Usia kehamilanku menginjak bulan ketujuh ketika mimpi itu datang. Dalam mimpiku, aku duduk di dalam gerbong kereta dengan jendela lebar, meluncur cepat di atas rel yang asing.
Panorama di luar jendela tampak tak masuk akal; bukit berlapis kaca, langit retak berwarna-warni seperti mozaik jendela gereja, dan bulan yang bergerak maju mundur seperti jarum jam rusak.
Di hadapanku, ada seorang pemuda berusia sekitar 20 tahun. Ia menatapku lekat, kedalaman tatapannya seolah sedang mengukur keberanian.
Ada getaran aneh yang merambati dada; bukan sekedar tendangan mungil janin dalam perutku tapi karena sorot matanya menyiratkan kedekatan yang tak bisa kujelaskan.
Segumpal keberanian akhirnya terkumpul, pemuda itu menggerakan bibirnya walau diselimuti keraguan, “Bu,” Suaranya parau dan bergetar, “Aku… anakmu.”
Aku tertawa kecil, gugup. “Lucu sekali. Bayiku bahkan belum lahir.”
“Tentu saja,” jawabnya tenang. “Karena aku datang dari masa depan.”
Emosiku meningkat.
“Lelucon apa ini?” gumamku.
Rasanya aku ingin memakinya tapi sorot matanya adalah replika sempurna mata suamiku—tajam namun teduh; sebuah bukti genetika yang tak bisa dibantah.
Kereta melambat. Ia bersandar sambil menatap jendela. “Aku tak punya banyak waktu. Aku hanya minta satu hal: Tolong… jangan lahirkan aku.”
Darahku seakan berhenti mengalir.
Kereta berhenti di sebuah stasiun ganjil dengan papan nama yang berubah-ubah warna, kombinasi huruf-huruf asing dan orang-orang berwajah samar yang berlalu lalang bersama kabut yang tampak sengaja menyembunyikan identitas mereka.
Sebelum beranjak, ia berkata pelan, “Dunia yang kutinggali adalah rongsokan peradaban; Kelaparan massal, perang besar, udara beracun bahkan radiasi nuklir. Aku tumbuh jadi lelaki pembenci karena kehilangan semua orang yang kucintai, termasuk kau… Bu.”
“Tapi, tapi… kau di sini!” sergahku. “Meski dunia hancur, buktinya kau tetap hidup!”
“Bertahan hidup adalah hukuman terberat. Aku jadi orang yang harus menyaksikan segalanya hancur. Itu bukan anugerah, Itu kutukan.”
Ia menunduk, tangannya bergetar “Aku tidak ingin lahir hanya untuk menderita.”
Janin di dalam perutku menendang keras seakan ikut merasakan kegelisahan ini.
“Jadi kau ingin aku… menggugurkanmu?” tanyaku lirih.
Ia mengangkat kepalanya lalu menatapku dengan mata berkaca-kaca, “Ya.”
Malam berikutnya, mimpi itu berulang. Kereta yang sama, rel yang sama dan pemuda itu. Kadang aku kesulitan membedakan realita atau mimpi; Semua peristiwa terasa nyata.
Setiap sentuhan dan tatapan punya makna. Bahkan aku sampai hapal ciri khas pemuda itu; sapu tangan merah yang dililitkan di pergelangan tangan kirinya. Kadang kereta itu disesaki orang asing, kadang hanya kami berdua. Kadang ia banyak bercerita, kadang hanya duduk diam sambil menatap tangannya sendiri.
Suatu malam, ia menceritakan alur kehidupannya; tentang kelahiran di klinik terpencil, tentang tangis bahagiaku, tentang kematianku hingga pesan terakhirku untuknya agar tetap melanjutkan hidup.
“Kalau aku tak dilahirkan,” ujarnya, “…dunia mungkin akan jauh lebih baik. Waktu akan memilih alur lain dan kau akan tetap hidup.”
Tak terasa air mataku meleleh, “Kau darah dagingku. Kau anugerah yang sangat kunantikan… bahkan cintaku padamu tumbuh jauh sebelum aku tahu wajahmu.”
“Tapi cinta itu akan berubah jadi belenggu yang menyakiti, Bu.”
Di dunia nyata, suamiku menyadari keresahanku. Ia mengusap perutku dengan lembut, “Kenapa akhir-akhir ini kamu sering melamun? Kamu baik-baik saja, ‘kan?”
Aku hanya bisa tersenyum palsu dan bilang padanya, “Aku capek.”
Mimpi itu mulai jadi tamu rutinku. Suatu malam, aku mencoba memberontak, “Kalau kau memang benar dari masa depan, kenapa kau tidak berusaha menghentikan semua kekacauan itu daripada memaksaku untuk menggugurkanmu?”
“Aku sudah mengulang perjalanan ini berkali-kali. Aku sudah mencoba segala cara tapi semuanya sia-sia. Garis waktu selalu menarikku kembali ke sini. Kesimpulannya tetap sama: Aku tidak boleh dilahirkan.”
“Berarti kamu sudah bertemu aku berkali-kali?”
Ia mengangguk. “Tapi kali ini akan kuakhiri. Aku lelah.”
Cintaku terbelah antara naluri Ibu untuk melindungi dan mempertahankan hak seorang anak agar bisa merasakan kehidupan. Bukankah setiap manusia berhak lahir, entah untuk merasakan kebahagiaan atau penderitaan?
Suatu malam aku berkata tegas, “Kalau kau benar-benar anakku, kau tidak bisa memaksaku berhenti mencintaimu. Aku akan tetap melahirkanmu. apa pun yang terjadi!”
Wajahnya pucat. Ia menggenggam tanganku, jemarinya dingin. “Kalau begitu… kau akan mati.”
Aku menatapnya lekat dan dalam, “Mungkin semuanya sudah ditakdirkan tapi jangan rampas kesempatan kita untuk saling mencintai.”
Malam terakhir, kereta berjalan semakin cepat. Rel bergetar, lampu berkedip hingga panorama di luar jendela tampak kabur. Aku merasa tubuhku ditarik dari dua arah: satu ingin berhenti dari mimpi buruk, satunya menantikan jawaban dari peristiwa misterius ini.
Pemuda itu berdiri di tengah lorong kereta, menatapku dari kejauhan. Bak tayangan televisi yang terganggu sinyalnya, wajahnya berubah-ubah; kadang dewasa, remaja, renta, dan bayi mungil yang lucu.
Ia berteriak diiringi gemuruh roda besi, “Ini kesempatan terakhir, Bu. Tetap melahirkan aku dan kau mati atau berhenti di sini dan kau tetap hidup!”
Aku berdiri dengan tubuh gemetar. Air mataku luruh, “Aku pilih… mencintaimu,” ucapku sesenggukan.
Cahaya putih menyilaukan menelan segalanya lalu gelap. Senyap.
Aku terbangun dengan nafas tersengal dan peluh yang membanjir. Terdengar sayup, suara orang bersahutan. Kukenali satu suara bernada panik, suamiku ada di samping ranjang yang bergerak cepat, mengenggam tanganku dengan penuh rasa cemas.
Ia bilang, aku tadi pingsan dan sempat meracau seperti orang mimpi buruk. Kuusap perutku, ada gerakan kecil di dalam sana. Keputusanku sudah bulat.
Hari kelahiran tiba. Aku menyambutnya dengan penuh rasa haru dan bahagia. Tangisku bersahutan dengan tangisan bayi kecil yang baru saja menghirup udara dunia.
Tubuh mungilnya basah, merah dan matanya terpejam. Saat bidan menaruhnya di dadaku, aku mengecup ubun-ubunnya. Seraya berbisik pelan, “Jika dunia hancur, kita akan menghadapinya bersama. Jika aku mati maka aku akan mati bersama cinta. Selamat datang, Nak.”
Bayi itu menggeliat lalu menangis histeris. Dari matanya—meski buram—aku merasa melihat seberkas cahaya yang berbeda dari sosok pemuda dalam mimpiku.
Sembilan hari setelah kelahiran, saat aku hendak membaringkannya di tempat tidur terdengar dentuman keras dari luar rumah. Kaca jendela pecah berhamburan, suamiku bergegas keluar menengok keadaan.
Ia kembali dengan wajah pucat; tersiar kabar reaktor nuklir di pinggiran kota meledak dan terbakar hebat. Muncul isu kalau radiasinya bakal menyebar sampai kawasan perumahan ini. Aku mendekap bayiku erat.
Di kejauhan, langit berubah warna seperti langit retak dalam mimpi-mimpiku yang lalu. Pemuda itu benar; Masa depan tidak sedang menunggu, ia baru saja tiba di depan pintu.