Aku sering bertanya pada diriku sendiri, seberapa jauh hati manusia bisa diregangkan sebelum benar-benar robek. Pertanyaan itu tidak datang saat aku kuat. Ia datang saat aku duduk sendirian di lantai kamar, memeluk lutut, menatap dinding yang tiba-tiba terasa terlalu dekat, seolah dunia ingin memastikan aku tidak punya ruang untuk lari.
Aku mencintainya lama.
Bukan cinta yang ribut dan penuh bunga, tapi cinta yang diam-diam tumbuh seperti lumut di dinding rumah tua. Barangkali tidak terlihat, tapi melekat. Kami menyusun masa depan seperti anak-anak menyusun lego. Pelan, penuh harap, dan yakin bangunan itu akan berdiri selamanya.
Lalu suatu hari, ia datang membawa kalimat yang mematahkan tulang rusukku dari dalam.
“Maaf. Aku khilaf,” katanya.
Kata itu kecil. Terlalu kecil untuk menampung kehancuran sebesar ini. Aku menunggunya melanjutkan, dan ketika ia mengatakan perempuan lain hamil oleh dirinya,
aku merasa waktu berhenti di satu detik yang kejam.
Aku tidak berteriak.
Tidak menangis.
Tubuhku memilih diam, karena jika aku bergerak sedikit saja, aku takut akan runtuh di tempat.
Kami berpisah seperti dua orang yang sudah kehabisan tenaga untuk bertengkar. Aku pulang membawa tubuh yang masih utuh, tapi hatiku tertinggal di suatu tempat yang tidak pernah bisa kutunjuk di peta.
Kupikir, penderitaan punya ujung. Ternyata tidak.
Ia hanya berganti bentuk.
Beberapa bulan kemudian, ia datang lagi. Bukan sebagai kekasih, bukan juga sebagai lelaki yang kucintai dulu, melainkan sebagai seseorang yang kalah oleh hidupnya sendiri.
“Dia mau melahirkan,” katanya pelan.
“Biayanya… aku nggak cukup.”
Aku menatap wajahnya. Wajah yang dulu kupercaya untuk menjadi rumah. Kini ia hanya tampak seperti bangunan setengah jadi yang ditinggalkan tukangnya.
Aku ingin berkata tidak. Ingin menutup pintu, mengunci luka, dan pura-pura dunia ini adil. Tapi kemudian, bayangan itu muncul. Seorang bayi, datang ke dunia tanpa tahu apa-apa, tanpa meminta siapa pun berdosa atas namanya.
“Berapa?” tanyaku akhirnya.
Kalimat itu meluncur begitu saja, bahkan sebelum hatiku sempat menyetujui.
Aku membantu biaya kelahiran perempuan yang tidak kukenal, untuk anak yang bukan milikku, dari lelaki yang telah mematahkan hidupku.
Aku menatapnya lama. Lama sekali. Sampai aku sadar satu hal. Yang lagi hamil itu bukan dia. Yang akan lahir nanti juga bukan hasil dari kesalahanku. Tapi bayi itu… sama sekali tidak tahu apa-apa.
Aku ulang pelan, “Berapa biayanya?”
Dia melongo.
“Kamu… serius?”
Aku ingin tertawa.
Aku ingin menjerit.
Aku ingin bilang, bukankah kamu sudah mengambil cukup banyak dariku?
Tapi yang keluar justru,
“Berapa?”
Ia terdiam lama. “Kamu nggak harus—”
“Berapa,” ulangku, lebih pelan, lebih tegas.
Kalau kamu baca ini sambil mikir aku bodoh, santai. Aku juga mikir gitu waktu itu. Tapi anehnya, hatiku tenang. Sakit, iya. Tapi tenang.
Aku bukan pahlawan. Aku cuma perempuan yang percaya satu prinsip sederhana. Bayi nggak pernah salah memilih orang tuanya. Dunia sudah cukup kejam tanpa kita nambahin satu dosa lagi dengan membiarkan anak itu tak mendapatkan pertolongan.
Saat aku mentransfer uang itu, tanganku dingin. Bukan karena takut miskin, tapi karena aku sedang menyerahkan sesuatu yang terakhir kupunya.
Hak untuk membenci dengan sepenuh hati.
“Aku nggak bodoh,” kataku waktu itu.
“Bayi itu nggak salah. Jangan bawa-bawa dosa orang dewasa ke tubuh sekecil itu.”
Ia menangis.
Aku tidak.
Malamnya, aku duduk sendiri di kamar.
Lampu kupadamkan. Aku berbicara pada Tuhan tanpa menengadah.
“Ya Allah,” kataku, “kalau ini salah, tegur aku. Tapi kalau ini benar, tolong jangan biarin aku hancur sendirian.”
Lucunya, hidup itu pendengar yang baik. Dia jawab… tapi nggak langsung.
Beberapa bulan setelah itu, ibuku kena stroke ringan.
Aku panik. Nangis. Takut. Rasanya seperti baru disadarin,
“Oh, ternyata aku masih punya hal yang bisa diambil Tuhan.”
Hari-hari di rumah sakit aku jalani dengan doa setengah putus asa. Aku nggak minta keajaiban. Aku cuma minta satu: jangan ambil ibuku sekarang.
Dan pelan-pelan, ibuku membaik. Tangannya mulai kuat. Bicaranya kembali jelas. Dokter bilang pemulihannya cepat. Aneh, kata mereka.
Aku pulang dari rumah sakit dengan kaki gemetar. Di parkiran, aku duduk lama di motor, nangis sendirian.
Bukan nangis sedih. Tapi nangis lega.
Saat itu aku baru mengerti. Balasan Tuhan nggak selalu berupa uang, jodoh, atau hidup mulus. Kadang balasannya adalah “yang paling kamu takut kehilangan, Aku jaga.”
Sejak itu, setiap orang tanya,
“Kok bisa sih kamu seikhlas itu?”
Aku jawab sambil ketawa kecil, “Karena aku tahu, Tuhan nggak pernah tidur.”
Aku nggak bilang prosesnya nggak pedih. Jangan dibayangkan juga, karena kalau dibayangin, bisa ikut trauma. Ada malam-malam aku ngerasa bodoh. Ada pagi-pagi aku marah sama diriku sendiri.
Tapi anehnya, tiap kali aku mau nyesel, aku lihat ibuku tertawa di dapur. Sehat. Hidup. Nyata.
Dan di situ aku belajar satu hal penting. Memaafkan bukan berarti melupakan luka. Memaafkan itu memilih berhenti menambah racun di luka yang sama.
Aku nggak jadi manusia suci. Aku masih bisa kesel. Masih bisa capek. Masih bisa ngomel kalau ada hal yang menjengkelkan. Tapi aku percaya satu hal: kebaikan itu nggak pernah hilang. Dia muter, nyasar, nyempil di tempat yang kita nggak duga.
Jadi kalau hari ini kamu ngerasa diperlakukan tidak adil, dikhianati, diremehkan. Ingat satu hal sederhana ini: Tuhan tidak pernah tidur. Dia cuma lagi nyusun hadiah terbaik dengan detail yang kita belum paham.
Dan kadang, balasan itu datang… dengan ibumu yang sembuh. Dengan napas yang masih bisa kamu dengar setiap pagi. Dengan hidup yang, meski babak belurnya nyata, masih layak diperjuangkan.
Se-pemaaf apa aku?
Cukup pemaaf untuk tidak membenci bayi yang tak bersalah.
Cukup pemaaf untuk percaya bahwa Tuhan lebih teliti dari dendam mana pun.
Terkadang pemaaf dan bodoh mungkin terlihat begitu tipis batasnya. Tapi biarlah jika kebodohan itu yang membimbingku ke arah kedamaian.