Hikayat Pohon Beringin di Depan Rumah

M. Reza Sulaiman | Sam Edy
Hikayat Pohon Beringin di Depan Rumah
Hikayat Pohon Beringin. (Nano Banana/Gemini)

Entah siapa yang kali pertama mendengungkan cerita perihal pohon beringin angker yang tumbuh subur di depan rumah ini. Yang aku tahu, pohon beringin itu memang angker sebagaimana yang sering dikisahkan oleh Eyang Kakung, satu-satunya eyang yang tersisa kini.

Menurut Eyang, pohon beringin itu ada penghuninya. Penghuni bukan sembarang penghuni; penghuni yang tentu saja bukan dari sebangsa manusia. Kata Eyang, para penghuni pohon beringin akan murka ketika pohon tersebut diusik oleh manusia. Ketika ada orang yang ingin melukai pohon beringin tersebut, para penghuninya akan marah kepadanya.

"Dulu pernah ada orang kesurupan gara-gara nekat ingin memotong salah satu batang pohon beringin itu untuk dijadikan kayu bakar," tutur Eyang pada suatu hari.

Aku hanya manggut-manggut mendengar cerita Eyang, sementara dalam hati bergidik ngeri membayangkan orang yang mendadak kesurupan. Setahuku, orang kesurupan itu mirip orang gila yang biasanya mengamuk dan tidak ada satu orang pun yang bisa mengendalikannya.

"Pernah juga ada orang yang jatuh dan kakinya lumpuh setelah nekat memanjat dan ingin menebang pohon beringin itu," lanjut Eyang yang membuatku semakin bertambah ngeri.

Perihal keangkeran pohon beringin itu memang bukan bualan belaka. Para sesepuh warga desa ini pun mengamininya. Namun, seiring berjalannya waktu, terlebih ketika Eyang sudah tiada, kisah tentang keangkeran pohon beringin itu perlahan memudar.

Aku yang saat ini berusia hampir kepala empat pun sudah tidak setakut dulu saat lewat atau duduk di depan rumah pada malam hari. Padahal dulu waktu kecil, ketika azan magrib sudah berkumandang dari corong masjid di ujung kampung ini, dipastikan aku sudah tidak berani keluar rumah, kecuali bila ditemani oleh Eyang, Ayah, atau Ibu.

Bahkan kini, kedua anakku yang masih duduk di sekolah dasar tidak ada takut-takutnya bermain di sekitar pohon beringin yang kini tumbuh semakin besar dan rimbun.

Sungguh, aku tidak dapat berbuat apa-apa ketika pada akhirnya pohon beringin itu harus lenyap dari depan rumah. Pelebaran jalan menjadi alasan utama penebangan pohon beringin tinggi besar itu. Mereka, orang yang ditugasi menebang pohon beringin itu, malah tersenyum geli saat kuceritakan tentang keangkeran pohon tersebut.

Pak Lurah beserta perangkat desa pun jauh-jauh hari sudah kuingatkan tentang keangkeran pohon beringin yang ada di depan rumahku dan bersisian persis dengan jalan raya. Mereka, sambil tersenyum meremehkan, juga tidak percaya dengan angkernya pohon beringin itu.

Kini, pohon beringin itu telah lenyap tanpa sisa. Jalan raya di depan rumah pun sudah diaspal dan diperlebar. Lalu-lalang kendaraan semakin ramai setiap harinya. Orang-orang sudah tidak ada yang ingat dengan hikayat keangkeran pohon beringin di depan rumahku.

Sampai pada suatu hari, turun hujan lebat semalaman. Betapa kagetnya aku saat keluar rumah di pagi hari melihat air hujan meluber hingga menggenangi jalan raya. Tingginya mencapai betis orang dewasa. Seumur-umur, baru kali ini ada kejadian banjir di desaku.

Kebumen, 6 Januari 2026

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak