Ulang Tahun. Lalu, diakhiri dengan munajat doa.

Aku termangu melihat lilin yang terus meleleh oleh api. Aku pun membatin, akankah usiaku yang ke-18 terkikis oleh penyakit sebagaimana nasib yang menimpa lilin itu? Akankah pada tanggal 3 Januari mendatang, aku masih dapat meniup lilin dengan label angka 19?

“Ayo, Nak, potong kuenya!” Permintaan ibu membuatku tersadar dari lamunan. Aku pun segera memotong kue ulang tahun itu menjadi beberapa potongan. Kemudian kubagikan sebagian potongannya kepada ayah, ibu, Adik Achi, dan Mas Rozi.

Hari ini begitu menyenangkan bagiku. Namun, apakah ini awal ataupun sebagai akhir dari segalanya? Aku kurang tahu. Ya Tuhan, sontak rasa nyeri di dadaku mulai datang lagi. Waktu itu, hanya Mas Rozi yang menemaniku. Bronkitis itu datang lagi. Oksigen dari tabung O2 terasa tak lagi dapat membantuku untuk bernapas.

Keadaan itu membuat Mas Rozi panik. Tanpa pikir panjang, Mas Rozi segera beranjak memanggil dokter. Dokter pun datang beberapa saat kemudian, lalu disusul ayah, ibu, dan Adik Achi. Dan syukur alhamdulillah, berkat bantuan dokter, rasa nyeriku mulai sedikit enyah.

Kini semua orang-orang terkasih lengkap berada di sampingku. Sorot mata mereka memancarkan selaksa harapan agar aku dapat sembuh dan bisa berkumpul kembali di tengah-tahun mereka. Hatiku menangis melihat semua itu. Sebenarnya tak jauh beda dengan perasaan yang ada dalam diriku. Tapi, bayang-bayang sayap kematian seolah terus mengejar dan menghantuiku.

Tak lama kemudian, seberkas cahaya putih menelusup lewat celah jendela kamar tempat aku dirawat. Entah apa itu? Mungkin saja sebagai isyarat bahwa tak lama lagi Malaikat Izrail akan datang untuk menjemputku. Saat itu yang kurasakan tiada lain kecuali rasa sakit di sekujur tubuhku. Mungkin inilah prosesi sakratulmaut itu.

Napasku terasa sampai di dada. Semua orang menitikkan air mata kedukaan. Dengan mata yang sembab, mereka menuntunku mengucapkan kalimat tauhid. Aku pun mengekori ucapan mereka dengan terbata-bata.

La ilaha illa Allah Muhammadar Rasulullah.

Napasku sirna seketika, setelah sempurna kalimat tauhidku. Semua yang hadir berteriak histeris mengiringi kepergianku menuju alam ukhrawi. Alam keabadian.

Tepat pada usiaku yang ke-18 tahun, bersamaan dengan gema azan Duhur, aku pergi menghadap Zat yang telah menciptakanku.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un……. Aku telah kembali ke sisi-Nya. Inilah kado ulang tahun dari Tuhan. Dia telah mengirimkan malaikat maut-Nya untuk menjemputku menuju dua perhitungan. Surga ataukah neraka?

Ayah, Ibu, maafkan aku. Aku tak dapat membalas pengorbanan tulus kalian. Adik Achi, kakak tak dapat membimbingmu lagi, bermain, tertawa, dan bersenda gurau karena kini alam kita sudah berbeda. Maafkan kakak, wahai Adikku!

Mas Rozi, tunanganku. Seandainya engkau tahu betapa aku masih sangat mencintaimu. Ketika aku masih hidup, aku sangat berkeinginan menjadi istri dunia-akhiratmu sekaligus ibu dari anak-anak kita. Namun, semua itu kini hanya tamanni belaka. Harapan yang tidak dapat diraih sebab aku sudah pergi untuk selamanya. Dan walaupun kini aku telah tiada, tapi sebenarnya 100% aku masih tetap mencintaimu.

Tepat di samping kiri rumah keabadian Mas Arik, di sana aku dikebumikan. Aroma tanah kuburan dan kemenyan menjadi aromaterapi abadi yang akan kuhirup dalam alam keabadian. Rangkaian bunga belasungkawa dan duka cita serta pohon kamboja sebagai hiasan taman rumahku.

Mas Rozi, maafkan aku! Mungkin kini engkau selain memanjatkan doa untukku, engkau juga akan menjelma menjadi pendengar setia lagu milik Agnez Mo yang bertajuk Tanpa Kekasihku.

Langit begitu gelap, hujan tak juga reda
Kuharus menyaksikan cintaku terenggut tak terselamatkan
Ingin kuulang hari. Inginku perbaiki
Beraninya kau pergi dan tak kembali
Di mana letak surga itu? Biar kugantikan tempatmu denganku
Adakah tangga surga itu biar kutemukan untuk bersamamu
Kubiarkan senyumku menari di udara. Biar semua tahu….
Kematian tak mengakhiri…. Cinta
Apalah artinya hidup tanpa kekasihku. Percuma ku ada di sini.

Mas Rozi, seandainya engkau tahu sebenarnya aku masih ingin menghabiskan hari-hariku bersamamu. Namun apalah daya, Tuhan berkehendak lain. Aku dapat melihatmu, namun engkau tak dapat melihat ruhku.

Sekali lagi, kuulangi kata yang bermuara dari lubuk hatiku yang paling dalam dan kulafazkan dengan sadar sepenuh jiwa bahwa sebenarnya hingga saat ini pun aku masih ingin menemani hari-harimu dan tetap menyayangimu dengan sepenuh cinta.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak