Adarusa (a.da.ru.sa): Orang yang meminjam sesuatu (tentang uang atau barang), tetapi tidak ada kemauan untuk mengembalikan uang/barang tersebut.
***
Lelaki itu selalu kehilangan sesuatu setelah terlelap. Bukan sekadar kehilangan biasa, melainkan lenyap tanpa sisa. Bermula dari hal-hal remeh, seperti pensil yang belum diraut, sepasang kaus kaki, jaket, dan masih banyak lagi lainnya. Lambat laun, barang-barang berharga ikut lenyap, mulai dari arloji hadiah dari istrinya yang telah meninggal, cincin peninggalan sang ibu yang dijadikan maskawin, hingga buku berisi kumpulan surat cinta dan doa kepada kekasihnya yang tak pernah dikirim. Saat bangun, ada satu hal yang selalu ia ingat: barang-barang itu ia serahkan secara sukarela kepada seseorang yang menemuinya… di dalam mimpi.
Siklus mimpi peminjaman ini terjadi berulang kali. Setiap kali ia tertidur, sosok yang berniat meminjam barangnya datang. Semula ia anggap sekadar bunga tidur yang akan dilupakan ketika terbangun. Namun, anggapan itu sirna ketika mimpi aneh ini berubah menjadi rutinitas. Lelaki ini akhirnya tidak bisa fokus beraktivitas dan hanya menghabiskan waktunya demi mencemaskan barang apalagi yang bakal hilang setelah ia tidur.
Wujud Sang Peminjam bermacam-macam, mulai dari anak kecil usia 12 tahun, perempuan cantik bergaun merah, nenek tua memakai kebaya hijau, sampai lelaki berbadan gempal dengan tubuh penuh tato. Dari sekian banyak penampakan, ada satu hal menarik yang menjadi ciri khas semua karakter peminjam: mereka menyelipkan sapu tangan merah di tempat yang mudah terlihat. Kadang diselipkan di saku kiri belakang celana, menyembul dari dalam stagen, diikatkan pada pergelangan tangan, bahkan melilitkannya di kepala.
Lorong Tak Berujung

Malam berganti malam, sang lelaki mulai resah. Ia bertanya dalam hati, akan bertemu peminjam seperti apa lagi? Saat mata mulai berat dan gerbang mimpi perlahan terbuka, lelaki itu bersiap menyambut kedatangan mereka. Ada satu hal lagi yang menjadi ciri khas karakter para peminjam: mereka selalu mengucapkan kalimat yang sama,
“Cuma pinjam sebentar, nanti dikembalikan.”
Tetapi tak pernah ada yang kembali. Satu pun.
Pada suatu malam yang lebih panjang daripada sebelumnya, sang lelaki sedang menjelajahi lorong tak berujung yang dipenuhi deretan pintu. Dari setiap pintu keluar sosok peminjam yang berbaris dengan tangan terjulur. Mulut mereka komat-kamit seperti merapal mantra, tetapi ia tidak bisa mendengar suaranya. Namun, saat diperhatikan gerakan mulutnya, terdengar suara mereka menyatu seperti gemuruh paduan suara di depan altar,
“Pinjam. Aku pinjam. Pinjam. Aku pinjam.”
Keanehan lain yang membuat sang lelaki bergidik adalah wajah para peminjam itu begitu akrab, membuatnya merasa seperti sedang bercermin. Saat ia berhadapan dengan salah satu dari mereka, ia merasa seperti melihat dirinya sendiri dari sudut yang berbeda. Benar saja, lelaki itu akhirnya sadar ternyata para peminjam yang selama ini ditemui adalah kembaran dirinya yang tampil dalam beragam wujud, usia, dan jenis kelamin. Lelaki itu melihat kembaran dirinya terpecah menjadi puluhan, ribuan, jutaan, bahkan tak terhingga. Mereka memiliki alur kehidupan pribadi dari barang-barang yang selama ini mereka pinjam.
Di tengah kekacauan yang semakin mengancam, ia mempercepat langkah, bahkan mulai berlari melewati para peminjam sambil berharap di ujung sana ada pintu keluar. Akhirnya, ia menemukan sebuah pintu tepat di ujung lorong. Tanpa banyak pikir, lelaki itu membuka pintunya dan dalam sekejap seberkas sinar menyilaukan menyergapnya. Sang lelaki terduduk bersimpuh dengan lengan kiri menutupi matanya yang buta sesaat. Saat penglihatannya berangsur pulih, matanya menangkap barisan rak panjang penuh barang-barang yang tersusun rapi.
Gudang Ingatan

Ia mengenali setiap bentuk yang lekat dalam hidupnya: sepeda roda tiga yang dinaikinya saat berusia tiga tahun, topi merah yang sering dipakai waktu SD, kemeja flanel favoritnya saat kuliah, sneakers yang dipakai saat kencan pertama, hingga sapu tangan merah yang ia dapatkan dari seorang perempuan yang ia sebut sebagai cinta pertamanya. Sang lelaki mendekati salah satu rak di mana terdapat benda yang memiliki kenangan emosional paling tinggi: cincin peninggalan ibu yang dijadikannya sebagai maskawin.
Ia menyematkan cincin itu di jari manis sebelah kiri. Seketika itu juga, tsunami memori membanjiri setiap urat saraf di dalam otaknya: hari pertama bertemu calon istrinya di kereta, hari pernikahan mereka, momen memilukan saat istrinya keguguran, hingga malam terakhir saat ia menemani sang istri sebelum meninggal. Namun, saat lelaki itu sedang memproses semua kenangan manis nan menyakitkan itu, muncul suara gaib yang mengejutkannya,
“Ambil semua barangmu dan kau akan lenyap dari semesta ini. Tidak akan ada versi dirimu yang tersisa dan semesta akan tetap seimbang tanpa kehadiranmu. Atau, relakan barangmu dipinjam dan kau bisa tetap hidup normal tanpa kenangan berharga sama sekali.”
Ia berdiri gamang, tubuhnya berguncang. Barang-barang itu bukan sekadar benda tanpa nyawa; semua benda adalah kenangan, setiap detail adalah kepingan identitas. Mereka adalah pilar ingatan yang membentuk dirinya selama ini. Tetapi, jika ia nekat mengambil semuanya, dirinya akan hilang, lenyap dari semesta, senyap dari alam mimpi, raib tanpa nama. Tidak di sini, tidak di mana pun. Selamanya.
Cincin itu masih melekat di jarinya yang bergetar. Ia membayangkan genggaman sang ibu saat menuntunnya berjalan untuk pertama kali. Tanpa disadari, air matanya menetes. Sang lelaki sadar: cinta ibu tidak berbentuk cincin. Ingatan akan cinta tidak berwujud arloji, dan doa-doa tidak tinggal dalam catatan. Ia tak perlu mengorbankan hidupnya demi sebuah benda karena memori itu ada di suatu tempat yang tak bisa dijangkau, tidak bisa diraih, bahkan dipinjam siapa pun.
Dengan berat hati, ia letakkan lagi cincin itu lalu mundur perlahan. Cahaya dalam ruangan itu meredup, sayup-sayup terdengar suara pintu menutup pelan. Seperti nyala bohlam kehilangan daya, para peminjam mulai meninggalkan barang-barangnya, gema suaranya berangsur menghilang, sosok mereka memudar lalu padam.
Kehampaan yang Membebaskan

Sang lelaki terbangun dengan tubuh lemas seperti baru saja melewati malam panjang tanpa istirahat yang cukup. Dunia masih berputar dan ia masih bernapas. Hanya saja, kamarnya kosong. Tak ada barang-barang, tak ada hiasan, hanya ranjang dan kasur, dinding yang pucat, nyala bohlam yang sendu, dan dirinya. Seolah-olah hidupnya baru saja dicerabut dari segala kenangan. Untuk sesaat, bahkan ia merasa bayangannya hampir tak ada. Namun, dari kehampaan ini muncul sesuatu yang ganjil: sebuah kebebasan.
Walau sedikit demi sedikit ia merasa kehilangan dirinya sendiri, inilah pilihan yang telah diputuskan. Sebab, setiap kali barang-barangnya lenyap, seakan satu garis kehidupan ikut musnah. Kini, hanya ada dirinya tanpa barang-barang dan tidak ada lagi yang bisa dipinjam.
Nama lelaki itu Dio. Ia adalah kembaranku yang menjalani siklus peminjaman demi keseimbangan semesta paralel. Sedangkan aku adalah Prima-Dio atau Sang Adarusa yang telah menyelesaikan alur kehidupan dalam siklus peminjaman. Sebagai Adarusa, aku tidak berkewajiban mengembalikan barang yang kupinjam karena barang-barang yang telah dipinjam harus ikut berputar dalam siklus peminjaman bersama kembaran masing-masing manusia yang hidup dalam semesta ini.
Sebagai individu yang telah terbebas dari siklus itu, aku kini berperan sebagai agen pengawas yang bertugas memastikan kembaranku tidak merusak keseimbangan semesta dengan melanggar aturan yang telah ditetapkan. Salah satu aturan yang sering dilanggar adalah menolak meminjamkan barang pada kembaran dirinya yang datang melalui alam mimpi.
Sampai hari ini, Dio tak berani lagi tidur pulas. Siklus peminjaman akan terus berputar dan dalam setiap mimpi berarti kehilangan. Ngerinya lagi, kini Dio menghadapi ancaman yang jauh lebih serius. Ia takut jika suatu saat nanti yang dipinjam bukan lagi barang, melainkan jiwanya.
TAMAT