“Wan, kenapa sih kamu suka menggambar rumah?” ujar temannya.
Iwan menatap balik lalu tersenyum. Buat Iwan menggambar rumah adalah upaya menjaga nyala mimpi. Mimpi jadi pembuat rumah alias arsitek yang suatu saat kelak akan diwujudkannya.
***
Iwan kecil tidak pernah menghitung luas kontrakan mereka dalam satuan meter persegi, melainkan dalam jumlah langkah kaki; tiga langkah dari tempat tidur ke dapur atau dua langkah lagi ke kamar mandi yang engsel pintunya mau copot. Di sudut ruangan yang pengap itu, Iwan kecil adalah seorang pendekar tanpa pedang dan kuda putih. Senjata pamungkasnya hanyalah gunting tumpul dan tumpukan koran bekas yang ia pungut dari lapak loak di pinggir pasar.
Selain menggambar rumah, hobi Iwan lainnya adalah mengkliping. Ia gemar menyusuri lapak buku bekas untuk berburu koran atau majalah arsitektur, baik nasional maupun internasional. Mata Iwan semakin berbinar jika bisa menemukan desain rumah modern yang luas.
"Suatu hari, kita nggak perlu miring-miring kalau papasan di pintu," gumam Iwan sambil menempelkan kliping gambar rumah bergaya modern minimalis dari majalah usang ke dinding tripleknya.
Ayahnya, yang baru pulang menarik ojek, hanya tersenyum getir sambil melepas sepatu bututnya. Kegaduhan kakak-kakaknya kerap mewarnai kontrakan sumpek itu; mulai dari rebutan remote TV sampai berkompetisi jadi pengendali tunggal satu-satunya kipas angin yang berputar malas. Di sini, privasi adalah barang mewah yang tak terbeli. Iwan harus meringkuk di bawah meja untuk bisa menggambar dengan aman tanpa diganggu adiknya. Namun, di tengah aroma jelantah dan keringat itu, mimpi Iwan tumbuh raksasa. Ia terobsesi pada "rumah". Ia sering membayangkan sebuah rumah di mana suara tawa tidak perlu berkelahi dengan suara TV, dan setiap orang memiliki ruang pribadi untuk beraktivitas tanpa gangguan.
***
Dua puluh tujuh tahun kemudian, nama Iwan terukir di plakat tembaga di depan biro arsitek ternama di London. Ia berhasil mewujudkan cita-cita masa kecilnya menjadi pembuat rumah. Karyanya dikenal karena kemampuannya menciptakan ruang yang luas, bersih, dan nyaris tanpa sekat. Obsesi masa kecil mengantarnya jadi sosok dengan karier internasional yang cemerlang.
Masterpiece-nya adalah saat ia membangun "Sanctuary"—sebuah rumah tinggal di pinggiran ibu kota untuk dirinya dan keluarga besarnya. Rumah itu adalah perwujudan sempurna dari koleksi kliping dan coretan crayon lamanya. Dinding smart home ini didominasi kaca setinggi lima meter, lantai marmer Italia yang dingin, dan sebuah taman mungil di tengah rumah yang mempersilahkan cahaya matahari masuk dengan sopan ke ruang tamu.
Iwan memboyong Ibu dan saudara-saudaranya ke rumah itu. Ia menghadiahkan mereka kamar privat dengan fitur lengkap. Di sini, kebiasaan ‘unik’ di kontrakan raib; Tak ada lagi antrean mandi pagi, tumpukan piring kotor di meja makan yang sempit, bahkan ritual ‘badan miring’ saat papasan di pintu. Iwan merasa telah memenangkan pertarungan melawan kemiskinan dan kesempitan. Ia berhasil membangun "rumah" yang sesungguhnya.
***
Namun, setelah sebulan mereka menempati rumah itu. Kesunyian yang aneh mulai merayap.
Malam itu, Iwan berdiri di balkon lantai dua. Rumah itu begitu luas sehingga ia tidak bisa mendengar suara ibunya yang sedang memasak di bawah, tidak ada lagi keriuhan kakak-kakaknya. Karena mereka sudah punya kesibukan di kamarnya masing-masing. Rumah itu begitu kedap suara, begitu teratur, dan begitu... senyap.
Ia turun ke bawah, melewati lorong panjang yang diterangi lampu dengan fitur voice command menuju ruang keluarga. Ia menemukan Ibunya duduk sendirian di ruang tamu yang megah, tampak kecil dan tersesat di atas sofa yang mahal. Ibunya memegang remote TV, tapi tidak menyalakannya. Ia termenung.
"Kenapa, Bu?" tanya Iwan, duduk di sampingnya. Jarak antara mereka di sofa itu terasa seperti bermil-mil jauhnya.
"Rumah ini bagus, Wan. Bagus banget," jawab ibunya pelan. "Tapi, Ibu kangen suasana di kontrakan dulu. Ibu kangen suasana makan bareng di meja kita yang sempit. Apalagi sejak Bapakmu meninggal, saudaramu punya kesibukan sendiri-sendiri. Rumah jadi makin sepi.”
Iwan mendengarkan cerita Ibunya, sesekali menghela napas panjang. “Sekarang kita semua kayak tinggal di tempat yang berbeda, meski ada di bawah atap yang sama."
Iwan terpaku. Ia menyadari satu hal yang luput dari desainnya yang sering memenangkan penghargaan internasional: kedekatan. Di kontrakan yang sumpek itu, mereka dipaksa untuk bersentuhan, dipaksa untuk bicara, dan dipaksa untuk saling peduli karena ruang yang terbatas. Di rumah mewah ini, kemandirian melahirkan individualisme. Di ruangan masing-masing, semua anggota keluarga tercukupi kebutuhannya, hal itulah yang secara tidak sengaja memutus urat nadi kebersamaan mereka.
Iwan menatap kumpulan kliping dan gambar rumah yang telah dibingkai rapi di ruang kerjanya. Gambar rumah luas itu kini tampak seperti sebuah ironi. Ia berhasil membangun gedung megah, namun ia kehilangan "rumah" yang selama ini ia rindukan di dalam keramaian yang sumpek.
Ternyata, rumah bukan hanya tentang seberapa luas ruangannya, melainkan tentang seberapa sering penghuninya saling bertemu dan bertukar cerita. Malam itu, untuk pertama kalinya, Iwan tidak tidur di kamarnya. Ia memutuskan untuk tidur di lantai ruang tamu, berharap kakak atau adiknya lewat dan menendang kakinya dengan tidak sengaja—seperti dulu.
SELESAI