Kancing Longgar di Mantel Biru Dongker

Hayuning Ratri Hapsari | A. G. Tama
Kancing Longgar di Mantel Biru Dongker
Ilustrasi Kancing Longgar di Mantel Biru Dongker (ChatGPT)

Di rimba beton yang menjulang menantang awan, senja selalu tampak seperti luka yang belum kering---merah, lembap lalu perlahan menggelap. Bagi Asta, ini bukan tanda pergantian waktu tapi alarm peringatan akan suatu kegagalan. Genap seribu hari, Elora, istrinya terbaring di rumah sakit dengan kabel-kabel yang menjalari tubuhnya bagai akar pohon tua. Semuanya karena kecelakaan di persimpangan itu.

Asta mendengar rumor yang beredar di kalangan orang-orang putus asa, ada kedai kopi yang menyediakan tempat bagi orang-orang yang sesak akan masa lalu. Lokasinya ada di sebuah gang yang dihimpit dua gedung tinggi. Gang sumpek dan becek ini biasanya dipenuhi tumpukan kardus bekas, perkakas rusak dan timbunan sampah yang dikerubungi lalat. Namun, saat ufuk bersemburat jingga darah, kedai itu muncul. Namanya Sandyakala; aroma kopi pekat mampu membujuk setiap jiwa untuk merapat.

Asta masuk. Bunyi lonceng yang menggantung di dekat pintu kedai memecah keheningan. Di balik meja bar, seorang pria tua dengan apron kulit sedang membersihkan cangkir porselen. Walau keriput menghiasi tangannya, gerakannya tetap presisi. Asta berdiri membeku, kegamangan menghinggapinya.

“Semua orang yang datang kemari, tahu konsekuensinya,” suara parau pria tua itu adalah gerbang pembuka percakapan. Asta mengangguk canggung.

“Silakan duduk.” Asta mendaratkan tubuhnya di atas kursi dengan gugup.

“Satu penyesalan, satu cangkir,” lanjutnya.

Tangan Asta gemetar. Ia meraba sebuah benda kecil di saku celananya.

“Harga untuk mengulang waktu adalah eksistensimu di ingatan orang yang paling kau cintai.”

Asta menelan ludah. Wajah istrinya melintas, senyumnya, aroma parfum melatinya, dan ritual pagi saat mengecek kerapian suaminya sebelum berangkat kerja. Namun, ingatan itu kini pahit sejak Elora menginap di rumah sakit hingga waktu yang belum bisa dipastikan.

Pria tua itu mulai menyeduh kopi dengan sebuah teko tembaga tua, “Apa yang ingin kau ubah?”

Saat cairan hitam pekat mulai bercampur, kepulan asapnya membentuk pola-pola aneh di udara, aroma kopinya siap menyambut jiwa-jiwa putus asa.

Asta merogoh sakunya, ia keluarkan kancing plastik berwarna biru dongker. Kancing itu punya benang-benang halus menjuntai seolah baru saja ditarik paksa dari tempatnya. Sebuah kancing kecil yang jadi simbol kegagalan besar dalam hidupnya.

“Jika suatu peristiwa berhasil diubah, kau akan dilupakan. Selamanya,” Asta beradu mata dengan pria tua itu. “Paham?” sambungnya.

Asta menggenggam erat kancing itu, ia mengangguk pelan walau dalam hatinya dijejali keraguan.

“Pagi itu, 6 Juni.” Asta memulai. “Aku telat menghadiri suatu acara tapi istriku malah sibuk dengan urusan kancing longgar di mantelku. “Kita sudah terlambat!” Aku menyentaknya, kancing itu jatuh lalu kita masuk mobil dengan amarah,”

Asta menghela napas panjang, “Aku menyetir dengan liar. Ketika sampai di persimpangan jalan, tiba-tiba sebuah truk yang remnya blong menghantam pintu penumpang. Jika saja aku punya waktu lebih banyak untuk sebuah kancing, semuanya takkan terjadi.”

Pria tua itu menyodorkan secangkir kopi panas. Asta meminumnya, rasanya tidak seperti kopi melainkan seperti menelan waktu; dingin, lalu panas membakar kemudian hampa. Pandangan Asta kabur. Dunia berputar.

“Mas.” suara lembut yang akrab mengalihkan lamunannya. Cahaya matahari pagi menyelinap lewat sela-sela teralis. Asta terpaku di ambang pintu, jantungnya berdegup kencang. Elora berdiri di depannya, segar dan cantik.

“Kancingmu mau lepas, nih. Kujahit sebentar ya.”

Asta menatap Elora tanpa berkedip, istrinya salah tingkah. Kali ini, ia tak membiarkan emosinya menang, Asta tak ingin membuat kesalahan lagi. Ia tersenyum namun hatinya menangis. Tanpa sadar matanya berkaca-kaca. Dengan sabar, ia biarkan Elora menjahit kancing di mantelnya sampai selesai.

“Dah!”

Saat mereka akhirnya berangkat, Asta mengemudi dengan santai walau ia sadar sudah telat lebih dari dua puluh menit. Ketika sampai di persimpangan, mereka menyaksikan peristiwa mengerikan; sebuah truk baru saja menghantam mobil dan warung. Asta merinding. Sampai di situ beberapa detik lebih awal, bisa jadi mereka korbannya. Kecelakaan itu tetap terjadi, tapi ia dan Elora selamat.

Asta merasa tenggorokannya perih seperti sedang menelan bola duri dalam jumlah banyak. Dunia berputar lagi. Dalam sekejap, tubuhnya sudah berada di gang kumuh itu lagi. Kedainya hilang tapi pria tua itu masih di sana seakan menunggu Asta kembali. Tatapannya lekat dan sulit diartikan.

“Terima kasih. Kami selamat dari kecelakaan itu.” Asta ingin berjabat tangan tapi pria tua itu acuh.

“Tidak ada yang benar-benar gratis di Sandyakala.”

“Maksudnya?” tanya Asta, merasa ada yang aneh.

“Kau tidak datang ke sini secara kebetulan. Kau ada di sini karena sudah ‘dipesan’ sejak lama.” Asta semakin bingung.

Pria tua itu mengeluarkan sebuah buku catatan kusam dari kantong apronnya. Ia membuka sebuah halaman yang tertulis nama Marni, ibu Asta. Ia membacakan sebuah klausul perjanjian.

“Empat puluh tahun lalu, ibumu ke sini.” Asta tersentak. “Ibumu datang dengan keputusasaan. Ia sendirian dan kau sekarat. Ibumu tidak punya apa-apa untuk ditukar. Sebagai gantinya, ia menukar ‘Memori atas Asta.’ Ia memilih melupakan segala hal tentang dirimu agar nyawamu bisa diselamatkan.”

Asta terperangah. Seonggok memori masa kecil mengunjunginya; tentang ibu yang menganggapnya anak pungut, sikap ibu yang dingin bahkan sampai meninggal ia tidak pernah mau menyebut namanya.

“Ibumu membayar ‘uang muka’ untuk hidupmu,” lanjut pria tua itu. “Tapi hukum keseimbangan tetap berlaku. Hidup yang dibeli dengan memori tidak akan pernah utuh. Kau adalah ‘anak yang dipinjam’ dari kematian. Kau pikir ‘benang merah’ itu tidak ada artinya?”

Seberkas memori Elora dari alur waktu yang telah diubah muncul, “Ini satu-satunya benang yang kutemukan, Mas. Lagipula pakai benang merah di kain biru itu unik, kan? Itu semacam penanda kalau kamu itu milikku.” Bayangan Elora sedang tersenyum memudar.

Asta meraba kancing mantelnya. Terjahit kuat dengan benang merah ganda.

Pria tua itu melanjutkan ceritanya, “Benang merah itu artinya ‘Benang Pengikat Takdir’,” Asta tertunduk lesu.

“Menjadi karyawan Sandyakala bukanlah sebuah pekerjaan, ini adalah masa hukuman. Aku ada di sini sejak menukar nyawa putriku ratusan tahun lalu. Agar bisa bebas, aku butuh seseorang yang punya ‘utang eksistensi’ sama beratnya denganku. Seseorang yang hidupnya diselamatkan dengan transaksi memori.”

Pria tua itu selesai melipat apron, ia letakkan di atas tumpukan kayu yang didudukinya, “Istrimu menjahit kancing dengan benang merah bukan tanpa alasan. Ia tidak hanya menyelamatkanmu tapi dia juga ‘menjahit’ namamu ke dalam daftar inventaris kedai ini. Ia merelakanmu sebagai pengganti diriku.”

Asta balik badan, ia berlari menjauhi gang setelah pria tua itu menyimpan buku kecilnya. Ia terus berlari menuju rumahnya, berharap semua cerita itu suatu kebohongan. Sesampainya di rumah, Asta melihat Elora sedang menyiram tanaman di teras.

“El!” serunya.

Elora menoleh. Tidak ada keakraban memancar dari sorot matanya, persis seperti perjanjian itu. Tapi ada yang lebih menyakitkan, Asta sempat melihat refleksi wajahnya di jendela; wajahnya menua dengan cepat, kulitnya keriput, matanya memutih seperti susu, dan pakaiannya telah berganti seperti pria tua itu lengkap dengan apron. Bedanya, apron Asta punya aksen kancing plastik biru dongker yang dijahit dengan benang merah ganda.

Asta mulai menyadari hal kecil yang mengubah bukan hanya soal kancing. Keputusannya mengubah masa lalu juga berdampak pada stabilitas semesta. Karena sekecil apapun peristiwa yang terjadi di masa lalu akan membentuk jalan hidup seseorang di masa kini.

Ketika matahari nyaris tenggelam, gang sempit itu memanggilnya kembali. Asta kini resmi menjadi bagian dari kedai kopi Sandyakala. Ia ambil cangkir porselen lalu mulai mengelapnya. Saat gelap menyelimuti, aroma kopi hitam mulai menguar. Asta akan menyeduh kopi sambil mendengarkan pelanggan berikutnya menceritakan penyesalan-penyesalan mereka.

TAMAT

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak