Ramadan di Rumah Bu Sari

Hayuning Ratri Hapsari | Ukhro Wiyah
Ramadan di Rumah Bu Sari
Ilustrasi Ruang Makan di Rumah Bu Sari (Gemini AI)

Jam dinding di ruang tengah berdetak pelan ketika Bu Sari membuka pintu dapur. Bunyi kayu tua yang bergesekan terdengar lirih di tengah sunyi dini hari. Rumah kecil di ujung gang itu masih gelap, hanya lampu dapur yang menyala kekuningan, memantulkan bayangan panjang di lantai keramik yang mulai kusam.

Rice cooker tua berdengung pelan. Bu Sari mengangkat tutupnya, uap nasi hangat mengepul memenuhi udara. Tangannya yang mulai keriput lincah memecahkan dua butir telur ke dalam mangkuk, mencampurnya dengan irisan daun bawang dan sedikit garam.

“Pak, bangun … sudah hampir sahur,” panggilnya lembut ke arah kamar.

Beberapa saat kemudian, suara langkah kaki terdengar. Pak Rahmat keluar dari kamar mandi dengan raut lebih segar.

“Sudah jam berapa, Bu?” tanyanya pelan.

“Setengah jam lagi imsak, Pak.”

Pak Rahmat menarik salah satu kursi kayu di meja makan. Meja itu cukup untuk empat orang. Empat kursi masih setia mengelilinginya. Bu Sari meletakkan empat piring seperti biasa. Satu untuk Pak Rahmat. Satu untuk dirinya. Dua lainnya di sisi berseberangan. Pak Rahmat menatap dua piring itu sebentar. Nasi putih, telur dadar, tempe goreng, dan segelas air.

“Bu …,” suaranya pelan.

Bu Sari pura-pura sibuk menuang air minum. “Airnya sudah saya isi, Pak. Jangan lupa minum yang banyak.”

Pak Rahmat tidak melanjutkan kalimatnya. Ia hanya duduk dan mulai makan perlahan. Dulu, setiap sahur, meja itu tidak pernah benar-benar sunyi. Rian selalu mengeluh bangun terlalu pagi. Rara sering minta lauk berbeda dari yang dimasak ibunya. Sendok-sendok berbunyi cepat, gelas kadang tersenggol. Sekarang, yang terdengar hanya detak jam dan napas pelan dua orang yang mencoba terlihat biasa saja.

“Tadi sore Rara kirim pesan,” kata Bu Sari pelan.

Pak Rahmat mendongak. “Apa katanya?”

“Katanya lembur. Banyak kerjaan sebelum lebaran. Dia pesan supaya kita jangan lupa makan yang cukup.”

Pak Rahmat mengangguk. “Rian juga telepon kemarin. Tiket mahal sekali. Sepertinya belum bisa pulang.”

Bu Sari terdiam sejenak, embusan napasnya terdengar begitu berat. “Sepertinya, bulan puasa tahun ini anak-anak kita belum bisa pulang, ya, Pak.”

“Tidak apa-apa. Yang penting mereka sehat.” Pak Rahmat mengusap bahu istrinya menenangkan. Dia tahu, istrinya itu pasti sudah sangat rindu. Namun bagaimana lagi, hanya doa yang bisa mereka berdua panjatkan untuk anak-anak yang mengadu nasib di kota orang.

Kentongan dari masjid terdengar di kejauhan. “Sahur … sahur …” Takmir masjid juga mengumumkan tiga puluh menit lagi sudah memasuki waktu salat subuh.

Bu Sari dan Pak Rahmat cepat-cepat menghabiskan menu sahur sederhana di hari pertama puasa kali ini. Setengah jam kemudian, ketika azan subuh berkumandang, Pak Rahmat dan Bu Sari sudah bersiap menunaikan salat subuh berjamaah.

Subuh berlalu dengan khusyuk. Setelah salat, Pak Rahmat tetap duduk bersila beberapa saat, jemarinya memutar tasbih kecil yang mulai mengilap karena sering dipakai. Bu Sari merapikan sajadah, lalu melipat mukena dengan hati-hati. Rumah kembali sunyi. Begitulah keadaan rumah mereka sejak dua anaknya memilih merantau.

Pak Rahmat berdiri dan membuka pintu depan. Udara pagi masuk perlahan, dingin dan segar. Ia mengambil sapu lidi dan mulai menyapu halaman kecil di depan rumah. Bu Sari menyusul beberapa menit kemudian, menyiram pot cabai dan bunga melati dengan air secukupnya. Wajahnya tampak lebih tenang setelah salat.

“Pak,” katanya pelan, “Bapak kangen, ya?”

Pak Rahmat berhenti menyapu sebentar. “Namanya orang tua, Bu.”

Bu Sari tersenyum samar. “Dulu rumah ini terasa sempit.”

“Sekarang terasa luas sekali,” lanjut Pak Rahmat.

Mereka sama-sama tahu maksud kalimat itu. Dari dalam rumah, meja makan masih menyisakan dua piring kosong yang belum disentuh. Bu Sari masuk, membereskannya perlahan. Nasi dari dua piring itu dipindahkan ke wadah untuk makan berbuka nanti.

Tangannya berhenti sejenak ketika menyentuh kursi Rian.

“Bu…” panggil Pak Rahmat dari teras. “Nanti sore kita ke pasar, ya? Beli kurma lebih banyak.”

Bu Sari menoleh. “Untuk apa?”

Pak Rahmat tersenyum tipis. “Nanti Bapak ajak anak kos sebelah buka bareng kita.”

Bu Sari tidak menjawab, tapi senyum itu perlahan ikut terbit. Mungkin, kehadiran satu atau dua orang di rumahnya bisa sedikit menjadi penawar rindu mereka.

***

Sore itu, setelah Asar, Pak Rahmat benar-benar pergi ke rumah kos di gang sebelah. Bangunannya sederhana, catnya mulai mengelupas. Di terasnya ada beberapa sandal berserakan. Pak Rahmat menghampiri Farid yang sedang mengaji seorang diri di balkon kamarnya sembari menunggu waktu berbuka.

“Assalamu’alaikum,” sapa Pak Rahmat ramah.

Farid terkejut, lalu cepat berdiri. “Wa’alaikumussalam, Pak. Ada apa?”

“Nanti magrib, kalau belum ada rencana, ikutlah berbuka di rumah kami, Nak.”

Farid terdiam beberapa detik. “Tidak usah repot-repot, Pak. Saya biasa beli takjil di depan gang.”

Pak Rahmat tersenyum. “Bukan repot. Istri saya masak lebih banyak hari ini. Terlalu banyak kalau hanya untuk kami berdua.”

Kalimat itu membuat Farid menunduk sebentar. “Kalau begitu … terima kasih banyak, Pak.”

Menjelang magrib, aroma opor ayam memenuhi rumah kecil itu. Bu Sari menata meja makan seperti biasa. Empat piring. Ia berhenti sejenak ketika menyadari kebiasaannya sendiri. Lalu ia menarik napas panjang, membiarkannya tetap begitu. Adzan magrib berkumandang tepat ketika Farid mengetuk pintu.

Bu Sari menyambut dengan senyum hangat. “Masuk, Nak. Sudah azan.”

Farid duduk di salah satu kursi kosong yang biasa ditempati Rian.

“Terima kasih sudah mau datang, Nak.” jawab Bu Sari lembut.

“Saya yang harusnya berterimakasih, Bu. Biasanya saya buka dan sahur sendiri di kos. Berkat Bu Sari dan Pak Rahmat, hari ini rindu saya pada masakan rumahan sedikit terobati.”

Mereka berbuka bersama. Suara sendok kembali terdengar lebih hidup. Farid bercerita tentang kuliahnya, tentang tugas yang menumpuk, tentang ibunya di kampung yang selalu menelepon setiap habis magrib. Farid juga bercerita, kebetulan hari ini gas di kosan habis, jadi belum bisa masak sendiri untuk buka hari ini.

“Biasanya Ibu saya yang cerewet soal sahur,” katanya sambil tersenyum kecil.

Bu Sari mendengarkan dengan mata yang hangat. Ada sesuatu yang mengisi ruang-ruang kosong di dalam dadanya. “Besok pagi, sahur di sini saja, ya, Nak Farid.”

Di dini hari berikutnya, untuk pertama kalinya setelah lama, kursi itu kembali berderit ketika diduduki. Suara kecil yang dulu terasa biasa, kini terasa seperti kabar baik. Bu Sari menyendok nasi ke piring Farid.

“Kalau gas habis lagi, jangan tunggu sampai bau masakan tercium. Datang saja kemari,” katanya bercanda.

Farid tertawa pelan. “Baik, Bu.”

Pak Rahmat menatap meja makan. Senyum tipis terurai dari bibirnya. Masih ada satu kursi kosong. Namun rumah mereka tidak lagi terasa terlalu luas. Kali ini bahkan lebih hangat dengan suara tawa istrinya yang tampak senang dengan kehadiran Farid.

***

Ramadan berlalu cepat. Malam-malam terakhir datang dengan udara yang lebih dingin dan doa-doa yang lebih panjang. Farid masih sering datang untuk sahur dan berbuka di rumah Bu Sari. Hingga hari raya tiba, rumah Bu Sari menjadi tempat pertama yang ia sambangi usai melaksanakan salat ied di masjid.

Harum aroma ketupat dan opor menguar dari dapur sederhana Bu Sari. Farid datang dengan baju koko putih dan senyum yang lebar. Namun, tak bisa dipungkiri, kesedihan itu masih terlihat di kedua matanya. Sama seperti anak-anak Bu Sari dan Pak Rahmat, ia juga belum bisa pulang ke kampung halaman lebaran tahun ini.

“Assalamualaikum. Selamat hari raya idul fitri, Bu Sari, Pak Rahmat.” Farid mencium punggung tangan pasangan itu penuh hormat layaknya pada orangtua sendiri.

Mereka bertiga menikmati ketupat dan sayur opor sambil sesekali melempar candaan. Ruang makan itu kini terasa begitu hangat. Meski anak-anaknya belum kembali, Bu Sari sadar bahwa selama rumah masih ada, Rara dan Rian akan tetap pulang. Jika bukan tahun ini, mungkin tahun depan. Bahkan sangat mungkin, Ramadan berikutnya, rumah mereka akan lebih ramai dan kursi di meja makan juga bertambah. Dengan Rara dan Rian yang sudah pulang, juga Farid, si anak kos sebelah yang sedang merindukan rumah.

Bu Sari menatap kursi yang masih kosong itu sekali lagi. Kali ini ia tidak melihat kehilangan. Ia melihat tempat yang sedang menunggu untuk dipenuhi doa.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak